Berat Badan Turun, Produksi ASI Naik

Turunkan berat badan hingga 8 kg usai melahirkan, begini caranya!

Nakita - - BERANDA - Oleh: Saeful Imam, Gisela Niken

Usai melahirkan, sebagian besar mama mengalami kenaikan berat badan. Sayangnya, beberapa bulan setelah si kecil lahir, berat badan itu tak kunjung surut seperti semula. Saat ditimbang, jarum timbangan melonjak ke kanan secara drastis. Harapannya, jarum jam itu kembali berhenti di posisi sebelum mama hamil.

Padahal, berat badan erat kaitannya dengan kepercayaan diri, citra diri, konsep diri, bahkan dapat berpengaruh pada kesehatan seseorang. Apalagi, dunia sosial media dan trend selfie kerap meminta penampilan terbaik dengan berat badan normal. Memosisikan mama dengan berat badan berlebih bisa menjadi bahan bully. Bagi mama bekerja dengan profesi tertentu yang menuntut tubuh ramping, seperti bagian pemasaran, iklan, layanan pelanggan, dan lainnya, kenaikan berat badan yang tak kunjung susut menjadi persoalan.

Kegundahan ini dialami Mama Gyang Prakasita (24). Mama yang baru saja melahirkan pada Februari 2017 ini mengaku masih sangat kurang percaya diri setelah melahirkan. Setelah mengalami kenaikan berat badan hingga 20 kg ini, Mama Gyang juga kesulitan memilih baju apalagi ketika keluar rumah. “Jadi tidak percaya diri, apalagi perut dan lengan makin gede dan bengkak,” ujarnya.

Mama Anjani Trasila Aulia (28) juga memiliki masalah percaya diri usai melahirkan. Apalagi ia berprofesi sebagai

customer service sebuah bank yang menuntut penampilan langsing singset. Setelah melahirkan, Mama Anjani harus menurunkan berat badan hingga 10 kg untuk kembali ke berat badan semula yakni 45 kg. “Kalau habis melahirkan, harus

pesen seragam kantor lagi dan jadi tidak percaya diri karena perut yang membuncit,” ujarnya.

Begitu pula yang dialami oleh Mama Vania Rahmayanti (23). Pascamelahirkan berat badannya mencapai 55 kg setelah pernah mencapai berat badan 62 kg saat hamil. Meski sudah mengalami penurunan berat badan hingga 10 kg dalam kurun 4 bulan, Mama Vania sempat dilanda rasa tidak percaya diri. “Meskipun enggak merasa gemuk banget tapi memang montok,” ujarnya.

BERAT BADAN NAIK SAAT HAMIL

Menyikapi kegundahan para mama usai melahirkan ini, Dr. Grace Judio-kahl, MSC, MH, CHT menuturkan, saat hamil setiap mama akan mengalami kenaikan berat badan. Normalnya, kenaikan berat badan itu mencapai 11-17 kg. Kenaikan berat badan itu terjadi dipengaruhi oleh:

1. Air Ketuban

Saat hamil, perut Mama seolah dititipi air yang menyumbang kenaikan bobot berat badan hingga 1-1,5 kg, utamanya pada trimester 3 menjelang melahirkan. Itulah cairan ketuban yang berperan penting bagi kehamilan dan tumbuh kembang janin.

2. Ari-ari

Sejak trimester awal, tepatnya di minggu pertama, organ berbentuk lempengan ini sudah ada. Fungsinya sangat vital, yaitu sebagai penghantar oksigen dan zat gizi yang bermanfaat bagi proses tumbuh-kembang janin selama berada di dalam kandungan. Ari-ari menyumbang kenaikan berat badan mama hingga 1-2 kg di trimester akhir.

3. Rahim

Rahim adalah rumah bagi janin. Rahim Mama yang ukurannya semula hanya sebesar jempol, mendadak membengkak hingga sebesar balon. Akibatnya beratnya bisa mencapai 1-2 kg saat hamil.

Itu semua semua belum termasuk berat janin yang di trimester akhir mencapai 2,54 kg atau bahkan lebih, pertambahan lemak sebanyak 1-2 kg, bertambahnya produksi air susu ibu, peredaran darah yang melebar, dan lainnya, sehingga kalau semuanya dijumlahkan, bobot mama hamil sejatinya akan bertambah hingga 11-17 kg.

Meski mengalami kenaikan berat badan, seharusnya setiap mama bisa menurunkan berat badan secara cepat dalam beberapa bulan saja usai melahirkan. “Bahkan, dalam semalam, saat bayinya lahir, berat badan Mama harusnya turun hingga 6 kg.” Penurunan itu terjadi lantaran, saat melahirkan, air ketuban serta ari-ari keluar semua, bayinya juga keluar. “Nah, pada 3-6 bulan usai me-lahirkan, Mama juga seharus-nya mengalami penurunan berat badan hingga 8-10 kg karena peredaran darah sudah mengecil dan normal, ukuran rahim kembali ke semula, dan berbagai fak-

tor lainnya.” Semua penurunan berat badan itu terjadi tanpa Mama melakukan diet apa pun. “Pola makan ini normal sesuai kebutuhan kalori mama menyusui. Kalau Mama berdiet, penurunan berat badannya harus lebih banyak dari itu,” ungkap penulis buku pedoman berat badan untuk dokter berjudul Practical Management of Obesity: a guide for a good provider (2003): co-author bersama dengan Prof. Dr. Gary Wittert (University of Adelaide, Australia) ini.

Untuk itu, bila 6 bulan usai melahirkan, berat badan Mama tidak kembali ke semula alias sebelum hamil, bahkan mengalami kenaikan signifikan, itu merupakan pertanda pengaturan pola makan saat menyusui yang keliru.

POLA MAKAN KELIRU SAAT MENYUSUI

Produksi ASI kalau boleh diibaratkan seperti susu bubuk. Ada kandungan bubuk berupa nutrisi, serta air sebagai tambahan. Hal yang sama berlaku buat ASI. Mama perlu tambahan asupan kalori sebanyak 700 untuk produksi “bubuk” ASI setiap hari. Juga perlu tambahan air minum sekitar 4 gelas, di luar kebutuhan minum hariannya yang mencapai 8 gelas. Kecukupan air ini penting bagi mama menyusui. Sebab, sebagian besar komposisi ASI adalah air. “Mama menyusui ibarat sebuah dispenser berisi air, sedangkan bayi sebagai orang yang minum dari dispenser itu. Dispenser itu tidak boleh kosong agar kebutuhan air si kecil tercukupi. Bila air yang keluar dari dispenser itu sebanyak 2 liter, maka harus diganti dengan jumlah yang sama. Demikian halnya pula dengan produksi ASI. Airnya jangan sampai kurang. Setelah disedot dan diperah, Mama harus minum untuk menggantikannya. Kalau tidak, produksi ASI bisa terganggu.”

Untuk itu, bila kebutuhan kalori normal seorang ibu sekitar 1.600-1.800 per hari, karena menyusui kebutuhannya menjadi 2.300-2.600 per hari. “Hal yang harus diingat, tambahan 700 kalori itu tidak banyak, lo. Kalau diukur dengan nasi, tambahannya sekitar 3 gelas nasi seukuran air mineral.”

Bagaimana bila asupan nutrisi mama kurang? Maka tubuh akan mengambil cadangan nutrisi dari tubuh mama. Dengan kata lain, lemak-lemak yang ada di tubuh mama akan diambil. “Tidak usah heran, mama yang usai melahirkan banyak yang cepat langsing karena faktor ini.”

Sayangnya, banyak sekali mama yang salah memahami kebutuhan nutrisi saat menyusui. “Ada yang beranggapan, semakin banyak mama makan, banyak pula ASI yang akan dihasilkan.” Akibatnya, banyak mama yang makan berlebihan saat menyusui, porsinya menjadi berlipat-lipat. “Ingat, berat bayi itu berapa besar sih, paling banter 4-10 kg, ya pola makan mama yang menyusui secara eksklusif tidak harus menambah porsi makan menjadi dua kali lipat untuk memenuhi bayi dengan berat seperti itu.”

Selain kesalahpahaman tadi, kenaikan berat badan pada mama menyusui juga dipicu oleh kegelisahan dan kepanikan. “Banyak mama yang meragukan kecukupan Asi-nya untuk si kecil, ASI cukup enggak, cukup enggak. Akhirnya, kepanikan itu diwujudkan dalam bentuk makan.” Hal yang harus diingat, ungkap Grace, peluang Mama untuk makan lebih banyak dialami oleh mama menyusui ketimbang mama hamil.

Lalu bagaimana ASI bisa diproduksi dan keluar dengan banyak? Kuncinya ada di hormon-hormon yang ada di otak. Di antaranya hormon prolaktin. Hormon yang diproduksi oleh kelenjar pituari ini yang berperan merangsang sel-sel pembuat ASI. “Biasanya hormon ini keluar saat bayi menangis, sehingga secara otomatis payudara mendapatkan perintah dari otak untuk memproduksi ASI. Sayangnya, bila Mama panik atau stres, hormon ini menjadi berkurang, sehingga produksi ASI menjadi terganggu.” Juga ada hormon estrogen yang merangsang pembuluh darah ASI melebar. Kemudian ada hormon supaya ASI Mama bisa menyemprot keluar, namanya oksitosin. Kalau tambah panik, maka prolaktin berkurang, sehingga Asi-nya juga berkurang.

Kesimpulannya, bukan porsi makannya yang diperbanyak, tapi Mama sebaiknya menjaga suasana hati agar tetap relaks juga tenang sehingga produksi ASI meningkat.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.