Rotua Valentina Sagala

Hadiah Ulang Tahun Terindah

Mother & Baby (Indonesia) - - September -

Setelah menerima ovarium drilling, serta gagal dalam 3 kali inseminasi dan embrio transfer pertama, Rotua Valentina Sagala (Valent), 40, aktivis perempuan, dan Tri Sukma Anreianno Djandam (Nanu), 48, karyawan swasta, berhasil memiliki anak melalui program bayi tabung. Kehadiran 2 bayi laki-laki bernama Samuel Mangkujaya Djandam dan Christian Mangkuraya Djandam sekaligus menjadi hadiah ulang tahun terindah bagi Valent.

Bulan Ke-1

Kegagalan pada embrio transfer pertama membuat saya putus asa. Sebulan berselang, embrio transfer kedua kembali dilakukan. Setelah 10 hari bed rest di Penang, kami pun kembali ke Jakarta. Dua hari kemudian, saya melakukan cek darah untuk mengetahui keberhasilan embrio transfer. Ternyata Beta HCG dalam darah menunjukkan angka 219,5. Setelah kami konfirmasikan ke dokter di Penang, ternyata angka ini menandakan bahwa embrio transfer berhasil.

Bulan Ke-2

Untuk lebih memastikannya, saya memeriksakan kandungan ke dokter di salah satu rumah sakit. Ia pun menyatakan saya positif hamil dengan kantung kehamilan yang sudah terbentuk. Namun, dokter belum dapat memastikan jumlah janin di dalam rahim dan meminta saya untuk kembali seminggu kemudian. Sepulangnya dari periksa, saya mengalami mual dan muntah yang hebat. Suami pun memutuskan untuk mencari second opinion dari dokter yang menangani saya saat proses inseminasi. Dari pemeriksaan terungkap bahwa saya hamil anak kembar dengan usia kandungan 6 minggu.

Bulan Ke-3

Vlek yang saya alami di awal bulan, membuat saya sangat khawatir dan langsung memeriksakannya ke dokter. Beruntung, vlek ini tidak menandakan sesuatu yang

serius. Dokter mengingatkan agar saya selalu menjaga kebersihan area vagina dan selalu waspada bila ada darah yang keluar. Ia juga berpesan agar saya jangan sampai mengalami infeksi. Selain itu, dokter memberikan obat antimual yang biasa diberikan kepada pasien kemoterapi. Meski demikian, mual dan muntah yang amat parah membuat saya harus opname selama 6 hari akibat tidak ada makanan yang masuk.

Bulan Ke-4

Dokter merekomendasikan fetomaternal dengan salah satu dokter ahli lain untuk memeriksa keadaan janin. Fetomaternal ini dilakukan untuk pendeteksian dini bila saja terjadi kelainan dan memastikan kelengkapan organ janin. Kami pun sangat bersyukur karena pemeriksaan menunjukkan hasil yang baik. Bahkan jenis kelamin bayi juga dapat diketahui dan hasilnya sesuai harapan, yaitu 2 bayi laki­laki. Ah, senangnya!

Bulan Ke-5

Saya mengalami cantengan untuk kedua kalinya. Kali ini terjadi pada jari kaki. Pada cantengan pertama, dokter kandungan memberikan antibiotik. Kini ia mere­ komendasikan saya untuk memeriksakan ke dokter spesialis bedah umum. Awalnya, dokter bedah hendak memberikan tindakan operasi. Namun setelah saya informasikan bahwa saya tengah mengandung melalui program bayi tabung, operasi tidak jadi dilakukan. Dokter menggantinya dengan antibiotik.

Bulan Ke-6

Saya senang sekali dokter kandungan sudah memperkenankan saya berhenti menerima suntik pengencer darah. Selama 5 bulan ini, suami selalu menyuntikkan obat ini setiap malam. Rasanya benar­benar sakit hingga saya sering kali menangis setiap diberikan. Jika dihitung, jumlah suntikan yang saya terima mencapai 150 titik. Kulit saya pun sampai membiru. Obat ini untuk memastikan agar darah mengalir dengan lancar melalui plasenta sehingga meminimalisir kemungkinan terjadinya keguguran.

Bulan Ke-7

Meski ingin sekali olahraga, namun dokter tidak memperbolehkannya. Sebisa mungkin, dokter ingin menjaga agar saya tidak kelelahan. Bahkan saya menggunakan kursi roda saat pergi ke mana pun, termasuk ke mal. Saya pun tidak diperkenankan memakan steak selain yang dimasak dengan well done dan dilarang mengonsumsi bagian yang biasanya agak hangus meski ini adalah bagian favorit. Saya juga diberikan suntik pematangan paru­paru untuk janin, demi berjaga­jaga bila bayi lahir prematur. Dengan diberikannya obat ini, diharapkan bayi dapat selamat jika lahir sebelum waktunya.

Bulan Ke-8

Adik menyarankan agar saya memilih rumah sakit dengan fasilitas NICU sebagai antisipasi. Tetapi rumah sakit tempat dokter saya praktik, tidak memiliki fasilitas tersebut. Oleh karena itu, kami mulai mencari informasi mengenai rumah sakit yang memiliki NICU, pro­asi, dan menyatukan ruang perawatan ibu dan bayi. Setelah bingung dengan berbagai pilihan, kami memutuskan untuk memprioritaskan kenyamanan dengan dokter yang hendak menangani persalinan. Kami pun menjatuhkan pilihan untuk tetap melahirkan di rumah sakit yang selama ini kami kunjungi.

Bulan Ke-9

Saya hadir ke acara reuni SMA. Meski tetap memakai kursi roda, rupanya saya terlampau senang bertemu dengan teman­teman lama. Kebahagiaan ini ternyata memicu kontraksi seperti yang telah diingatkan oleh dokter. Keesokan harinya saya mengalami kontraksi setiap 5 menit. Namun, suami mengira ini adalah kontraksi palsu sehingga kami baru mengunjungi rumah sakit pada siang hari. Setelah diperiksa, ternyata Samuel sudah masuk ke jalan lahir. Operasi Caesar pun dimajukan 3 minggu lebih awal dari yang direncanakan. Setelah masuk ruang operasi pada 8 Agustus 2016, Christian berhasil dilahirkan pada pukul 07.06 dan Samuel pada 07.08 dengan sehat.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.