Waspada Perdarahan Pascapersalinan

Mother & Baby (Indonesia) - - News -

Perdarahan usai melahirkan adalah hal yang normal terjadi. Namun kadang kala, ada sejumlah ibu yang mengalami perdarahan berat setelah melahirkan atau yang disebut dengan istilah postpartum hemorrhage. Menurut dr. Merwin Tjahjadi, SP.OG, dari Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro Jaya, perdarahan pascapersalinan adalah salah satu penyebab terbesar dalam angka kematian ibu. “Tidak hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia, angka kematian ibu yang paling sering terjadi disebabkan perdarahan pascapersalinan,” terang dr. Merwin.

Perdarahan melebihi jumlah normal

Pada prinsipnya, dalam persalinan, baik persalinan normal maupun persalinan Caesar, ada beberapa fase yang terjadi. Setelah bayi lahir, lanjut dr. Merwin, plasenta akan ikut dikeluarkan juga pada fase persalinan ini. Setelah plasenta keluar, akan diobservasi apakah ada perdarahan atau tidak. Perdarahan ini maksudnya adalah perdarahan pascapersalinan yang jumlahnya lebih dari 500 ml dalam persalinan normal dan perdarahan yang melebihi 1 liter dalam persalinan Caesar. Perdarahan pascapersalinan ini terjadi dalam kurun waktu 24 jam setelah bayi dilahirkan atau yang disebut early postpartum hemorrhage. Kondisi Sang Ibu juga harus diperhatikan agar tim medis bisa segera menanganinya apabila ia mengalami perdarahan pascapersalinan. dr. Merwin selaku spesialis kebidanan dan kandungan ini memberikan tanda-tanda ibu mengalami perdarahan pascapersalinan. Antara lain adalah ibu akan merasa lemas, tekanan darah menurun, denyut nadinya tinggi, syok, tidak buang air kecil selama beberapa jam, pucat, dan secara kasat mata darah terus mengalir seperti keran air.

Penyebab Perdarahan Pascapersalinan

Secara umum, menurut dr. Merwin, penyebab perdarahan pascapersalinan bisa terjadi karena beberapa hal berikut ini:

Tonus (atonia uteri).

Ini merupakan kondisi saat tonus otot rahim tidak dapat berkontraksi dengan baik saat mengeluarkan plasenta sehingga terjadilah perdarahan. Darah terus mengalir karena pembuluh darah rahim tetap terbuka akibat kontraksi yang kurang baik. Ini adalah penyebab perdarahan pascapersalinan yang paling sering terjadi.

Tissue atau jaringan.

Jaringan yang dimaksud di sini adalah plasenta. Seharusnya, plasenta keluar dengan sendirinya usai bayi dilahirkan. Namun ada beberapa kasus, yang plasentanya menempel terlalu kuat di dinding rahim sehingga menimbulkan perdarahan.

Trauma.

Terjadinya robekan pada jalan lahir, yang bisa terjadi di wilayah vagina saat persalinan normal. Sementara pada operasi Caesar, trauma bisa terjadi pada luka di pembuluh darah besar atau di rahim.

Trombin.

Ada gangguan pembekuan darah karena adanya kelainan darah sehingga darah terus mengalir.

Setiap ibu yang melahirkan akan mengalami perdarahan. Namun, perdarahan pascapersalinan ini perlu diwaspadai karena bisa menyebabkan kematian pada ibu.

Faktor-faktor lain yang juga bisa membuat Moms berisiko mengalami perdarahan adalah sebagai berikut.

Tubuh yang kurang bugar dan nutrisi Moms yang kurang akan membuat daya tahan tubuh semakin menurun saat perdarahan terjadi sehingga perdarahan pun terjadi dengan cepat. Hamilnya lebih dari 3 kali. Kehamilan yang terlalu sering akan membuat rahim kendur sehingga kontraksinya tidak bagus. Kehamilan kembar juga bisa berisiko terjadinya perdarahan pascapersalinan. Karena rahim yang terlalu besar, proses mengecilnya rahim pun akan lama sehingga bisa mengalami perdarahan. Usia Moms lebih dari 40 tahun. Moms memiliki riwayat operasi sebelumnya.

Cegah perdarahan sejak masa kehamilan

Menurut dr. Merwin, perdarahan pascapersalinan ini bisa dicegah sejak masa kehamilan. “Mengenali risiko sejak awal, yaitu sejak pasien mengandung, melalui anamnesis, USG, dan pemeriksaan lainnya. Apakah pasien ini memiliki risiko perdarahan pascapersalinan atau tidak saat melahirkan nanti. Dengan begitu, dokter dan bidan yang menanganinya sudah bisa mempersiapkan diri. Namun, yang tidak bisa dideteksi dengan alat USG adalah kontraksi, apakah kontraksi akan bagus atau tidak saat melahirkan. Atau, akan ada trauma yang merupakan akibat dari melahirkan,” kata dr. Merwin. Untuk mengurangi risiko perdarahan pascapersalinan, dr. Merwin menyarankan agar Moms memiliki daya tahan tubuh yang kuat, sel darah merah yang cukup, dan melakukan pemeriksaan darah rutin pada masa kehamilan. Penting juga diperiksa kadar hemoglobinnya. Apabila Hb-nya masih di angka 8-9, Moms akan diminta untuk meningkatkan kadar HB dengan diet tinggi zat besi atau ditingkatkan lagi suplemen penambah darahnya agar kadar HB saat melahirkan mendekati angka normal. “Makanan yang mengandung zat besi, suplemen penambah darah, dan pemeriksaan darah rutin saat kehamilan juga harus diperhatikan,” tambah dr. Merwin.

“perdarahan pascapersalinan ini bisa dicegah dengan mengenali risiko sejak awal kehamilan.”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.