MEMBEDONG BAYI yang Aman

Bedong atau lampin telah digunakan secara turun-temurun sejak dulu untuk membalut tubuh bayi, terutama bayi baru lahir.

Nakita - - DUNIA BAYI - Oleh: Sri Haryati

Membedong dapat menjadi cara yang bermanfaat untuk menenangkan bayi ketika mereka rewel dan sulit tidur. Teknik membungkus bayi seperti ini menjadikan si kecil merasa seperti di dalam rahim, sebuah lingkungan yang familiar untuknya. Bedong juga dapat mengurangi refleks kaget pada bayi yang bisa membangunkan tidurnya. Berkat membedong, bayi bisa tidur nyaman tanpa gangguan, sementara orangtua dapat memiliki waktu istirahat.

Dokter Spesialis Kesehatan Anak Wiyarni Pambudi menjelaskan, membedong sudah menjadi prosedur standar yang berlaku di seantero rumah sakit dan rumah bersalin untuk menyambut bayi baru lahir. Begitu juga saat dipulangkan dari rumah bersalin atau fasilitas kesehatan, hampir semua bayi dibawa ke rumah dalam "kemasan" bedong, sehingga secara otomatis, orangtua (apalagi Mama Papa yang baru pertama kali mempunyai bayi) akan mengikuti ritual membedong bayi setibanya di rumah.

Organisasi dokter anak selevel AAP (American Academy

of Pediatrics) menyatakan bahwa bedong memberi rasa nyaman sehingga disarankan sebagai salah satu teknik menenangkan bayi dan membantu tidurnya lebih pulas.

Sebuah riset yang dilakukan di negara bagian Oregon, Amerika Serikat pada 2015 menyebutkan, 90% ibu selalu membedong bayinya selama tidur. Di Jerman pun, penelitian pada tahun yang sama menyebutkan, membedong bayi secara tepat dan benar dapat membuat bayi tidur lebih nyenyak dan jarang terbangun.

“Meskipun bermanfaat, membedong baru dirasakan gunanya bila ibu-ibu tahu caranya dan kapan saat harus membedong,” imbuh Wiyarni.

MENJAGA SUHU TUBUH TETAP STABIL

Manfaat lain membedong bayi adalah untuk menjaga suhu tubuh bayi tetap stabil. Regulasi suhu tubuh pada bayi baru lahir adalah prosedur wajib mengingat perubahan suhu lingkungan yang drastis selama persalinan. Bayi baru lahir akan dibawa dan dikeringkan dengan kain bersih yang hangat di bawah infant

warmer lamp (semacam alat untuk menghangatkan tubuh bayi). Di situ bayi akan dinilai kondisi pernapasannya, denyut jantung, dan warna kulitnya. Bila bayi dinyatakan stabil prosedur ini akan berlanjut dengan inisiasi menyusu dini (IMD). Setelah tuntas IMD, bayi kembali dibedong agar tetap nyaman. Kain bedong yang membalut tubuh bayi seolah pelukan dinding rahim yang dikenal bayi selama dalam kandungan.

TAK PEDULIKAN RASA LAPAR

Yang perlu diwaspadai, kondisi dibedong dengan nyaman ini dapat membuat bayi terlena dan tidur tenang berjam-jam tanpa memedulikan rasa lapar dan haus. Di 24 jam pertama setelah kelahirannya, bayi memang cenderung lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur. Hari kedua dan ketiga, ia mulai terdorong memberi sinyal lapar minimal 8 kali dalam 24 jam. Selama tiga hari pertama ini bayi hanya buang air kecil 1-3 kali sehari semalam.

Baru setelah hari ketiga dan seterusnya sesuai perkembangannya, bayi akan bisa merespons sensasi lapar, haus, basah, kotor, dingin, dan lain-lain yang sering kali oleh Mama dan Papa diartikan rewel dan sering menangis (terutama malam hari). Nah, dalam situasi seperti itu terkadang Mama menganggap, bayi akan tenang jika ia dibedong.

Padahal, menurut Wiyarni, solusi bayi rewel tidak selalu harus dibedong. Sebab, kondisi dibedong terus-menerus, malah bisa menyamarkan sinyal yang seharusnya disampaikan bayi saat ia lapar, ngompol/pup, dan sinyalsinyal lainnya. Bila bayi tetap nyenyak tidur meski popoknya sudah kotor, misalnya, kondisi ini bisa mengundang masalah kulit seperti ruam popok karena infeksi jamur.

Mama yang menyusui pasti juga punya pengalaman jika bayi terus dibedong, ia betah berlamalama tanpa menyusu, sehingga Mama harus membuka bedongnya dulu untuk membujuk bayi menyusu. Padahal, kurang menyusu pada bayi bisa berisiko dehidrasi, bayi mengalami kuning, atau hipoglikemi. Suhu tubuh bayi juga dikhawatirkan bisa meningkat kalau bayi terus dibedong dengan kain tebal.

Tujuan membedong yang salah, seperti ingin tubuh dan kaki bayi lurus, bsa mendorong sebagian mama melakukan teknik membedong yang terlalu erat sampai tungkai dan lengan bayi tidak leluasa bergerak. Teknik ini dikhawatirkan bisa menghambat eksplorasi gerak dan bisa menyebabkan nyeri bahkan dislokasi persendian panggul bayi.

Jadi, apakah membedong diperbolehkan? Boleh, kok, Ma, tentu dengan catatan tertentu. Misal, Mama sebaiknya beraktivitas di sekitar bayi sehingga bisa tetap menangkap sinyal kapan bayi lapar, popoknya basah, kegerahan, dan lain-lain. Saat tidur malam, lepas bedong dan sarung tangannya saat si kecil menyusu. Membiasakan bayi menyusu sambil tetap dibedong dan menggunakan sarung tangan sama saja dengan menghambat kemandiriannya kelak, karena sentuhan tangan bayi ke payudara ibunya adalah awal proses ia mengenali dan berlatih koordinasi memenuhi kebutuhan makannya

Umumnya, bedong tak lagi digunakan saat bayi sudah memiringkan tubuhnya atau berusaha tengkurap sendiri (sekitar usia 2 bulan). Pertanyaan Mama, setelah tidak dibedong lagi, apa yang harus diberikan supaya bayi tetap hangat? Bayi yang lebih besar sudah mampu beradaptasi dengan suhu lingkungan normal (23-34 C), selama ia dalam kondisi sehat dan menggunakan pakaian sesuai kondisi ruangan. Bila suhu ruangan dingin atau cuaca sedang dingin, Mama dapat memakaikan baju hangat dan kaus kaki.

Nah, kini Mama tahu hal-ihwal mengenai membedong. Semoga bayinya bisa tidur nyenyak dan tidak rewel, ya, Ma.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.