Vania Chinka

Model cantik ini menuturkan segalanya mulai dari postur tubuh hingga bersenang-senang di Ibiza.

Maxim (Indonesia) - - Table OF Contents - teks sardolian simbolon fotografi janed kharisma

Kami mau tahu awal karier kamu sebagai model? Mulai karier sebagai amatir sejak umur 4 tahun, waktu itu mama yang support aku untuk jadi model. Sempat ikut beberapa kompetisi walau memang waktu itu tidak terlalu tertarik. Namun akhirnya, aku terjun juga di dunia model ini sejak pindah ke Berlin, Jerman. Sambil kuliah memang, tapi langkah pertama yang aku ambil setelah di Jerman adalah mencari agency yang bisa dipercaya. Saat ini, aku sudah bekerja sama dengan agency Berlin dan Hamburg, tapi lagi coba untuk masuk ke agency di Madrid juga.

Bagaimana dengan karier profesional kamu di Berlin? Pertama debut profesional aku sebagai model di Berlin, aku merasa mereka semua sangat individual juga profesional. Saat urusan pekerjaan sudah selesai, hanya sebatas itu saja kami berhubungan. Tidak ada komunikasi lainnya. Tapi, bekerja di bawah agency itu merupakan hal yang paling penting menurut aku karena selain legal, urusan fee dan perkembangan karier setidaknya lebih jelas.

Seberapa sulit? Sulit banget! Satu yang jadi masalah untuk orang-orang Jerman: tinggi badan. Di sini tinggi mereka bisa 180 cm ke atas, sementara aku cuma 172 cm. Makanya di Berlin aku tidak terlalu banyak ‘bermain’ di catwalk, tapi lebih ke iklan televisi atau majalah. Catwalk kadang-kadang saja, habis saingannya juga berat menurut aku.

Cerita tentang pekerjaan pertama kamu sebagai model di Jerman? Pekerjaan pertama aku as a professional adalah sebuah iklan sebuah televisi. Ceritanya waktu itu iklan tentang energi listrik dan internet gitu. Di Jerman iklannya lebih ceria. Bahkan aku sampai harus menari dan bicara bahasa Jerman tentunya. Awalnya memang sedikit malu dan kurang pede karena aku bukan orang Jerman asli. Namun, dari penilaian mereka bahasa Jerman aku cukup bagus. Sejak saat itulah aku mulai percaya diri.

pertama yang kamu terima? Waktu itu pertama kali dibayar dapat 2.500 euro dengan waktu kerja selama 2 jam. Dengan jumlah sebesar itu, fee- nya bisa buat biaya keperluan sehari-hari selama 3 bulan.

Ada perbedaan menjadi model di Jerman dan di Indonesia? Sebagian besar hampir sama, mungkin perbedaannya hanya di budayanya saja. Kalau untuk urusan saling gosip antarmodel di Jerman juga seperti itu, hahaha. Aku pernah punya pengalaman yang mengagetkan sekaligus lucu. Jadi, dulu aku pernah mengaku bahwa tidak bisa bahasa Jerman dan setiap komunikasi dilakukan dengan bahasa Inggris. Dalam kondisi seperti itu, crew- nya justru gosip tentang aku dalam bahasa Jerman. Obrolannya tentang fisik, tinggi badan, dan pinggul yang besar. Sama seperti di Indonesia, mereka ngobrol sambil senyum-senyum palsu. Aku shock sekaligus lucu karena sebenarnya aku sangat mengerti setiap kata yang mereka keluarkan, tapi ya sudahlah. Hahaha.

Pengalaman berkesan lainnya? Sebagai orang Asia, membangun karier model di Eropa memang sangat-sangat sulit. Aku menghabiskan waktu selama 1 tahun hanya untuk membangun karier model aku di sini. Waktu mencari agency kebanyakan dari mereka menolak dengan alasan tinggi badan, tapi tiga agency sisanya bilang oke. Karena menurut aku modeling itu memang tidak selamanya harus turun ke catwalk karena bidangnya bisa di tempat lain seperti iklan atau majalah. Agency yang menolak itu memang namanya cukup besar di Jerman dan sudah menaungi artis-artis Jerman juga, tapi standar mereka memang tinggi dan postur tubuh jadi salah satu poin pentingnya mungkin. Aku tidak masalah dengan itu dan kesempatan datang dari tempat lain. Awal-awal masuk ke agency aku bahkan sempat kerja tanpa dibayar, padahal aku perlu materi untuk biaya tinggal di Jerman. Sampai pernah aku di titik merasa ingin berhenti dari dunia model di Jerman karena waktu itu sama saja aku buang-buang waktu, tapi tidak menghasilkan apa-apa. Padahal kuliah juga penting dan jadi fokus utama di Jerman. Teman-teman aku juga banyak menyarankan untuk berhenti saja. Pokoknya 1 tahun pertama itu sangat berat. Siapa role model kamu? Sebenarnya hampir tidak ada yang benarbenar memengaruhi aku tapi Gigi Hadid lumayan mencuri perhatian. Aku suka dengan cara dia berjalan dan ‘bermain-main’ dengan tubuhnya di atas catwalk, juga karakternya yang cuek dan tidak mudah terpengaruh berita miring. Sementara di Indonesia aku suka banget sama Kimmy Jayanti. Selain cara dia jalan dan gerak tubuhnya, dia juga cantik banget. Sayangnya, waktu dia buka sekolah model di sini, aku malah di Berlin.

Hal menyenangkan dari profesi ini? Di Jerman itu modeling membuat aku bisa berkeliling ke berbagai tempat, termasuk luar negeri. Kebetulan aku juga suka banget traveling, jadi sambil kerja aku juga bisa jalanjalan. Dari sini aku bisa pergi ke Ibiza, Roma, Madrid, dan banyak tempat lainnya. Serunya lagi kalau lagi kerja di luar kota atau luar negeri aku dan crew pasti hangout bareng. Seru deh pokoknya.

Target besar sebagai model? Aku ingin sekali bisa bekerja sama dengan agency dari Australia atau New York. Pertama aku belum pernah ke sana dan ingin sekali mengenal negara lain di luar Eropa – menambah koneksi juga tentunya. Alasan aku mau kerja sama dengan agency dari dua daerah itu adalah karena mereka punya industri yang besar. Aku bisa banyak belajar dari mereka. Sementara portofolio dengan dari agency 2 wilayah bisa membuka peluang aku mengembangkan karier sebagai model. Menjadi model untuk merek-merek besar juga tujuan aku di dunia model. Siapa juga model yang tidak mau bekerja merepr esentasikan merek Dior dan temantemannya. Sulit memang untuk sampai ke level tersebut, tapi jika kesempatan itu datang aku mau memulainya dengan menjadi model untuk katalog tas-tas, sepertinya seru.

"Menjadi model untuk merek-merek besar juga tujuan aku di dunia model. Siapa juga model yang tidak mau bekerja me representasikan merek Dior dan teman-temannya."

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.