Untungnya SECARA NORMAL

Mama, setidaknya ada 7 keuntungan yang menjadikan persalinan normal layak diutamakan.

Nakita - - KEHAMILAN & PERSALINAN - Oleh: Irene J. Haris

Seiring dengan semakin meningkatnya angka persalinan sesar di dunia, para ahli mulai kembali giat mengajak para mama untuk lebih memprioritaskan persalinan normal. Ini berarti, melahirkan secara normal sebaiknya menjadi pilihan utama, kecuali ada alasan medis yang membuat Mama pada akhirnya harus melahirkan melalui operasi sesar. Ada sejumlah keuntungan yang bisa didapat bila melahirkan normal dan manfaat ini telah didukung oleh berbagai penelitian, lo. Yuk, simak beragam keuntungan tersebut!

1Proses pemulihan lebih cepat. Persalinan melalui vagina memang menjadi perjalanan yang panjang, menyakitkan, dan menguras mental serta fisik Mama. Namun, tak lama setelah melahirkan, Mama bisa merasa lebih baik, meski belum bisa dibilang normal. Dengan melahirkan secara normal, Mama tak mendapat jahitan di area perut yang biasanya membutuhkan waktu pemulihan lebih lama. Selain itu, hormon endorfin yang dilepaskan selama persalinan akan membantu meredakan rasa sakit.

Faktor-faktor inilah yang membuat organisasi besar di bidang kebidanan dan kandungan seperti American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) merekomendasikan para mama untuk lebih memilih persalinan normal jika tak ada alasan medis yang meng- haruskan untuk sesar. Rekomendasi ini secara resmi dipublikasikan di jurnal Obstetrics & Gynecology (April 2013).

2Mama dan bayi bisa cepat pulang ke rumah. Dalam jurnal Obstetrics & Gynecology, rekomendasi dari ACOG supaya Mama melahirkan normal juga didasarkan pertimbangan bahwa Mama dan bayi tak perlu menghabiskan waktu terlalu lama di rumah sakit. Di Indonesia, lamanya waktu menginap bagi mama yang melahirkan normal sekitar 2—3 hari. Sementara jika melahirkan melalui tindakan sesar, sekitar 4—5 hari. Dari segi perhitungan biaya, tentu saja akan lebih ekonomis bila melahirkan normal. Belum lagi jika diperhitungkan biaya tindakan medis yang dibutuhkan.

3Mendukung kesuksesan menyusui. Studi yang dilakukan di Inggris dan Irlandia oleh Trinity College Dublin menemukan adanya kaitan kuat antara persalinan normal yang dilakukan di rumah dengan kesuksesan menyusui. Penelitian yang dimuat di British Medical Journal Open (Agustus 2016) ini memaparkan, mama yang menjalani persalinan normal di rumah umumnya akan segera menyusui setelah melahirkan. Selain itu, aktivitas menyusui secara eksklusif ini juga akan terus berlanjut hingga 6 bulan ke depan, sesuai dengan panduan dari lembaga kesehatan dunia WHO.

Bagaimana dengan persalinan di rumah sakit? Nah, penelitian yang dilakukan University of Calgary, Kanada memperlihatkan hasil yang hampir sama. Menurut riset yang dimuat di jurnal BMC Pregnancy and Childbirth (April 2016) ini, dibandingkan dengan mama yang menjalani persalinan normal, mama yang melahirkan sesar cenderung mengalami kesulitan dalam menyusui. Selain itu, mama juga memerlukan sumber daya yang lebih besar, sehingga akan memengaruhi lamanya menyusui. Mama yang melahirkan sesar cenderung memiliki durasi menyusui lebih pendek daripada mama yang melahirkan normal.

4Membentuk pengalaman melahirkan yang positif. Hasil survei yang dilakukan organisasi Birthright di Inggris memperlihatkan, pengalaman melahirkan, apalagi yang pertama kalinya, akan berpengaruh terhadap perasaan Mama, diri sendiri, serta hubungan dengan pasangan dan bayi mereka. Dalam laporan berjudul “Dignity in Childbirth” yang dipresentasikan pada Birthrights Dignity in Childbirth Forum (Oktober 2013), sebanyak 78% mama menyatakan, pengalaman melahirkan normal membentuk perasaan positif terhadap dirinya sendiri.

Sementara itu, penelitian yang dimuat di BMC Pregnancy and Childbirth (Agustus 2014) memaparkan, emosi dan momen-momen pertama bersama bayi saat baru dilahirkan merupakan elemen penting yang memengaruhi pengalaman melahirkan. Mama yang melahirkan secara normal mengakui mengalami luapan perasaan positif yang berhubungan dengan kebahagiaan, “momen ajaib”, hingga “hari terindah dalam hidup”. Selain itu, terlepas dari sakit yang dirasakan saat melahirkan, mama yang melalui persalinan normal juga merasa telah berhasil meraih pencapaian dalam hidupnya. Bagi sebagian mama, rasa sakit adalah salah satu bagian dari pengalaman melahirkan yang memberikan makna bagi proses transisinya menjadi seorang ibu.

5Terbebas dari nyeri kronis jangka panjang. Proses persalinan sering kali melibatkan terjadinya cedera fisik, terutama pada mama yang melahirkan normal. Banyak mama khawatir cedera fisik ini akan membuat mereka menderita nyeri kronis. Namun, peneli-

Mama yang melahirkan secara normal mengakui mengalami luapan perasaan positif yang berhubungan dengan kebahagiaan, "momen ajaib", hingga "hari terindah dalam hidup".

tian yang dimuat di jurnal Anesthesiology (Januari 2013) memaparkan, sekitar 10% mama masih merasakan sakit hingga 2 bulan setelah melahirkan, tetapi hal ini tidak akan membuat mama menderita nyeri kronis jangka panjang. Menurut ahli, jarang ada mama yang masih mengalami rasa sakit dalam waktu 6 hingga 12 bulan usai melahirkan. “Dari hasil penelitian ini, kami menduga adanya mekanisme perlindungan yang diaktifkan pada saat persalinan, sehingga bisa mencegah mama mengalami nyeri kronis akibat cedera fisik,” kata James C. Eisenach, MD, Profesor Anesthesiology-obstetric dan Gynecologic Anesthesia pada Wake Forest Baptist Medical Center, Amerika Serikat.

Sementara penelitian kedua yang dilakukan ahli dari Wake Forest School of Medicine menemukan adanya perubahan biologis setelah persalinan yang dapat mencegah Mama menderita nyeri kronis. Ternyata, meningkatnya konsentrasi hormon oksitosin di otak dan sumsum tulang belakang (spinal cord) di masa pascamelahirkan dapat melindungi Mama dari cedera saraf periferal. “Oksitosin yang diproduksi oleh otak dianggap penting bagi ikatan, kepercayaan, rasa cinta, serta kedekatan sosial antara Mama dan bayi. Ternyata, hormon ini juga berfungsi mempercepat pemulihan rasa sakit akibat persalinan,” kata Dr. Eisenach.

6Kesehatan fisik dan psikis lebih baik. Penelitian yang dimuat di jurnal BMC Pregnancy and Childbirth (November 2012) menyebutkan, mama yang menjalani persalinan normal tanpa bantuan alat (seperti: forsep atau vakum) cenderung memiliki tingkat kesehatan fisik dan psikis yang lebih baik. Hal ini jika dibandingkan mereka yang menjalani persalinan normal dengan bantuan alat dan tindakan sesar yang tidak terencana.

Menurut dua ahli yang berasal dari Queensland Institute of Medical Research, Australia dan University of Oxford, Inggris, secara umum mama mengalami gangguan seperti perubahan suasana hati, kecemasan, atau sulit berkonsentrasi dalam kurun waktu 10 hari setelah melahirkan, tetapi kondisi ini akan berangsur membaik pascamelahirkan. Namun mama yang menjalani persalinan normal dengan bantuan alat cenderung melaporkan adanya gejala-gejala berkaitan dengan gangguan stres traumatik pascamelahirkan (post traumatic stres disorder-ptsd). Hal ini dialami dalam kurun waktu beberapa bulan setelah bersalin, misalnya, berupa kilasan pengalaman saat melahirkan.

Sementara gangguan fisik yang dialami biasanya berkaitan dengan rasa lelah berlebihan, masalah menyusui, nyeri pada bekas jahitan, hingga nyeri di area pinggang belakang. Seperti halnya gejala-gejala psikis, gangguan fisik ini juga akan berkurang seiring dengan waktu. Namun, mama yang melahirkan normal dengan bantuan alat dapat mengalami gangguan dalam berhubungan intim serta inkontinensia urine dalam kurun waktu 3 bulan.

7Risiko nyeri saat berhubungan intim lebih rendah. Riset yang dimuat di BJOG: An International Journal of Obstetrics and Gynaecology (Januari 2015) memaparkan, 9 dari 10 mama mengalami rasa sakit ketika pertama kali berhubungan intim usai bersalin. Sekitar seperempatnya melaporkan masih mengalami rasa sakit hingga 18 bulan setelahnya, demikian menurut para ahli dari Australia. Sementara para mama yang menjalani persalinan sesar berisiko dua kali lebih besar mengalami nyeri saat berhubungan. Dengan catatan, mama yang melahirkan normal mengalami sobekan di daerah perineum, tetapi tidak memerlukan jahitan. Para ahli menduga, rasa sakit saat berhubungan intim lebih umum dialami oleh mama yang menjalani operasi, sehingga dibutuhkan lebih banyak perhatian medis untuk membantu para mama mengatasi dampak operasi tersebut usai bersalin.

Nah, semoga Mama bisa ikut menikmati proses melahirkan secara normal!

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.