Dear Diana

Anda punya masalah dan ingin curhat? Ayo, ceritakan pada saya kekhawatiran Anda.

Mother & Baby (Indonesia) - - Agustus -

Akselerasi

“Anak saya baru berumur 4 tahun tapi sudah sangat cerdas. Ia lancar membaca dan menurut guru Tk-nya kecerdasannya sudah setara dengan anak usia SD. Sekolah menawarkan anak saya masuk kelas akselerasi. Jadi di usia 5 tahun ia sudah kelas 1 SD. Saya bangga dengan pencapaian anak saya. Tetapi saya ragu untuk memasukannya ke SD. Masalahnya, meski cerdas, ia sangat suka bermain layaknya anak balita. Apakah yang harus saya lakukan? Tepatkah jika ia masuk sekolah umum?” Najla, 36, ibu Nadiva, 4

Dear Mom Najla, wah, selamat ya atas prestasi Si Kecil. Tidak heran Mom membanggakannya. Dan saya pun setuju Mom masih berpikir mengenai memasukkan Nadiva ke Sekolah Dasar. Selain kecerdasan, ada hal-hal lain yang menunjang keberhasilan anak di SD. Keberhasilan yang dimaksud di sini tidak hanya sekedar nilai yang tinggi, tapi juga apakah ia menyukai sekolah, sejauh mana ia bisa berteman dan sikap kerja di sekolah. Di SD, anak sudah ada tuntutan akademik walaupun mungkin tergantung sekolah dan tingkat kelasnya. Namun tetap saja, ia harus duduk dalam waktu yang lebih lama, pelajaran diberikan dengan metode yang lebih tradisional dan jarang sekali ada kegiatan bermain saat jam belajar. Walaupun kecerdasan anak tinggi dan setara dengan teman-teman yang lebih tua, biasanya psikologisnya tidak. Artinya secara psikologis ia masih seperti usia yang sebenarnya. Maka tidak heran kalau ia masih suka bermain. Sebenarnya tidak perlu terlalu cepat memasukan anak ke SD. Toh berbeda 1 tahun, juga tidak akan banyak perbedaannya. Apalagi jika ia nanti bersekolah ke luar negeri, mereka cukup ketat dengan usia. Saat ia sudah kelar SMA, misalnya, tetap tidak boleh melanjutkan ke Perguruan Tinggi di luar negeri kalau usianya belum mencukupi. Biarkan Nadiva menikmati masa kecilnya dengan banyak bermain dan bergerak. Karena perkembangan otak dan kecerdasannya justru akan lebih baik bila anak bermain dan bergerak. Bila ingin tetap mencoba, lebih baik lakukan tes kesiapan sekolah. Di tes ini, psikolog akan melihat apakah Nadiva memang secara kecerdasan akademik dan psikologis sudah mampu untuk langsung masuk ke SD. Jangan lupa untuk mengimbangi kegiatannya dengan kegiatan fisik.

Rosdiana Setyaningrum, M.psi, M.HPED, ibu dari Alyssa, 15, dan Amalia, 11, adalah psikolog alumni Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Master of Health Profession Education dari University of New South Wales, Sydney. Diana menjadi psikolog di RS Pluit, pengajar di Linguistic Council Indonesia untuk anak­anak berkebutuhan khusus, dan dosen di Fakultas Psikologi James Cook University, Singapura. Diana juga menjadi konselor di Sekolah Pelangi Kasih Kelapa Gading dan aktif menulis untuk berbagai majalah di Indonesia dan Singapura.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.