Tumor di Otak Membuat Anakku Lumpuh

Awalnya dikira “ketempelan” makhluk halus, ternyata anakku menderita tumor otak dan hidrosefalus pula. Gejalanya: muntah-muntah, mata jereng, kejang-kejang, dan bicara agak terbata.

Nakita - - JENDELA - Oleh: Dwi Ayuningtyas

Anakk¡u terkena tumor teratoma, tumor yang berisi jaringan, di otaknya. kata dokter, ini lebih karena bawaan genetik. Penyebabnya pun hingga kini tak dapat diketahui pasti. Saya menerima ini sebagai cobaan yang harus dengan tegar saya dan suami hadapi.

Gejala tumor muncul ketika Althaf berusia 2 tahun 10 bulan. Ia sering mengalami kejang-kejang. Intensitasnya sekitar satu menit yang terkadang disertai muntah-muntah dan matanya jereng. Uniknya, banyak yang bilang kalau gejala tersebut muncul karena Althaf “ketempelan” makhluk halus. Saya pun sempat membawanya ke tukang urut bayi dan juga dibilangnya ketempelan. Tukang urutnya sempat berusaha mengusir makhluk halus, “Namanya siapa? Hayo, ngapain di tubuh Althaf?” Sampai-sampai suami saya pun membacakan ayat kursi hingga ia dicakar.

Sebelum akhirnya saya tahu dari beberapa orangtua yang anaknya mengalami tumor otak, gejala tumor memang demikian: kejang-kejang, muntah, mata jereng, dan bicara agak terbata. Hal ini ada penjelasan logisnya. Suara yang berbeda dan terbata-bata itu sebenarnya karena jaringan saraf seluruh tubuh sudah terganggu lantaran adanya tekanan di otak sehingga Althaf sulit mengendalikan suaranya. Sementara cakaran Althaf karena ia sedang menahan sakit.

TUMOR MEMBUAT ALTHAF LUMPUH kami belum menyadari penyakit ini sampai kemudian Althaf semakin sering kejang dan akhirnya lumpuh. Ia tak bisa duduk, hanya tiduran. Tentu kami sedih, Althaf yang tadinya aktif, sudah bisa berguling di usia 2 bulan, mulai belajar merangkak di usia 4 bulan, di usia 7 bulan sudah bisa berdiri sendiri, lalu belajar berjalan dengan merambat, akhirnya terkulai di tempat tidur. Akhirnya, kami membawanya ke RS Fatmawati Jakarta Selatan untuk melakukan pengobatan.

Saat pertama masuk rumah sakit, tangan dan badannya masih bisa digerakkan. Namun dua hari kemudian, ia terpaksa masuk high care unit (HCU) karena dokter bilang badannya lumpuh separuh. Hingga masuk HCU pun, dokter belum tahu penyakit Althaf. katanya, harus menunggu hasil ct scan yang baru dilakukan keesokan harinya. Tentu saya sangat sedih dan waswas, Althaf cepat sekali drop, ditambah harus menunggu hasil pemeriksaan ct scan.

Setelah hasil ct scan keluar, Althaf dinyatakan mengalami tumor di kepalanya dan ada hidrosefalus pula, yaitu peningkatan produksi cairan di otak. Nah, hidrosefalus inilah yang membuat Althaf kejangkejang. Selain syok mendapat kabar ini, saya juga masih bingung apa yang harus dilakukan selanjutnya. Saya ikuti saran dokter untuk melakukan pertolongan pertama dengan pasang Vp-shunt (Ventriculoperitoneal Shunting) guna mengeluarkan cairan otak karena dikhawatirkan akan semakin menekan dan merusak otak. Selang pun disambungkan dari otak ke lambung melalui bawah kulit.

keesokan harinya, sore, Althaf kritis. kami langsung menyetujui saran dokter agar dilakukan pemasangan Vp-shunt pada malam itu juga. kami sempat panik karena harus cari darah golongan AB yang lumayan sulit, sementara Althaf sangat membutuhkannya. Alhamdulillah, kami mendapatkan pertolongan dari komunitas donor darah online.

ALTHAF SEMANGAT SEKALI INGIN SEMBUH Dari ruang ICU hingga HCU, kondisi Althaf tidak banyak berubah. Ia belum bisa bangun, gerakan masih sangat minim, dan tidak bicara sama sekali. kondisi itu berlangsung hingga satu bulan, tetapi kami bersyukur, kondisi Althaf stabil. Setelah dirawat sebulan di RS Fatmawati, Althaf harus pindah ke RS cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk menjalani operasi pengangkatan tumor. Di RSCM, Althaf harus menjalani prosedur dari awal kembali, observasi dokter, cek laboratorium, dan MRI. Althaf juga harus mengantre untuk mendapatkan jadwal operasi karena pasiennya sangat banyak, dari Sabang sampai Merauke. Althaf dapat nomor antrean 200. Alhamdulillah, jalannya dimudahkan, jadwalnya dipercepat karena kami kebetulan kenal dengan dokter bedah saraf yang menangani operasi.

operasi pengangkatan tumor adalah operasi besar. Tengkorak kepala Althaf dilubangi untuk memasukkan alat, lalu tumornya dikeluarkan sedikit-sedikit supaya tidak merusak jaringan otak di sekitarnya. operasinya pun cukup lama, mulai pukul 9.00 hingga 19.30. Itu pun belum bisa mengangkat seluruh tumor karena posisinya susah. Untuk sementara yang diambil hanya yang menekan saraf-saraf tertentu. Seharusnya ada operasi lanjutan, tetapi belum kembali dilakukan karena hingga saat ini tidak muncul gangguan pada Althaf. Jika nanti muncul gangguan lagi, maka harus dioperasi lagi.

Alhamdulillah, setelah operasi pengangkatan tumor, proses penyembuhan berlangsung cepat. Sehari setelah masuk ruang rawat inap, Althaf mulai banyak bergerak, mengeluarkan suara untuk pertama kalinya usai operasi, mau belajar berdiri, dan ia bisa berjalan sendiri hanya dalam waktu seminggu. Dia semangat sekali untuk sembuh, saya sangat terharu. Tumbuh kembangnya pun sangat baik, perkembangan motoriknya sangat bagus, ia malah terkesan tidak bisa diam. kemampuan bicaranya pun bagus, bisa menirukan orang lain. Dia, kan, sangat suka dengan Ipin Upin, bicaranya pun mirip dengan gaya Ipin Upin. Malah kalau bicara terkadang dewasa sekali, misalnya, sering menasihati kakaknya yang berusia 9 tahun untuk segera salat ketika terdengar azan.

Dokternya pun bilang, sebaiknya Althaf jangan dibatasi, perlakukan saja seperti anak-anak normal lainnya. kalau dibatasi, takut pertumbuhan kemampuannya terhambat, juga ia menjadi minder. Saya bersyukur sekali dengan perkembangan Althaf. Meski dulu dokter sempat bilang kalau Althaf akan lumpuh atau harus dari nol lagi mengajarinya, alhamdulillah, seperti ada keajaiban. Tentu Althaf harus tetap kontrol ke dokter setiap setahun sekali untuk melakukan MRI ulang. Semoga Althaf segera sembuh.

(Seperti diceritakan kepada Irfan Hasuki dari nakita)

ILUSTRASI: istock

Dwi Ayuningtyas (37), istri dari Bernadi Catur Pamungkas (39), mama dari Althaf Satria Adityas (5)

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.