ANAK CEMAS, KENAPA?

Diajak kenalan, gigit jari. Diminta menyanyi, malah memainkan ujung bajunya. Batita sudah bisa cemas?

Nakita - - HALAMAN DEPAN - Oleh: Amanda Setiorini

Salah satu penyebabnya justru orangtua! Coba cek mungkin Mama Papa tipe orangtua yang terlalu sering melarang anak bereksplorasi.

Mama Papa mungkin juga mengalami hal ini. Ketika diajak melakukan sesuatu, umumnya yang berkaitan dengan lingkungan sosial yang lebih besar, si batita justru “melarikan diri”. Ada yang diam saja sambil gigit jari, ada yang perlahanlahan mundur dan pergi. Ini terjadi pada Vina ketika mengajak batitanya lomba minum susu ketika tujuh belasan lalu. “Athar cuma diam saja ketika diajak lomba. Saya ngobrol sebentar dengan ibu lain, tibatiba dia menangis,” kata Vina.

TIGA KEMUNGKINAN

Para ahli menyebutnya sebagai nervous habit, Ma. “Nervous habit tidak begitu saja muncul pada diri anak,” ujar Psikolog Afif Kurniawan. Menurut Afif, nervous habit—yang di usia dewasa dapat menyebabkan seseorang menjadi kurang percaya diri dan sulit mengambil keputusan—muncul karena adanya beberapa kemungkinan.

Salah satunya adalah pola asuh. Afif menjelaskan, “Beberapa orangtua sering mengucapkan kata-kata seperti, ‘Awas lo ya nanti kamu jatuh’, ketika anak hendak mencoba melakukan gerakan memanjat atau berlari menuju objek tertentu.” Atau, menakut-nakuti anak agar tidak melakukan hal yang membahayakan dirinya, dengan membuat anak berpersepsi bahwa benda tertentu jahat, berhantu, berbahaya. “Kondisi tersebut terkadang diperparah dengan penggunaan nada bicara yang keras atau tinggi, sehingga anak menjadi semakin ketakutan,” urainya.

Kemungkinan kedua adalah karena terjadi fiksasi pada fase oral. Pada usia 0-2 tahun, anak mengembangkan prinsip pemuasan akan dorongan dasar yang berkembang di area mulut, dalam bentuk memasukkan benda ke mulut. “Mengisap puting ibu atau dot saat minum susu, memasukkan jari, menggigit botol, adalah contoh pemuasan dorongan dasar bayi,” ujar Afif. Fiksasi berarti terjadi hambatan yang merintangi terlampauinya fase ini dengan baik. Anak yang seharusnya mendapatkan kenyamanan dan kesenangan dari rangsangan oral, mendadak tidak mendapatkannya. Hal ini memicu anak mengembangkan rasa tidak percaya terhadap orang lain di sekitarnya. Hal ini membuat anak menjadi gelisah, takut, dan tak nyaman. Menurut Afif, “Di usia dewasa, anak seperti ini akan berkembang menjadi individu yang memiliki ketergantungan pada orang lain dan agresi oral.” Karena yang terhambat adalah fase oral, tak heran nervous habit cenderung berkaitan dengan mulut. Selain menggigit kuku, beberapa anak menunjukkan perilaku mengisap ibu jari atau empeng. Ini berarti anak menemukan kenyamanan dan kenikmatan saat memuaskan kebutuhan oralnya, dengan cara mengisap.

Kemungkinan ketiga adalah karena terjadi perubahan situasi. Bisa terjadi disebabkan ada pengasuh atau orang baru di rumah, pindah tempat tinggal, ataupun ritme aktivitas orangtua yang berubah, semuanya dapat menyebabkan anak menjadi gelisah karena harus menyesuaikan diri kembali.

BERITA BAIK: TIDAK MENETAP

Perilaku yang menunjukkan nervous habit dapat bermacam-macam. Selain menggigit kuku dan memainkan baju, batita mungkin juga menunjukkan perilaku seperti menarik-narik rambutnya, menggeletukkan gigi, serta perubahan pada pola tidur dan makan.

Apa yang dapat Mama Papa lakukan? Berusaha menghentikannya bisa jadi menimbulkan masalah. Ini karena umumnya perilaku tersebut dilakukan anak tanpa ia sendiri menyadarinya. Jika anak menggigiti kuku, misalnya, lalu Mama Papa memaksanya berhenti karena menganggap perilaku tersebut kurang baik. “Maka hal itu biasanya justru memperparah keadaan anak,” ujar Afif, “Anak akan cenderung mengulangi perilaku tersebut, bahkan lebih parah daripada sebelumnya.”

Tapi Mama Papa tidak perlu khawatir. Nervous habit merupakan perilaku yang muncul karena adanya penyebab yang jelas, sehingga bisa diatasi dan dihilangkan. Untuk itu kita perlu mengamati dan mengidentifikasi apa penyebab anak menunjukkan perilaku tersebut. Apakah ketika ada orang yang baru dikenal? Apakah ketika diminta melakukan sesuatu yang tidak biasa? Afif menegaskan bahwa orangtua perlu lebih peka dalam mengenali kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan anak mengalami nervous habit.

Meski bukan perilaku yang menetap, Mama Papa tentu perlu upaya untuk membantu

Nervous habit tidak begitu saja muncul pada diri anak, melainkan salah satunya akibat pola asuh yang sering melarang anak bereksplorasi.

Tapi Mama Papa tidak perlu khawatir. Nervous habit merupakan perilaku yang muncul karena adanya penyebab yang jelas, sehingga bisa diatasi dan dihilangkan.

batitanya melewati hal ini. Afif menyarankan untuk melakukan pendekatan komunikasi yang baik, terutama bila batita sudah bisa berkomunikasi dengan lebih jelas. Jika belum, Mama Papa tetap perlu mendekati buah hatinya untuk mengurai ketakutan atau kecemasannya.

“Selain itu perilaku nervous habit perlu dihambat dengan memasangkan dengan hal yang kurang nyaman,” ujar Afif, “Misalnya memasang plester pada jari yang sering diisap atau pada kuku yang digigiti. Hal ini membuatnya lama-kelamaan akan mengurangi intensi untuk melakukan nervous habit.”

Yang utama adalah melakukan perubahan berdasarkan identifikasi penyebab. Jika faktor penyebab nervous habit telah ditemukan, Mama-papa dan orang dewasa lain di sekitar anak dapat melakukan upaya untuk mengatasi masalah tersebut. Contoh, ketika pindah rumah, maka orangtua perlu meluangkan waktu untuk menemani buah hatinya mengeksplorasi lingkungan di sekitar tempat baru, mencarikan teman bermain yang sebaya, dan membuat anak mengenal lingkungan baru tersebut sebaik lingkungan lamanya.

Tanpa bantuan Mama Papa dan orang dewasa di sekitarnya, anak akan berkembang dengan memiliki persepsi yang negatif tentang kemampuan dirinya: mengembangkan rasa kurang percaya diri, bahkan minder di lingkungan. “Anak akan berkembang menjadi individu yang mudah cemas dan gelisah dalam melakukan sesuatu,” tegas Afif. Anak juga cenderung sulit memahami konsep sosial sederhana, sulit membangun hubungan emosional dengan lingkungan, serta sulit mengembangkan kemampuan untuk mengekspresikan perasaannya. Selain itu, jika dengan nervous habit ia mengalami gangguan untuk beraktivitas fisik dengan temantemannya, ada kemungkinan pula kemampuan fisik dan motoriknya kurang berkembang. Nah, kita tentu tak ingin hal seperti itu terjadi.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.