INDRO WARKOP

Salah satu legenda dunia komedi Tanah Air berbicara panjang tentang perjalanan kariernya hingga menuntaskan dan menjaga misinya bersama Warkop DKI.

Maxim (Indonesia) - - Table OF Contents - teks wahyu kurniawan fotografi adi setyo

Siapa sih yang nggak tahu grup lawak Warkop DKI? Sepertinya hampir tiap bulan film-film yang mereka bintangi selalu diputar di stasiun televisi swasta, apalagi menjelang hari libur, intensitasnya semakin tinggi. Celotehan dan lawakan mereka terekam dalam ingatan, tak pernah mati. Dari lima personel Dono, Kasino, Indro, Nanu, Rudi Badil, hanya Indro seorang yang kini tersisa. Dan, MAXIM sangat senang dapat berkesempatan berbincang dengan pemilik nama lengkap Indrodjojo Kusumonegoro ini, personel termuda yang menjadi saksi sejarah tidak hanya bagi grup lawaknya, tapi juga perjalanan panjang dunia komedi di Tanah Air ini. Berbicara tentang perjalanan kariernya, Indro yang lahir pada 8 Mei 1958, mengajak kita untuk kilas balik saat acara ‘Obrolan Santai di Warung Kopi’ yang disiarkan Prambors menjadi cikal bakal dari grup lawak tersebut. Acara itu sudah ada sebelum Indro resmi bergabung di tahun 1976. Dono, Kasino, Nanu dan Rudi Badil adalah punggawa dari acara itu. Eksistensi Warkop sebagai grup lawak semakin bersinar, tawaran manggung kian ramai, hingga akhirnya membawa mereka ke tahapan yang lebih serius, bermain film. Ini artinya mereka sudah harus menatap masa depan tidak lagi menjadi grup lawak yang seadanya, tapi profesionalitas sudah harus mereka usung di grup ini. Sebenarnya, sebelum ada tawaran film itu, Indro cukup gusar akan masa depannya kariernya. Indro kala itu ingin sekali melanjutkan ke jenjang pendidikan AKABRI, bahkan ia sudah mengikuti tahapan tes yang hasilnya sangat memuaskan. Namun sayang, keinginan kuatnya harus pupus seiring wasiat almarhum sang ayah yang tak menghendaki dirinya terjun ke dunia militer. “Jadi ibu saya yang memberitahukan, kalau almarhum bapak sebenarnya nggak menghendaki saya ke dunia militer. Saya pun akhirnya didaftarkan di Univeristas Pancasila oleh ibu,” kenang Indro tentang pendidikannya saat itu. Untuk diketahui, ayah Indro wafat saat usianya 9 tahun. Beliau adalah seorang polisi yang berpangkat jenderal bernama Muhammad Oemar Gatab. Menyambung tawaran film itu, Indro yang sudah tak lagi memiliki peluang bergabung di AKABRI akhirya meminta izin kepada ibu perihal tawaran film dan kelanjutan kariernya sebagai seorang komedian profesional. “Saya pernah nanya ke ibu sebelum main film, terus dia jawab: “Kamu nyolong nggak? kamu korupsi nggak? Nyusahin orang nggak? Selama nggak melakukan itu, mami kamu bangga,” ujar Indro mengingat ucapan sang ibunda. Sejak saat itu, Indro semakin melebarkan sayapnya bersama Warkop yang kemudian dijalani hanya bertiga dengan Dono dan Kasino setelah Nanu meninggal dunia di tahun 1983 dan Rudi Badil memutuskan untuk hengkang. Formasi bertiga inilah yang akhirnya menjadi formasi paling solid dengan melahirkan puluhan film. Berbicara tentang Indro tentu saja nama Warkop selalu melekat di dalam dirinya. Hingga akhirnya Dono dan Kasino wafat, Indro tetap memegang teguh amanat untuk tetap menjalani Warkop DKI walau hanya sendiri. “Saya nggak akan jadi apa-apa kalau bukan karena Warkop. Tapi Warkop tetap akan jadi apa-apa tanpa saya,” ujar Indro tentang grup lawaknya itu. Selain keluarga dan pramuka, Warkop adalah tempat dimana ia membentuk kedewasaannya, terutama cara berpikir. “Kenangan terindah buat saya adalah bersama Warkop, dengan Dono, Kasino, Rudi Badil dan Nanu. Mereka adalah kakak saya, guru saya, sekaligus mentor saya,” tegasnya. Indro juga tak canggung untuk menceritakan bagaimana seorang Dono dan Kasino yang terlihat sangat lucu di televsi pernah tidak saling berbicara sampai 3 tahun lamanya. “Karena sifat, duaduanya sama keras kepala kala itu. Dono itu kreativitasnya nggak bisa dibendung, saat dibatasi dia akan meledak. Sementara Kasino itu adalah yang menjalani strategi dari Warkop. Jadi nggak ada yang pernah tahu kalau mereka nggak ngomong selama tiga tahun, bahkan istri-istri kita pun tidak ada yang tahu,” kenang Indro. Oke, berbicara tentang Indro dan Warkop, kurang pas rasanya tidak menceritakan tentang perempuan-perempuan yang kerap beradu akting di tiap film mereka. Ya, Warkop’s Angels mereka menyebutnya. Dari Elvi Sukaesih, Camelia Malik, Sally Marcelina dan banyak nama lainnya, hingga yang paling fenomenal, Eva Arnaz turut menjadi lawan main di film mereka. “Ira Wibowo itu bisa dibilang cerdas karena dia orangnya banyak tanya. Rasa ingin tahunya besar. Kalau paling sensual ya Eva Arnaz. Yang jelas seluruh Warkop’s Angels itu hal yang terbaik buat kita, bagian yang bikin sukses kita,” tegasnya. Ada suatu misi dari Indro kala ia ditinggal Dono dan Kasino. Misinya adalah membuat anak-anak mereka bangga dengan kehebatan ayah-ayahnya, yang akhirnya terealisasi. “Kebanggaan itu adalah ketika hak kekayaan intelektual kita yang sudah saya wariskan kepada anak-anak itu diakui. Kita dapat royalti dan banyak lainnya. Dan, anak-anak semua mengelola itu,” ujar Indro. Yang dimaksud hak kekayakan intelektual (HAKI) adalah saat film Warkop DKI Reborn diproduksi dan ia beserta keluarga almarhum Dono dan Kasino mendapatkan apa yang menjadi hak mereka. Sedikit berbicara tentang HAKI, untuk Anda ketahui, tidak ada sepeser pun royalti yang mengalir ke anggota Warkop saat film-film mereka yang terdahulu diputar kembali di stasiun televisi. Sebabnya, klausul kontrak saat itu hanya menyentuh penayangan di TVRI. “Siapa yang bisa menduga bakalan banyak televisi swasta karena dulu kan cuma ada TVRI,” keluh Indro. Menjaga misi yang telah ia kerjakan ini berjalan dengan baik adalah rencananya ke depannya. Menjadikannya sebagai kebanggaan, tidak hanya untuk diingat semata. Dan, Indro tahu benar apa yang harus ia lakukan untuk tetap menjaga kebersamaan nama Warkop. “Warkop itu nggak percaya persatuan, Warkop percaya kebersamaan,” tutupnya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.