“Horeee... Bayiku Sudah Bisa Bicara!”

Mengikuti perkembangan dan menstimulasi bahasa bayi, bukan sekadar untuk membuat buah hati lebih cepat bicara. Lebih dari itu, bila ada keterlambatan perkembangan, Mama Papa bisa menanganinya sedini mungkin.

Nakita - - BERANDA - Oleh: Ajeng Pangesti Sari, Ayunda Pininta Kasih

Si kecil yang berusia 2 bulan tiba-tiba menangis. Tentu Mama akan menghampirinya untuk mengetahui apa yang terjadi dengannya. Mama mungkin akan mengecek popok si kecil, kalau-kalau ia mengompol atau pup, sehingga membuatnya tak nyaman. Mungkin juga Mama akan langsung mengangkat si kecil dan menggendongnya untuk disusui. Pendeknya, apa pun yang Mama lakukan terhadap si kecil, apakah juga sambil mengajaknya bicara?

“Pasti. Biasanya kami akan mengelus kepalanya sambil senyum dan bertanya, ‘Ada apa, Sayang... kok, nangis?’” tulis Ayu Ardita Putri (29), salah seorang member fan pages Facebook nakita. Begitu pun Deanita Rahayu (27), member lainnya, “Kalau anak menangis, yang pertama kali dilakukan, saya ajak bicara ‘Ada apa atau kenapa?’, ‘Ade haus mau mimi?’, “Ada yang sakit?’, dan

bla-bla sesuai situasi.” Hal serupa dilakukan pula oleh Rifatun Nihayaty (27), “Saya akan berbicara sambil menenangkan dan menanyakan ‘Kenapa menangis, Sayang? Ada apa? Apakah ada yang sakit?’ Setelah itu biasanya saya akan menggendong atau menepuk bokongnya pelan-pelan, mengusap-usap kepalanya dan menciumnya.”

Bukan hanya ketiga mama di atas, rasanya hampir setiap mama akan mengajukan pertanyaan serupa ketika bayinya menangis. Karena si kecil belum bisa menjawab dengan katakata, Mama pun akan berusaha mencari jawabannya. Entah dengan mengecek popoknya, apakah basah karena si kecil mengompol; menggendongnya; mengelus-elus bokongnya; mengajaknya bermain; menyusuinya, dan sebagainya. Kalau jawabannya sudah ketemu, misal, si kecil mengompol, Mama pun segera membersihkan si kecil dan mengganti popoknya. Tangis si kecil pun reda karena Mama sudah membuatnya nyaman kembali.

SENANG DIAJAK BICARA

Ya, bahasa tak hanya diungkapkan lewat kata-kata. Apalagi pada bayi yang di awal kehidupannya memang belum mampu berkata-kata, tetapi bukan berarti belum bisa berkomunikasi. Menangis, itulah bentuk komunikasi pertama yang ia lakukan untuk memberi tahu kalau dirinya kedinginan, lapar, dan ketidaknyamanan lainnya. Dibutuhkan kepekaan dari orangtua untuk memahami arti tangisan bayinya.

Seiring dengan bertambahnya usia bayi, hari demi hari, perkembangan bahasa bayi akan terus meningkat. Yang tadinya buah hati hanya bisa menangis, di bulan kedua mulai tersenyum, lalu mengoceh, hingga mampu memanggil “Ma-ma” dan “Papa” saat usianya menginjak 1 tahun. Menyenangkan bukan saat Mama Papa melihat sendiri perkembangan bahasa buah hati yang begitu cepat dan hebat?

Bahasa tak hanya diungkapkan lewat katakata. Apalagi pada bayi yang di awal kehidupannya memang belum mampu berkata-kata, tetapi bukan berarti belum bisa berkomunikasi.

Ayu bercerita, buah hatinya, Aroushavina Alesha Rifanto (12 bulan), saat ini sudah bisa mengucapkan tiga kata sekaligus, “Setiap bangun tidur, misalnya, dia suka berkata. ‘Mama ... ampu ... auw’ (baca: Mama nyalakan lampunya, Rousha sudah bangun. Ayo, segera mandi dan makan sambil lihat auw ... si kucing).” Ha ha ha ...!

Sementara Deanita menulis, buah hatinya, Zaveiro Suryabara Mahardigdjaya (4 bulan),

seneng banget kalau ada yang mengajaknya bicara. “Dia senyum-senyum, suka balas orang yang mengajak dia bicara walaupun kita gak ngerti dia ngomong apa, he he. Terus kalau dia dicuekin, enggak ada yang mengajak ngobrol, malah dia suka bete gitu.”

“Kalau anakku sudah sangat aktif berbicara, sangat cepat merespons apabila ditanya dan diajak ngobrol, berteriak teriak apabila senang atau ada hal baru yang dilihatnya, sudah bisa mengoceh ‘baa ... ba ... baa,

daa ... da ....’ Juga sudah bisa protes kalau tidak suka akan sesuatu,” tulis Rifatun Nihayaty (27), mama dari Alesha Kyfa Maydinnah (8 bulan).

STIMULASI BICARA

Tentunya, untuk membuat si kecil “pintar” bicara, kita harus sering mengajaknya ngobrol, ya, Ma. Itulah yang dilakukan oleh para mama di atas dan sejumlah member fan page Facebook nakita lainnya. Masih ada lagi, Ma. Ini beberapa tip menstimulasi perkembangan bicara bayi yang nakita kumpulkan dari para mama tersebut. • Membacakan buku cerita. • Mengajak bernyanyi dan mendengarkan musik. • Bermain peran menggunakan boneka tangan. • Memperkenalkan nama-nama benda/mainan/hewan. • Memberi tahu bayi, apa saja yang sedang dan akan dilakukan oleh Mama Papa, baik yang berkaitan dengan si bayi (seperti: ganti popok, memakaikan baju, memandikan, dll.) maupun aktivitas Mama Papa sendiri (semisal, Mama hendak mandi, sedang mene-lepon, membaca buku, memasak, dll.) • Mengajak bayi jalan-jalan keluar rumah untuk memperkenalkannya dengan lingkungan sekitar. • Ketika bayi menunjukkan antusiasmenya terhadap lingkungan sekitar, sebutkan nama semua benda/hewan yang ditunjuk oleh bayi. • Saat berbicara dengan bayi, selalu tatap matanya dan berikan senyuman. Selain itu, gunakan ejaan yang benar dan jelas, tidak dicadel-cadelkan.

Selain tip-tip di atas, Mama Papa juga perlu tahu, nih. Menurut Linda Smith, Profesor dari Indiana University Bloomington College of Arts and Sciences Department of Psychological and Brain Sciences, memori visual berperan dalam membuat bayi menghubungkan kata dengan objek. Biasanya, bayi akan terlebih dulu familiar dengan objek visual, seperti meja, baju, botol, atau sendok. Karena setiap hari bayi melihat dan mendengar Mama menyebutkannya, ia pun akan menyerapnya terlebih dulu dibandingkan jenis kata lainnya. Hasil studi para psikolog dari Indiana University yang dimuat di jurnal Royal Society Philosophical Transactions B (November 2016) memperlihatkan, kata-kata pertama yang diucapkan bayi kemungkinan besar berasal dari pengalaman visualnya seharihari. “Bila bayi Mama mengalami keterlambatan dalam berbicara, kemungkinan disebabkan mereka tidak melihat objek-objek di lingkungan rumah secara rutin atau di rumah memang tidak terdapat rutinitas,” kata Prof. Smith yang juga peneliti senior dalam studi tersebut.

Semakin jelas betapa penting peran stimulasi ini, ya, bagi perkembangan bicara bayi. Selain

juga perlu diperhatikan ada-tidaknya gangguan pada indra bayi sehingga menghambat bayi dalam berkomunikasi. Nah, untuk melihat apakah perkembangan bahasa buah hati sudah sesuai atau belum, dr. Rika Oktariana Rony, SPA, MARS menyarankan orangtua untuk terus melakukan evaluasi bulanan tumbuh kembang bayi dengan kontrol rutin ke dokter anak. Biasanya, pihak rumah sakit akan memberikan buku kesehatan yang berisi pedoman bagi orangtua untuk mengamati tumbuh kembang buah hati, baik tumbuh kembang motorik halus, motorik kasar, personal sosial, maupun bahasa. “Dari chart yang ada, anak akan dipantau apakah perkembangannya sudah sesuai dengan usia atau belum mencapai kesesuaian usia,” imbuh Rika.

Sebagai gambaran, di halaman berikut dipaparkan tahapan perkembangan bahasa/bicara bayi (usia 0—12 bulan) dan stimulasinya. Semoga perkembangan si kecil sudah sesuai, ya, Mama Papa.

Menurut studi, kata-kata pertama yang diucapkan bayi kemungkinan besar berasal dari pengalaman visualnya sehari-hari.

Narasumber: dr. Rika Oktarina Rony, SPA, MARS Bethsaida Hospitals

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.