PERTUMBUHAN OTAK BEDA Dengan KECERDASAN

Nah, agar bisa memberikan asupan nutrisi dan stimulasi yang tepat untuk janin, kita perlu tahu pertumbuhan otaknya, Ma. Berikut penjelasannya!

Nakita - - Beranda -

Dokter Spesialis Obgin, Hermanto TJ, menjelaskan, otak mulai berkembang sejak awal kehamilan. Prosesnya sangat rumit, namun secara sederhana bisa dijelaskan seperti ini, Ma. Ketika Mama terlambat menstruasi selama dua minggu, artinya pada hari ke-28 hamil, terjadi penutupan selubung saraf. Tahapan perkembangan otak, menurut whattoexpect.com, dimulai dengan pembentukan lempeng saraf pada sekitar hari ke-16 pascakonsepsi. Begitu tabung saraf tertutup, sekitar minggu ke-6 atau ke-7 kehamilan, tabung saraf melengkung dan menonjol menjadi tiga bagian, yang umumnya dikenal sebagai otak depan, otak tengah, dan otak belakang. Bila ada gangguan di proses ini, akan berdampak cacat bawaan, misalnya, otak tanpa batok kepala, ada tonjolan dari otak atau tulang belakang.

Tumbuh kembang otak dalam rahim meliputi proliferasi (bertambah banyak), migrasi (berpindah ke tempat berfungsi), diferensiasi (berubah sesuai fungsi), mielinisasi (pembentukan selubung saraf), sinaptogenesis (pembentukan jalinan saraf satu dengan yang lainnya/percabangan), dan apoptosis (mekanisme biologi digunakan untuk mematikan sel yang sudah terpogram/ tidak diperlukan oleh tubuh). Proses ini pada saat kehamilan merupakan hal yang luar biasa, Ma. Akan tetapi, proses tumbuh kembang otak ini, menurut Hermanto, kerap diabaikan, karena adanya pendapat tentang golden

period atau masa emas yang terjadi pada dua tahun pertama setelah lahir. Padahal, “Seharusnya dimulai sejak hamil sampai dua tahun pertama. Konsep ini diungkapkan dalam isu 1.000 hari pertama kehidupan,” tegas Hermanto.

Dr. Thomas R. Verny, pakar terkenal yang fokus pada efek dari lingkungan prenatal dan awal kehidupan pada tumbuh kembang kepribadian seseorang, mengatakan bahwa setiap menit ada sel otak baru yang terbentuk pada janin. Karena adanya sel baru yang terbentuk, jaringan otak akan terbentuk pula di sepanjang garis yang membantu mengomunikasikan kebutuhan janin. Misalnya, kebutuhan bernapas, bergerak saat lahir nanti, menutup dan membuka kelopak mata. Jadi, semua organ serta semua jaringan saraf yang memasok organ ini harus mulai berkembang jauh sebelum kelahiran. Hal yang sama berlaku pula pada jaringan otak. Semakin kita menstimulasi anak, misalnya, dengan merangsang saraf pendengarannya, maka akan semakin banyak jaringan/ sirkuit otak yang berkembang dan semakin kuat, hingga anak akan lebih siap saat lahir nanti.

TIDAK SAMA DENGAN KECERDASAN

Nah, pertumbuhan otak, tambah Hermanto, tidak sama dengan pertumbuhan kecerdasan, apalagi dihubungkan dengan performance atau keberhasilan dan kesuksesan. Sebagai ilustrasi, kehamilan adalah masa untuk menyiapkan prosesornya, sedangkan setelah lahir adalah saat untuk mengaplikasikan programnya. Bila prosesornya 486 atau Pentium 1 diberi program I7 yang sudah canggih, maka komputer akan tidak mampu bekerja, karena programnya terlalu berat untuk prosesor. Sebaliknya, kalau prosesornya Quad Core (4

core) yang canggih dipakaikan program Windows 95, maka sayang sekali, karena prosesornya tidak digunakan secara maksimal.

Pertambahan jumlah sel neuron dan glia (sel non-neuron yang memberikan dukungan serta perlindungan untuk neuron di sistem saraf pusat dan perifer) berhenti di usia kehamilan 26 minggu, sedangkan apoptosis (kematian sel terprogram) meningkat antara usia kehamilan 36—40 minggu. Nah, karena manusia sebagian besar dilahirkan di usia kehamilan 40 minggu—yang di Indonesia disebut 9 bulan 10 hari—maka sel otak kita saat lahir lebih sedikit dibanding saat usia kehamilan 26 minggu. Wikipedia Indonesia dalam situs resminya menjelaskan contoh dari proses apoptosis adalah proses pemisahan jari pada janin. Tenang Ma, pembentukan sinaps masih berlangsung terus, kok, hingga seseorang berusia 6 tahun. Ini berarti tumbuh kembang otak, terutama pembentukan jalinan saraf satu dengan yang lainnya, akan terus berlangsung sampai umur 6 tahun.

Nah, bila kita mempunyai sel neuron dan glia lebih banyak, rasio glia/neuron lebih tinggi dan kualitas dendrit (cabang dari neuron) yang baik, maka kita dikatakan cerdas. Namun, yang dimaksud cerdas di sini bukan hanya juara sekolah atau prestasi di bidang akademis saja, karena ada kecerdasan spiritual atau naturalis, linguistik, musikal, dan lainnya. Masih ingat, kan, dengan multiple intelligences dari Gadner? Jadi, bisa saja kemampuan si kecil di sekolah kurang bagus, tetapi di bidang olahraga atau musik, ia sangat berprestasi. Faktor lingkungan positif, yaitu nutrisi dan stimulasi yang tepat, berperan dalam mengembangkan beragam kecerdasan tersebut.

Pertumbuhan otak tidak sama dengan pertumbuhan kecerdasan, apalagi dihubungkan dengan performance atau keberhasilan dan kesuksesan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.