AJARKAN BERSAING SEHAT

Untuk mengajarkan konsep menang kalah pada anak prasekolah perlu dilakukan dengan cara yang konkret dengan memberikan contoh nyata.

Nakita - - HALAMAN DEPAN - Oleh: Anindita Subawa

Menjadi pemenang itu gampang. Tetapi bagaimana cara mengajari anak untuk bersaing secara sehat dan siap menerima kekalahan?

Arla (5) tertunduk sedih mendengar namanya tidak disebut dalam pengumuman pemenang lomba mewarnai. Air matanya menetes dan ia memeluk ibunya. “Arla enggak menang, Bu. Huhuhuhuhu.”

“Sudah tidak apa-apa, Arla. Nanti kita latihan lagi dan mencoba lagi di lomba lain ya.”

“Tapi gambar Arla lebih bagus daripada yang menang, Bu!”

“Hmm… kan yang menilai kakak yang di situ, bisa saja kakak itu punya pendapat berbeda.”

“Arla enggak suka kalah, Bu! Arla harus menang!”

Bagi anak prasekolah, konsep menang kalah dalam sebuah kompetisi boleh jadi abstrak. Pola pikir anak yang masih egosentris dan menempatkan dirinya sebagai “pusat dunia’’ di sekitarnya bisa menjadi salah satu penyebab anak belum paham menang kalah. Hal ini ditambah dengan sikap orangtua atau keluarga dekat yang tanpa disadari menempatkan prasekolah sebagai “raja atau ratu kecil.” Akibatnya, anak merasa dan berpikir ia harus selalu menjadi pemenang. Ia harus mendapatkan apa yang ia inginkan.

Tentunya hal tersebut tidak dapat berlangsung begitu seterusnya. Lambat laun, anak harus menyadari bahwa tak selamanya ia menjadi satu-satunya pemenang, atau malah di lain waktu ia bisa kalah.

Sepanjang hidup anak kelak, ia akan bertemu dengan persaingan. Tak cuma persaingan dalam arti kompetisi atau lomba, tetapi juga dalam keseharian seperti “bersaing” dengan kakak/ adik. Mau tak mau, kitalah yang harus memperkenalkan pada prasekolah apa sesungguhnya arti bersaing, termasuk menang kalah dan juga sportivitas. Tentu setiap orangtua ingin anak menjadi pemenang. Namun, agar bisa merasakan nikmatnya kemenangan, maka prasekolah juga perlu merasakan bagaimana kegagalan itu terjadi.

MENANG-KALAH HAL WAJAR

Psikolog Intan Kusuma Wardhani menuturkan, prasekolah perlu diberi pemahaman bahwa dalam suatu kompetisi pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Saat berkompetisi, prasekolah perlu dimotivasi agar berusaha keras. Meskipun demikian, bukan berarti kalah adalah sesuatu yang buruk. “Kekalahan adalah pemicu semangat untuk berusaha lebih baik lagi,” jelas Intan.

Kemudian, kita perlu memberi pemahaman bahwa kemenangan harus diperoleh dengan cara yang baik, yakni berusaha semaksimal mungkin, bukan dengan perbuatan curang. Kemenangan yang diperoleh dengan cara curang, tidak layak untuk disebut sebagai kemenangan. Jelaskan pula pada anak, contoh-contoh perbuatan curang dalam suatu kompetisi.

Bagaimana menjelaskannya? Hal-hal seperti ini akan mudah kita jelaskan pada anak saat anak mengikuti suatu perlombaan. Saat anak berkompetisi sebaiknya orangtua tidak hanya merespons dan menghargai hasil akhirnya saja, melainkan juga proses dan usaha yang dilakukan oleh anak. Contoh, “Wah, tadi Kakak hebat mewarnainya. Mama perhatikan Kakak tekun sekali, lo!” Hargai pula setiap perkembangan anak menuju kemampuan yang lebih baik dari sebelumnya. Misalnya, pada lomba kali ini, prasekolah lebih mampu berkonsentrasi mewarnai gambarnya dan tidak tengok-tengok kanan kiri.

Selanjutnya, Mama Papa juga perlu mempersiapkan diri menerima apa pun yang dialami anak. Kadang, kita sendiri yang tak tega melihat anak sedih karena kalah. Ujung-ujungnya, kita melakukan hal untuk menghibur anak, tetapi kadang kurang tepat caranya. Misalnya, anak kalah dalam lomba lari. Ia sedih karena temannya berhasil mendapatkan medali, sementara ia tidak. Anak merengek agar bisa punya medali. Alihalih menghibur anak dan mengajaknya agar menerima kondisi tersebut, kita malah membelikan medali atau hadiah lainnya semata agar anak bahagia. Atau, bisa juga dengan komentar membela anak seperti ini, “Menurut Ayah,

Agar bisa merasakan nikmatnya kemenangan, maka prasekolah juga perlu merasakan bagaimana kegagalan itu terjadi.

harusnya kamu yang menang! Tadi temanmu itu kayaknya mencuri start, deh.”

Jadi jauh lebih baik dalam kondisi menang ataupun kalah, anak tetap termotivasi melalui perkataan kita orangtuanya dengan memilih kata-kata yang tepat. Yaitu memberi pujian saat anak menang, tetapi hindari memarahi, menyalahkan atau merendahkan anak saat ia kalah. Hal ini akan membuat anak merasa bahwa ia hanya mendapat perhatian saat menang saja, sehingga ia akan mudah tertekan dan sulit menerima kekalahan. Begitu pula dengan komentar yang bermaksud membela anak, tetapi dengan menjatuhkan orang lain atau mencari kesalahan orang lain. Kalimat seperti contoh di atas tidaklah bijak kita ungkapkan pada anak, sekaligus tak membuatnya belajar dari kekalahan yang ia alami.

BERIKAN CONTOH KONKRET

Intan menuturkan, untuk mengajarkan konsep menang kalah pada anak prasekolah perlu dilakukan dengan cara yang konkret atau memberikan contoh nyata. Anak akan lebih mudah paham melalui praktik langsung, seperti melalui permainan yang mengandung unsur kompetisi sederhana. Contohnya balap lari, lomba memasukkan bola ke dalam keranjang, lomba menyusun balok, dan lain sebagainya. Selain itu, dapat pula dengan cara mengajak anak menonton sebuah kompetisi, seperti menonton pertandingan olahraga.

Saat menonton, beri pemahaman sederhana pihak mana yang menang dan yang kalah, bagaimana kemenangan dapat diperoleh, serta bagaimana contoh perilaku sportif pada pertandingan tersebut. “Kak, lihat itu, pembalap yang motornya hijau kalah. Mukanya kelihatan sedih, tapi lihat, dia hebat tidak marah dan mau bersalaman memberi selamat pada yang menang.”

Intan menekankan, mengenalkan sikap sportif pada anak prasekolah adalah unsur penting dalam tumbuh-kembangnya. “Anak prasekolah mulai memasuki dunia pergaulan yang lebih luas. Jika sebelumya ia lebih banyak di rumah dan berinteraksi dengan orangtua saja, pada masa prasekolah anak sudah mulai berinteraksi dengan teman-teman sebaya maupun orang-orang lebih dewasa yang baru ia kenal. Saat bergaul dengan anak-anak lain, prasekolah akan mulai merasakan adanya persaingan dalam bermain, perbedaan pendapat, ataupun perselisihan. Nah, di sinilah diperlukan sikap sportivitas. Karena hal ini akan berpengaruh pada relasi anak dengan siapa pun hingga ia dewasa kelak. Kalau tidak pernah dikenalkan dengan sportivitas, akan sulit menerima kekalahan sehingga mudah tertekan, menarik diri dan rendah diri. Selain itu, anak juga dapat menjadi sulit untuk mengakui kesalahan sehingga cenderung senang menyalahkan orang lain serta senang berbuat kecurangan.”

Intan lalu menguraikan beberapa keuntungan mengajarkan sportivitas pada anak, antara lain: • Anak akan lebih dapat menghargai kebaikan dan keberhasilan orang lain. • Anak akan tumbuh sebagai pribadi yang tangguh, tidak mudah stres saat menemui kekalahan atau kegagalan. • Anak akan tumbuh sebagai pribadi yang pandai mengevaluasi kesalahan serta kekurangan diri, dan berusaha keras untuk menjadi pribadi yang lebih baik. • Anak akan tumbuh sebagai pribadi yang mudah beradaptasi dengan berbagai tantangan pergaulan. • Anak akan tumbuh sebagai pribadi yang memahami pentingnya menggunakan caracara yang baik dalam memperoleh keberhasilan.

Bagaimana dengan kekalahan? Memang kekalahan adalah sesuatu yang mungkin sulit diterima atau dipahami prasekolah pada awalnya. Namun, mau tidaknya anak menerima sebuah kekalahan juga tergantung bagaimana kita menyikapi kekalahan tersebut. Kita yang membentuk pemahaman pada anak bahwa menang kalah adalah hal wajar dalam bersaing. Maka, kekalahan sama seperti halnya kemenangan, bagian dari konsekuensi yang perlu ditanggung jika anak berkompetisi.

Untuk itu, berilah pemahaman pada anak bahwa kekalahan bukanlah sesuatu yang buruk. Kekalahan adalah sebuah penyemangat bahwa di lain waktu anak perlu berlatih dan berusaha lebih baik lagi. Kita juga bisa menjelaskan pada si prasekolah, upaya apa saja yang kiranya dapat dilakukan agar di lain waktu anak dapat merasakan kemenangan. Tak lupa, beri pelukan dan sentuhan hangat pada anak saat ia sedih, marah, atau kecewa karena mengalami kekalahan. Akui dan terima perasaannya tersebut dengan cara merefleksikan dalam bentuk kata-kata. Misalnya, “Mama tahu, kamu pasti sedih ya tadi belum bisa menang.”

Berilah anak apresiasi atas upaya yang sudah ia lakukan, meskipun ia belum berhasil menang. Contohnya, “Kakak hari ini memang belum menang, tapi bagi Mama kamu hebat, lo. Tadi Mama lihat kamu sungguh-sungguh dan semangat sekali bertandingnya. Lihat, teman-temanmu yang lain jadi ikut semangat.” Terakhir, kita pun harus memberikan contoh sikap sportif pada anak, salah satunya dengan mau mengakui kesalahan dan meminta maaf saat orangtua melakukan kesalahan. Selain itu, orangtua juga dapat memberi contoh sikap yang baik saat mengalami kegagalan atau kekecewaan.

Saat bergaul dengan anak-anak lain, prasekolah akan mulai merasakan adanya persaingan dalam bermain, perbedaan pendapat, ataupun perselisihan. Nah, di sinilah diperlukan sikap sportivitas.

Narasumber: Intan Kusuma Wardhani, Mpsi. Psikolog di Instalasi Kesehatan Anak RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.