RELAKTASI: Mengembalikan Si Kecil Ke Payudara

Si kecil berhenti menyusu langsung dari payudara Mama? Jangan khawatir, Ma. Dengan relaktasi, Mama bisa kembali menyusui si kecil.

Nakita - - USAI BERSALIN -

Bingung puting merupakan penyebab utama bayi berhenti menyusu langsung dari payudara Mama. Keadaan ini biasanya diawali dengan menyusui yang diselingi pemberian ASIP (ASI perah) melalui dot. Karena berbagai kondisi, bayi terpisah dari Mama sehingga bayi minum menggunakan alat bantu. Kondisi itu di antaranya, mama dan bayi tidak rawat gabung pascamelahirkan, mama diopname setelah beberapa waktu menyusui di rumah atau mama selesai cuti dan kembali bekerja. Kondisi lain, misalnya, komentar dari lingkungan sekitar agar memberikan ASI atau sufor melalui dot karena ASI mama tidak cukup, sedangkan bayi tampak masih kelaparan.

Di awal adaptasi mungkin Mama masih rajin memberikan ASI dengan menggunakan sendok dan gelas kecil atau cup feeder (cangkir khusus untuk memberikan ASI kepada bayi). Namun, itu membutuhkan kesabaran dan waktu lebih lama dibanding dengan menggunakan dot. Ketika Mama dan bayi terpisah karena kondisi Mama sakit atau kembali bekerja, lama-lama bayi diberikan minum melalui dot untuk efisiensi waktu. Itu bisa terjadi, baik ketika bayi diurus oleh Mama sendiri maupun orang lain yang membantu. Padahal, pemerintah melarang penggunaan dot pada bayi, lo, Ma. Hal itu diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2012 tentang pemberian ASI Eksklusif. Bayi yang terbiasa dengan aliran deras dari dot lama-lama akan menolak bila disusui. Bayi jadi bingung, bahkan marah dan menangis ketika ditawarkan payudara.

Kalau sudah begini, apakah Mama menyerah untuk menyusui? Jangan, ya, Ma. Masih ada cara yang dapat dilakukan, yaitu relaktasi.

PRINSIP UTAMA RELAKTASI Relaktasi adalah proses mengembalikan bayi menyusu lagi ke payudara. Hal pertama yang perlu dilakukan ialah secara perlahan mengurangi penggunaan dot dan beralih ke sendok serta gelas. Bayi dibiasakan minum melalui sendok, lalu dicoba menyusu langsung ke payudara.

Proses awal relaktasi memang tidak mudah, Ma. Dibutuhkan tekad yang kuat, tekun, dan sabar, terlebih ketika bayi menolak menyusu dan menangis keras. Mama perlu menguatkan hati dan terus berusaha dengan lembut agar bayi mau melekat pada payudara. Skin to skin contact (kontak kulit ke kulit) juga perlu dilakukan agar dapat membantu bayi merasa nyaman ketika melekat pada payudara Mama. Ulangi usaha tersebut sesering mungkin agar bayi terbiasa dengan posisi menyusu langsung dari payudara Mama.

Jika si kecil menolak menyusu karena ASI belum keluar, Mama bisa menyiasatinya dengan meneteskan ASIP ke puting agar bayi dapat melekat ke payudara Mama. Jika si kecil sudah melekat baik pada Mama tetapi produksi ASI masih kurang, Mama bisa menggunakan selang kecil yang ditempelkan ke payudara untuk mengalirkan ASI. Selang yang digunakan yaitu nasogastric tube (NGT) nomor 5. Ujung selang yang kecil ditempelkan ke puting dan ujung selang yang besar dicelupkan ke dalam susu di gelas.

Jika proses menyusui rutin dilakukan, hormon prolaktin dan oksitosin akan meningkat secara perlahan. Peningkatan kedua hormon tersebut memicu produksi dan pengeluaran ASI. Volume ASI semakin meningkat sehingga kebutuhan bayi dapat tercukupi. Jadi, Mama tidak perlu khawatir, ya, jika produksi ASI belum banyak. Yang terpenting, Mama terus berusaha untuk menyusui. Oh ya, agar dapat melakukan teknik relaktasi yang tepat, Mama sebaiknya berkonsultasi juga dengan konselor laktasi.

METODE PRABORINI Tentunya, dukungan dari lingkungan terdekat alias keluarga sangat dibutuhkan, Ma, khususnya di awal memulai relaktasi. Jikapun tidak, Mama bisa melakukan rawat inap yang sudah terbukti ampuh untuk meningkatkan persentasi relaktasi ibu menyusui. Terlebih bila si kecil mengalami tongue tie atau lip tie akan kesulitan dalam menyusu. Tongue tie atau ankyloglossia adalah kelainan pada dasar lidah yang menempel di dasar mulut melalui frenulum (tali lidah) yang tebal dan kuat, sehingga gerakan lidah menjadi terbatas. Sedangkan lip tie adalah jaringan lunak yang terdapat di bawah bibir rahang atas maupun di atas bibir rahang bawah yang mengganggu pergerakan bibir. Kedua keadaan ini dapat mengganggu pelekatan bayi saat menyusu.

Dalam seminar laktasi yang diselenggarakan Asosiasi Ibu Menyusui (AIMI) Depok pada 18 Desember 2016 diperkenalkan metode perawatan komprehensif relaktasi dengan rawat inap yang dinamakan Metode Praborini. Metode ini merupakan hasil penelitian yang dipublikasikan pada 2016 oleh Dr. Asti Praborini dalam jurnal Clinical Lactation yang berjudul “Hospitalization for Nipple Confusion: A Method to Restore Healthy Breastfeeding”. Asti sendiri membuka klinik laktasi di tempatnya bekerja. Di klinik tersebut, Mama bisa mendapat pertolongan untuk menyusui kembali.

Tujuan utama rawat inap dalam Metode Praborini adalah menciptakan lingkungan yang kondusif dilengkapi perawatan oleh konselor menyusui. Metode ini mengharuskan adanya kontak kulit selama 24 jam antara Mama dan bayi, kecuali saat mandi dan salat. Menurut Kristin E Svensson, et al (2013), skin to skin contact bisa meningkatkan perasaan positif Mama dan menghemat waktu yang dibutuhkan bayi untuk melekat pada payudara Mama.

Berikut ini beberapa langkah dalam Metode Praborini: Bayi disapih dari penggunaan dot, lalu beralih menggunakan gelas atau cup feeder. ASI yang diminumkan ke bayi adalah ASIP yang sudah dipasteurisasi. Penggunaan gelas dianjurkan karena aktivitas otot masseter di dalam mulut pada saat minum pakai gelas mirip dengan kondisi bayi saat menyusu. Bayi yang marah saat ditawarkan menyusu ke payudara diberikan Chlorpheniramine Maleat (CTM) untuk menenangkannya. Dengan begitu, bayi mau mendekati dan mengisap payudara. Bila bayi sudah mau melekat, payudara Mama akan dipasang NGT no. 5F 40 cm, lalu disambungkan dengan spuit 50 cc untuk mengalirkan ASI. Tujuannya adalah membuat bayi senang di payudara karena bayi sudah terbiasa minum dengan aliran deras dari dot. Secara bengangsur-angsur, ASI perah dikurangi dan bayi menyusu langsung ke payudara.

Senangnya melihat si kecil sudah kembali menyusu langsung dari payudara, ya, Ma.

Relaktasi membutuhkan tekad yang kuat, ketekunan, dan kesabaran Mama.

Penulis: Ns. Dora Samaria, Skep., Mkep. Dosen Bagian Keperawatan Maternitas di Fakultas Ilmu Keperawatan dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Pelita Harapan

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.