BILA ANAK TAKUT KETINGGIAN

Saat anak menunjukkan rasa takut, terkadang kita panik dan kemudian menjadi over-protective. Padahal, respons ini malah berpotensi menimbulkan masalah yang lebih kompleks lagi.

Nakita - - HALAMAN DEPAN - Oleh: Anindita Subawa Narasumber: Widya S. Sari, M.psi, Psikolog

Jangan sekali-sekali jadikan rasa takut anak sebagai bahan bercandaan. Alihalih sembuh, hal ini justru akan membuatnya makin terpuruk

“Rasa takut adalah sesuatu yang dipelajari, dan wajar dimiliki oleh anak karena merupakan bentuk sikap antisipatif untuk melindungi diri sendiri,” jelas Psikolog Widya Sari.

“Coba naik perosotan itu, yuk!” ajak sang bunda pada Resta (5)

“Enggak, Ma, enggak mau! Resta takut!”

“Lo, tapi ini enggak tinggi kok. Mama bantu pas kamu naik, ya?”

“Enggak, pokoknya enggak! Takut!”

Mengapa ya, anak usia 5 tahun sudah mulai mengenal rasa takut? Padahal, kalau dipikir-pikir, anak sedang senang-senangnya bereksplorasi dengan lingkungan sekitarnya. Dorongan rasa ingin tahu kerap membuat anak berusaha mencoba apa pun, termasuk hal yang berisiko seperti ketinggian. Natidak mun, kenyataannya tak semua anak demikian. Ada beberapa anak yang justru mudah merasa takut, seperti Resta yang takut ketinggian.

Psikolog Widya Sari menjelaskan, rasa takut adalah sesuatu yang dipelajari, dan wajar dimiliki oleh anak. Umumnya anak yang baru lahir belum mengenal rasa takut, walaupun sudah cukup ekspresif terhadap rasa tidak nyaman. Namun, saat ia mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, perlahan-lahan ia memilah hal-hal yang membuat ia merasa aman dan yang mengancam atau menimbulkan bahaya. “Rasa takut adalah salah satu bentuk sikap antisipatif untuk melindungi diri sendiri,” jelas Widya.

FAKTOR YANG BERPERAN DALAM RASA TAKUT

Lebih lanjut, Widya menuturkan terdapat beberapa faktor yang berperan dalam pembentukan rasa takut:

• KEMATANGAN EMOSI

Emosi yang matang adalah salah satu dasar untuk membentuk pribadi yang secure (merasa aman). Rasa takut yang dimiliki anak, seiring dengan perkembangan emosinya, akan berkurang ataupun tetap dimiliki dalam batas wajar sesuai dengan pemahaman anak tentang potensi bahaya yang ditimbulkan oleh hal-hal yang ia takuti tersebut serta kemampuannya untuk menenangkan diri. Jika kematangan emosi terbentuk dengan baik, rasa takut dapat berkembang secara berlebihan atau malah tidak berkembang sama sekali.

• PERKEMBANGAN DAYA PIKIR (KOGNITIF) DAN KEMAMPUAN MEMPREDIKSI.

Di usia balita hingga usia sekolah, anak mengalami perkembangan kognitif yang pesat. Ia mulai belajar membuat perhitungan atau perkiraan terhadap hal-hal yang ada di sekitarnya, termasuk prediksi tentang hubungan sebab akibat dan risiko terutama jika terpapar dengan hal-hal yang menimbulkan rasa takut. Perkembangan kognitif yang baik akan membantu anak mengelola rasa takutnya.

• IMAJINASI

Anak memiliki khayalan yang sangat luas dan beragam tentang dunianya. Terlebih lagi, di usia prasekolah daya khayal anak berkembang sangat pesat. Anak akan sangat mudah menerima informasi dan kemudian dengan daya khayalnya ia akan membuat konsep sendiri tentang dunia, serta mengaitkannya dengan hal-hal yang telah ia pahami terdahulu.

• PENGALAMAN DI MASA LALU

Rasa takut dapat merupakan hasil dari pengalaman terdahulu yang bermakna besar bagi anak, baik itu yang dialami oleh anak itu sendiri atau pengalaman orang lain yang teramati oleh anak.

Lalu mengapa anak bisa takut ketinggian? Pada tahap perkembangan tertentu ini adalah salah satu penanda mulai berkembangnya kemampuan spasial dalam diri anak. Prasekolah kini tahu mana yang area/wilayah yang lebih tinggi mana yang bukan.

Namun, saat anak menunjukkan rasa takut yang konsisten dan berlangsung di rentang usia yang cukup panjang, maka keempat faktor di atas perlu dicermati. Kita perlu mengamati dengan saksama bagaimana respons emosi anak terhadap peristiwa di sekitarnya, bagaimana ia menganggap pengalaman berada atau beraktivitas di tempat yang lebih tinggi, apa yang ia bayangkan tentang ketinggian, serta apakah ada trauma pengalaman negatif sebelumnya terkait ketinggian. Perlu dicatat, reaksi kita pun harus konstruktif saat menghadapi ketakutan anak. Jangan malah menilai anak dengan respons meremehkan, “Ah masa begitu saja takut.” Justru kita perlu menelisik lebih jauh mengapa anak bisa takut ketinggian.

TEPAT MENANGANINYA

Saat anak menunjukkan rasa takut, terkadang kita panik dan kemudian menjadi over-protective. Namun, tak jarang pula yang bereaksi dengan menghukum dan memaksa anak untuk melawan rasa takutnya secara “kilat” Kedua respons ini terbukti tidak efektif dan berpotensi menimbulkan masalah yang lebih kompleks. Widya menjelaskan, ada beberapa teknik yang lebih baik yang dapat kita lakukan untuk mengatasi rasa takut anak terhadap ketinggian. Pahami rasa takut anak dan ajak ia berdiskusi dengan sikap empatik dan bahasa yang mudah ia pahami. Ingatlah bahwa orangtua sebagai sosok yang telah berusia dewasa pun memiliki rasa takut terhadap hal-hal tertentu. Hal ini akan memudahkan kita untuk memahami rasa takut anak. Jelaskan pada anak bahwa setiap orang memiliki rasa takut, tetapi kita dapat belajar untuk mengatasinya agar tidak berlebihan. Yakinkan ia bahwa peristiwa buruk yang ia takutkan dapat dihindari jika ia berhati-hati.

Hindari menyepelekan atau menjadikannya bahan bercandaan, apalagi di hadapan orang lain. Alih-alih membuat ia menjadi lebih berani, hal ini malah akan berisiko memunculkan permasalahan psikologis lain.

Mengatasi rasa takut bukanlah sesuatu yang instan. Rasa takut yang telah berkembang selama bertahun-tahun tidak akan hilang hanya dalam sekejap. Anak dapat dibantu untuk menghadapi hal-hal yang membuat ia takut secara bertahap dan tanpa paksaan, misalnya dengan memulai ia untuk menaiki tempat yang yang tidak terlalu tinggi (seperti beberapa tingkat anak tangga), mendampingi di awal-awal prosesnya, hingga ke ketinggian yang lebih jauh dan secara mandiri. Jika anak mulai menunjukkan rasa takut, tidak masalah untuk menghentikan latihan pada level tersebut, tetapi tidak lupa beri apresiasi atau pujian agar ia bersemangat untuk mencoba lagi di lain waktu. Ajak anak berimajinasi tentang situasi di ketinggian. Misalnya, mengajak ia menyimak cerita tentang tupai yang senang memanjat pohon atau membayangkan melihat sarang burung di atas pohon, liburan dengan naik pesawat terbang, dsb.

Bersikap mendukung dan tidak semata-mata menyalahkan anak atas rasa takutnya.

Sebaiknya memang ketakutan terhadap ketinggian ini bisa tertangani lebih awal di usia dini. Seiring dengan bertambahnya usia anak, akan semakin banyak pula jangkauan eksplorasinya. Untuk hal tersebut, anak perlu dukungan agar ia berani menerima tantangan dan mengatasi hambatan-hambatan yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, jika di usia dini ia mulai mengembangkan rasa takut, ada baiknya segera diatasi.

Jika berlarut-larut, rasa takut ketinggian yang berlebihan dapat menjadi penghambat bagi anak untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Umumnya, anak usia prasekolah hingga usia sekolah akan belajar banyak dari pengalamannya. Aktivitas motorik seperti berlari, melompat, dan memanjat akan membantu ia belajar lebih banyak. Begitu juga pengalaman menjajaki tempat-tempat baru. Ini artinya anak akan sering menghadapi situasi berada di ketinggian. Jika di usia yang lebih besar anak masih mengembangkan ketakutan itu, jangkauan eksplorasinya akan menjadi lebih terbatas dan anak dapat kehilangan banyak kesempatan belajar. Tanpa sadar, anak membatasi dirinya sendiri dengan enggan mencoba sesuatu yang baru, semata karena ia yakin punya ketakutan tertentu. Selain itu, anak yang tidak terlatih untuk mengatasi rasa takut akan menghadapi risiko gangguan kecemasan yang lebih kompleks, dan hal ini berpotensi menghambat fungsi sosialnya kelak.

Hindari menyepelekan atau menjadikan rasa takut anak sebagai bahan bercandaan, apalagi di hadapan orang lain. Alih-alih membuat ia menjadi lebih berani, hal ini malah akan berisiko memunculkan permasalahan psikologis lain.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.