Man and his Passion

Maxim (Indonesia) - - Business -

Teriknya matahari siang itu membuat kami berteduh di bawah pohon rindang sembari berbincang mengenai banyak hal. Kami awali dengan kesibukan Coki (panggilan akrabnya) belakangan ini. Selain rilis album baru bersama NTRL yang dibarengi dengan bisnis merchandise dari band tersebut, dia ternyata juga memiliki solo project— instrumental dengan sentuhan yang cukup berbeda. Rencananya akan segera dikeluarkan karena menurut Coki sudah cukup lama dia memendam hasrat solo project ini. Bicara mengenai musik, yang bisa dikatakan hampir menjadi bagian hidup Coki seutuhnya (selain istri dan motor besarnya), kami menengok kembali perjalanan awal dirinya mengenal musik. Se-perti pada umumnya, lingkungan keluarga membentuk apa yang ada di dalamnya. Coki tumbuh di keluarga yang sangat akrab dengan dunia musik, dia mengaku apa yang diperdengarkan oleh kedua orang tuanya saat usia belia sangat memberi dampak pada dirinya. “Lingkungan di rumah gua sangat musikal, dari bokap-nyokap yang suka muterin Deep Purple, Queen, Judas Priest, Janis Joplin, sampe om-tante gua yang tiap sore nge- jam bareng maen gitar sambil nyanyi, ya semacam itu, gua mulai tertarik maen gitar dari mereka,” ungkap Coki. Ketertarikan pada gitar tersebut akhirnya membuat Coki yang saat itu masih duduk di bangku SMP berguru pada seorang gitaris di kota Bogor. Tak sampai di situ saja, pada tahun 1997 dia kemudian memutuskan untuk melanjutkan studi musiknya ke negeri Paman Sam. Namun krisis moneter yang melanda Indonesia saat itu memaksanya pulang. Keputusannya untuk terjun di dunia musik secara total pun sebenarnya sudah diambil sejak menginjak usia remaja, “Waktu itu gua mau masuk SMA dan gua putuskan kalo gua nanti nggak mau kerja ‘kantoran’, gua cuma mau jadi musisi, haha..” Meski lingkungan keluarganya sangat musikal, keputusan Coki tersebut bukan tak mendapat halangan dari orang tuanya. Sempat ada ketegangan tentang keputusannya tersebut, karena dia tak mau melanjutkan ke sekolah formal yang lazim pada jaman itu. Nampaknya tak ada yang bisa menghalangi hasrat Coki untuk total bermusik, sampai ak-hirnya dia bisa membuktikan hasilnya. Ketertarikan yang begitu besar saat dia masih muda ini didasari oleh gemerlap gaya hidup rock star saat itu. “Sex, drugs, and rock n’ roll waktu itu jadi semacam mimpi dalam bermusik. Kiblat musik waktu itu tentu ke dunia barat, ya walaupun pada kenyataannya gaya hidup gua waktu itu tetap jauh beda dari rock star di barat.” Memang sangat menggiurkan dan tak bisa disangkal kebanyakan musisi pada jaman itu mengarah kepada gaya hidup yang lekat dengan kebebasan (mungkin masih sampai sekarang). Seiring bertambahnya usia dan asam garam dalam dunia musik, Coki pun kini melihat dirinya sudah lebih berbeda dalam berkarya. Fase puber itu telah dia lewati dan kini dia hanya ingin murni bermain musik tanpa harus banyak memikirkan “bumbu-bumbu” lain. Menyoal bumbu lain yang terkait dengan industri, perbincangan kami pun kemudian beralih tentang bagaimana Coki telah melalui dua jaman, yaitu rilis fisik dan digital. Sebebas atau semurni apapun Coki kini bermusik, dia sebenarnya masih memikirkan bagaimana cara menjual musiknya. Menurutnya perubahan bukan menjadi hambatan, yang terpenting adalah tetap berkarya, sejauh karyanya berkualitas, otomatis pasar akan datang dengan sendirinya. Apapun caranya, tak menjadi soal jika memang harus menjualnya door to door, karena kini dengan sekali klik orang bisa mendapatkan satu album (bayar maupun tidak). Coki berharap demam nostalgia untuk kembali merilis kaset atau vinyl tak hanya berhenti menjadi tren belaka. Upaya positif semacam ini harus terus berkelanjutan. Tak perlu merasa pesimis dengan kondisi industri musik yang naik turun. Carut marut ini pun sebenarnya juga tak lepas dari oknum penegak yang tak bisa sepenuhnya menjalankan undang-undang yang sudah ada. Musisi sudah banyak membayar pajak namun tak ada timbal balik berupa fasilitas yang mumpuni dari pemerintah. Apresiasi secara finansial dari pemerintah masih berupa harapan semu. Di luar itu, satu kunci utama yang ditekankan Coki adalah passion, itu yang tak bisa terganti dan ditukar dengan materi, “Di atas panggung dengan passion yang maksimal, ada semacam magis atau energi luar biasa yang gua rasain, apalagi pas semua personil lagi ‘into it’, itu bakal keluar, gua nggak tau itu apa yang jelas kepuasan yang nggak bisa dibeli,” jelas Coki. Berbagai keluhan tentang industri seolah tak berujung untuk dibahas, kami pun kemudian mengganti topik perbincangan soal motor Harley Davidson FXRD ‘86 yang diparkir di samping kami. Motor pun sudah menjadi hasrat lain bagi Coki sejak lama, memiliki motor besar sendiri juga membutuhkan proses. Pada dasarnya Coki adalah seorang penggemar kendaraan roda dua apapun bentuknya, dia mengawali ketertarikannya bahkan dari sepeda biasa hingga akhirnya memiliki motor besar. Dia mengaku keputusan untuk bermain motor besar akibat racun dari komunitas Black Angels (sekarang dia menjadi salah satu anggotanya). Menurutnya, komunitas ini tak sebatas menggemari namun juga memahami seluk beluk Harley Davidson, itu yang membuatnya semakin tertarik. Coki kemudian sedikit menjelaskan mengenai sejarah motor kesayangannya tersebut. Akibat invasi motor besar pabrikan Jepang di Amerika tahun 80-an, Harley Davidson kemudian membuat seri FXR yang sedikit terkena pengaruh Jepang dari bentuk rangkanya. Bagi Coki mengendarai motor memiliki kepuasan tersendiri, cukup berbeda dari puasnya mencabik gitar di atas panggung. “Riding buat gua jadi semacam meditasi, ke luar kota berjam-jam, cuma lo, motor lo, dan jalanan. Itu bisa jadi me time yang berkualitas,” ungkapnya. Matahari semakin terik dan kami tak bisa terlalu lama berteduh, tenggorokan pun terasa kering. Kami putuskan untuk mengakhiri perbincangan dan mencari segelas soda dingin.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.