SUHU TUBUH MENINGKAT USAI BERSALIN

Usai bersalin, suhu tubuh Mama memang akan meningkat. Meski normal, tetap harus diwaspadai. Kalau suhunya makin meninggi, takutnya ada infeksi.

Nakita - - HALAMAN DEPAN - Oleh: Utami Sri Rahayu

Demam ringan ini sebagai efek dari kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan. Tapi bagaimana bila Mama mengalami demam tinggi?

Kenaikan suhu tubuh usai bersalin enggak tinggi, kok, Ma. Umumnya hanya naik 0,5° C dari suhu normal (36—37°C). Kondisi ini wajar dan akan dialami oleh semua mama yang melahirkan. Pasalnya, tubuh Mama pascapersalinan cenderung mengalami perubahan sistem imun sebagai efek dari kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan.

Jadi, tak perlu khawatir. Apalagi kenaikan suhu ini tak akan berlangsung lama. Dalam waktu 12—24 jam pascamelahirkan, suhu tubuh Mama akan kembali normal. Selanjutnya, pada hari ketiga, suhu tubuh Mama akan kembali meningkat, peningkatannya sama, masih berkisar 0,5° C dari suhu normal (36—37°C). Kali ini penyebabnya adalah pembentukan ASI dimana payudara jadi bengkak dan merah karena banyaknya ASI. Selain juga adanya efek oksitosin (hormon yang merangsang kontraksi rahim) dalam proses pengerutan rahim untuk kembali ke kondisi sebelum hamil. Kenaikan suhu ini juga akan berlangsung dalam waktu 12—24 jam.

Apabila Mama merasa tak nyaman dengan peningkatan suhu ini, perbanyak minum air putih hangat. Boleh juga minum obat antipiretik, semisal, parasetamol, untuk mengurangi demam. Mengenai dosisnya, konsultasikan dengan petugas medis atau perhatikan aturan pakainya yang tertera pada kemasannya.

DEMAM TINGGI Yang perlu diwaspadai bila Mama mengalami kenaikan suhu hingga lebih dari 380C alias demam tinggi. Apalagi bila peningkatan suhu tubuh tersebut berlangsung selama 2 hari pada 10 hari pertama pascapersalinan. Pasalnya, demam tinggi menandakan adanya infeksi yang disebabkan oleh masuknya kuman ke dalam alat genitalia pada waktu persalinan atau nifas. Inilah yang dikenal dengan infeksi nifas.

Selain disebabkan oleh infeksi yang secara langsung berhubungan dengan proses persalinan (seperti infeksi rahim, daerah sekitar rahim, atau vagina), penyebab lain dari infeksi nifas adalah infeksi ginjal yang bisa terjadi segera setelah persalinan. Infeksi ginjal dapat disebabkan oleh bakteri yang berasal dari kandung kemih, terkadang infeksi juga terjadi akibat pemakaian kateter.

Infeksi nifas juga bisa terjadi bila Mama mengalami infeksi pada luka bekas operasi sesar ataupun luka episiotomi pascamelahirkan normal, infeksi pada kelenjar payudara dan peradangan, serta infeksi saluran kemih.

FAKTOR RISIKO Jangan khawatir, tidak semua perempuan pasacamelahirkan akan terkena infeksi nifas. Selain bergantung pada daya tahan tubuh Mama, ada beberapa faktor risiko pencetus terjadinya infeksi nifas, seperti: Riwayat kelahiran sesar. Pada kelahiran sesar, luka yang terjadi rawan menyebabkan infeksi. Persentase angka kejadian infeksi luka operasi pascapersalinan sesar sebesar 10–30%. Persalinan prematur (ruptur membran). Persalinan yang terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu ini rawan menyebabkan infeksi pada masa nifas, karena umumnya persalinan prematur dipicu oleh keadaan tertentu, seperti infeksi rahim atau infeksi cairan ketuban. Seringnya dilakukan pemeriksaaan servikal. Saat pemeriksaan jalan lahir dikhawatirkan peralatan atau sarung tangan yang digunakan oleh tenaga medis membawa kuman atau bakteri. Untuk pencegahan, penting bagi tenaga medis menggunakan sarung tangan steril. Pemeriksaan internal janin yang tidak sesuai prosedur. Hal ini rawan menyebabkan infeksi, salah satu penyebabnya ialah alat yang digunakan tidak steril. Menderita infeksi pelvis (panggul) saat persalinan, seperti bacterial vaginosis. Bakteri penyebab infeksi pelvis dapat mengakibatkan infeksi lanjutan pada masa nifas. Untuk itu, penting mengutamakan kesterilan peralatan saat membantu persalinan. Menderita diabetes. Penderita diabetes memang lebih rawan mengalami infeksi, karena pada permukaan kulitnya ditemukan lebih banyak bakteri dan jamur. Demikian pula dengan wilayah genitalianya. Kekurangan gizi atau gizi buruk pada masa kehamilan. Gizi buruk pada masa kehamilan menyebabkan kemampuan tubuh melawan bakteri atau virus menjadi lemah, sehingga mudah terjadi infeksi. Obesitas Obesitas dapat menyebabkan gangguan sistem imun pada tubuh seseorang, dampak lebih lanjutnya ialah yang bersangkutan mudah terkena infeksi.

PEMERIKSAAN & PENGOBATAN Infeksi nifas dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah sehingga berakibat fatal bagi Mama. Untuk itu, perlu dipastikan, apakah demam yang dialami menandakan adanya infeksi atau tidak.

Ada dua jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk memastikannya. Pertama, pemeriksaan fisik, yaitu dengan melakukan pemeriksaan panggul dan diambil sampel dari saluran kelamin untuk mengidentifikasi bakteri yang terlibat dalam infeksi. Pemeriksaan panggul ini dapat mengungkapkan tingkat infeksi dan kemungkinan penyebabnya. Kedua, pemeriksaan laboratorium, yakni dengan melakukan pemeriksaan darah dan air seni, apabila gejalanya ada yang mengarah pada infeksi saluran kemih.

Pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotik untuk menekan infeksi berkelanjutan. Yang juga penting, asupan gizi harus mendapatkan perhatian serius. Pasalnya, dengan asupan gizi yang baik dapat mempercepat proses penyembuhan Mama, selain juga akan memengaruhi kualitas dan kuantitas ASI. Untuk itu, diet yang diberikan haruslah cukup kalori, tinggi protein, dan banyak mengandung cairan.

Tak kalah penting, istirahat! Pascapersalinan, sekalipun tidak mengalami infeksi nifas, Mama sangat membutuhkan istirahat yang cukup untuk memulihkan kembali keadaan fisiknya. Apalagi jika Mama mengalami infeksi nifas, kecukupan istirahat akan sangat membantu dalam mempercepat proses penyembuhan. Keluarga disarankan memberikan kesempatan kepada Mama untuk beristirahat yang cukup.

Narasumber: dr. Rahayuning Indit Pramesti, SPOG RSIA Hermina Mekarsari, Bogor

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.