Fashion The Dazling Beginning

Mother & Baby (Indonesia) - - September - Fotografer: Rakhmat Hidayat. Stylist: Ivy Aralia Nizar – Ampersand Studio. Digital Imaging: Veby Citra. Make Up Artist: @slamwiyono (www.slamwiyono.com). Hair Stylist: Harry (@harry_harry108). Penulis/editor: Claudia Carla Sonia Septiara/sr.

Andien

Sweater, Moschino. Pants, Cottonink – The Goods Dept. Scarf, Tiny Cottons – Snuggleup Kids.

Kawa

Romper, Petit Bateau. Legging, Tiny Cottons – Snuggleup Kids.

Metode parenting yang diterapkan oleh Andini Aisyah Hariadi (Andien), 32, kepada Anaku Askara Biru (Kawa), 8 bulan, menuai banyak pro dan kontra. Terlepas dari komentar miring yang diterimanya, Andien membuktikan hal sebaliknya melalui perkembangan dari Kawa. Ketika bertemu dengan M&B, Andien sangat antusias menceritakan pengalamannya mulai dari water birth, BLW (Baby Led-weaning), hingga cara membangun komunikasi dengan Kawa. Ia pun mengungkapkan telah merasakan ikatan yang kuat dengan Kawa, berkat komunikasi yang baik sejak Si Kecil masih di dalam kandungan. Keputusannya untuk menjalin komunikasi yang baik pun berbuah manis bagi perkembangan Kawa. Di usia yang belum genap setahun, Sang Buah Hati telah tumbuh menjadi anak yang sangat responsif.

Ceritakan dong pengalaman Anda saat melahirkan dengan metode water birth!

Pengalaman ini seru dan tidak akan terlupakan! Seperti mengalami persalinan bertiga, di mana ada saya yang tengah mau melahirkan, Kawa yang siap untuk keluar dan Mas Ippe yang siap menangkap Kawa. Jadi saya dan Mas Ippe adalah orang pertama yang bersentuhan dengan Si Kecil. Saya memilih metode water birth, agar Kawa tidak kaget saat transisi dari kandungan ke dunia. Sedangkan pilihan untuk melahirkan di rumah saya lakukan karena saya dan Kawa sudah sangat kenal dengan suasana dan bakteri yang ada di rumah. Selain pilihan saya sendiri, metode ini juga pilihan Si Kecil, lho! Sebab saya selalu menanyakan cara persalinan yang ia inginkan sejak dalam kandungan.

Mengapa Anda sudah menerapkan BLW sejak Si Kecil berusia 5,5 bulan?

Karena ia sudah siap. Ini adalah syarat utama dalam memberikan BLW. Salah satu bapak ASI panutan saya yang bernama Jack Newman, mengatakan tidak ada kalender dalam tubuh manusia. Setiap anak berbeda, ada yang sudah siap makan sejak usia 5,5 bulan dan ada pula yang baru siap pada 7 bulan. Kawa sudah menunjukkan tanda kesiapan pada usia tersebut. Tanda ini saya sadari ketika ia ikut memasukan makanan ke dalam mulutnya, saat saya dan suami sedang makan. Meski belum tentu tertelan, saya tidak khawatir ia kelaparan. Sebab saya tetap memberikan ASI sebagai makanan utamanya.

Anda terkesan menerapkan metode parenting yang memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih. Apa alasan dibaliknya?

Saya mengganggap Kawa sebagai manusia seutuhnya yang memiliki suara dan keinginan. Tugas saya memang untuk membimbing dan mengajarkan, namun pilihan adalah haknya sebagai manusia. Kebiasaan ini tidak hanya saya terapkan saat ia sudah dilahirkan, melainkan sejak dari dalam kandungan. Contohnya dengan menanyakan pendapat dan meminta izin kepadanya saat hendak ‘manggung’. Kini, saya pun terbiasa melibatkan Kawa dalam percakapan antara saya dan Mas Ippe. Kebiasaan ini membuat komunikasi di antara kami bertiga berlangsung dengan sangat lancar.

Manfaat apa yang Anda dapatkan dengan menerapkan metode tersebut?

Mungkin manfaatnya baru bisa dirasakan jauh ke depan. Tetapi saya percaya komunikasi yang baik ini akan menjadi bekalnya sampai ke depan nanti. Saya kira kelak 80 persen dari masalah yang terjadi juga dapat terselesaikan dengan sendirinya melalui bonding yang kuat. Namun ada satu kejadian yang membuat saya kaget. Saat umur sebulan, saya sempat bertanya kepada Kawa, apakah saya boleh menciumnya. Ternyata ia menjawab boleh. Banyak yang mengatakan ini kebetulan dan saya pun mengira seperti itu pada awalnya. Tetapi setelah dipelajari, ini adalah respons terhadap pertanyaan yang saya berikan. Ia pun tumbuh menjadi bayi yang sangat responsif. Mungkin hal ini bisa terjadi, karena saya terbiasa untuk tidak menyepelekan pendapatnya meski ia masih bayi.

Apa saja perkembangan Kawa sekarang ini?

Ia sudah bisa merayap, mulai merangkak, serta berguling dari telentang ke tengkurap dan sebaliknya. Ia juga sudah bisa duduk dan bergelantungan di monkey bar lho! Ia pun sangat senang dengan alat musik. Oleh karena itu, saya belikan ukulele dan xilofon. Awal dibelikan, tongkat xilofon sering dimasukkan ke dalam mulut. Kebetulan saat itu Kawa sedang dalam fase oral. Lambat laun ia sering mengetukkan tongkat ke xilofon. Ini menunjukkan bahwa ia memerhatikan saya saat sedang bermain musik akustik dan ada kemauan untuk mendengar sendiri bunyi alat musik tersebut. Selain itu, sifat penyayang, percaya diri, ceria, dan empati juga sudah terlihat. Namun yang paling menonjol ialah sifat responsifnya.

Kawa sudah memiliki banyak perkembangan ya! Apa sih rahasianya?

Saya dan Mas Ippe selalu mengutamakan pemberian stimulasi untuknya. Setelah bangun tidur, hal pertama yang kami lakukan adalah menstimulasi Kawa. Adapun stimulasi yang saya berikan, berupa flash card untuk mengenalkan kata, bernyanyi, dan bermain alat musik. Sejak usia 3 bulan, saya sudah mulai ajarkan gerakan keseimbangan yang saya lakukan bersamanya. Contohnya seperti stretching dan memakai gym ball. Sedangkan saat baru lahir, saya memberikan stimulasi cahaya dan berganti dengan berbagai buku high contrast ketika ia sudah bisa melihat warna hitam dan putih. Untuk sekarang ini, ia sedang asyik mengejar barang seperti bola.

Lalu bagaimana Anda mengembangkan kecerdasan sosial dan emosionalnya?

Melalui komunikasi yang baik antara saya, suami, dan Kawa, serta permainan sederhana seperti ‘Cilukba’. Selain itu, saya juga memasukkan Kawa ke dalam kelas baby gym yang terdapat di salah satu pusat tumbuh kembang. Melalui kelas ini, Kawa dapat bertemu dengan anak seusianya. Karena kelas ini juga diikuti oleh anak yang mengalami cacat otak maupun anak dengan autisme, ia memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan berbagai macam tipe anak. Tentunya ini dapat memberikan dampak positif untuk perkembangan sosial dan emosional Kawa.

Menurut Anda, seberapa penting peran suami dalam dunia Motherhood?

Penting sekali! Suami adalah salah satu pilar keberhasilan dalam dunia motherhood. Sebab bonding dengan anak tidak bisa hanya dilakukan oleh ibu, melainkan juga dibutuhkan sosok ayah. Saya beruntung sekali memiliki suami yang pengertian seperti Mas Ippe. Bahkan dapat dikatakan Mas Ippe juga ikut hamil. Ia turut melakukan segala hal yang saya jalani selama hamil. Jadi tidak mungkin ia makan martabak, di saat saya makan makanan yang baik untuk bumil. Begitu pula ketika saya memasuki fase nesting. Ia menggantikan saya mencari informasi seputar persalinan dan parenting. Demikian pula saat ini, ia dapat melakukan segala hal yang saya lakukan berkaitan dengan merawat Kawa. Hanya satu yang ia tidak bisa, yaitu menyusui. Dukungannya mencapai 1.000 persen!

Bagaimana Anda akan merayakan ulang tahun pertama Kawa?

Saya berharap bisa mengadakan crowd funding. Jadi siapa pun bisa memberikan hadiah untuk Kawa, sehingga hadiahnya juga bisa disumbangkan ke yayasan yang membutuhkan. Selain crowd funding, kami pun akan doa bersama. Mengingat ini adalah edisi ulang tahun Mother & Baby, saya sekaligus ingin mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-11. Semoga Mother & Baby selalu bisa menyajikan konten yang edukatif, positif, dan membuat bahagia banyak ibu. M&B

Andien Dress, BCBG Max Azria. Pants, Rama Dauhan. Design Studio. Suitcase: Samsonite. Kawa Top & Bottom, Gingersnaps. *Dapatkan produk Gingersnaps dan Samsonite. Cek infonya di www.motherandbaby.co.id/ magical moment atau di halaman 58.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.