KEAJAIBAN 1000 Hari Pertama Kehidupan

Meski jumlahnya hanya 1000 hari, tetapi dampaknya pada kehidupan seseorang sangatlah besar. Selain akan memberikan masa depan yang lebih sehat pada sang buah hati, juga membuatnya kelak lebih sejahtera.

Nakita - - Beranda - Oleh: Isma Anggritaningsih

Istilah 1000 HPK atau the

first thousand days mulai diperkenalkan pada 2010 sejak dicanangkannya Gerakan Scalling-up Nutrition di tingkat global (depkes.go.id). Gerakan ini merupakan upaya sistematis yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, khususnya pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, untuk memberikan perhatian khusus kepada ibu hamil, bayi, hingga anak berusia 2 tahun, terutama dalam hal kebutuhan pangan, kesehatan, dan gizi. Jadi, 1000 HPK ini dimulai sejak hamil (270 hari), berlanjut ke usia bayi hingga anak berusia 2 tahun (730 hari). Saking pentingnya 1000 HPK ini dan juga dalam upaya perbaikan gizi masyarakat, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden nomor 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi yang fokus pada 1000 HPK, Ma.

Mengapa 1000 HPK menjadi begitu penting? Tak lain karena 1000 HPK adalah periode yang sangat ”ajaib”, dimana proses tumbuh-kembang seseorang berjalan dengan sangat pesat. Bahkan, pertumbuhan yang sangat pesat ini tak terjadi di kelompok usia mana pun selain di masa 1000 HPK, Ma. Karena itulah, masa 1000 HPK ini sering disebut juga dengan

istilah periode emas atau window of opportunity. Menurut Taufiqur Rahman, pada periode ini terjadi perkembangan otak yang sangat pesat, sehingga periode ini disebut juga periode kritis perkembangan dan merupakan waktu yang tepat untuk melakukan pemulihan, bila ada gangguan perkembangan pada anak. Dengan kata lain, bila gangguan pertumbuhan berlanjut karena tak dikoreksi di masa 1000 HPK, kondisi tersebut tak dapat diperbaiki di kemudian hari setelah 1000 HPK berakhir, Ma.

Anthony Lake, Executive Director of UNICEF (United

Nations Children’s Fund, organisasi dana perkembangan anak-anak di bawah PBB) menjelaskan di situs blogs.unicef. org, pada tahun-tahun pertama kehidupannya, otak anak mengonsumsi antara 50—75% semua energi yang diserap dari makanan dan nutrisi yang baik. Ini berarti, bila seorang anak tidak menerima nutrisi yang dibutuhkan, ia berisiko mengalami kelambatan kognitif dan tumbuh-kembangnya. Di seluruh dunia hingga Januari 2017, setidaknya ada 150 juta anak yang menderita stunting dan jutaan lainnya berisiko mengalami gizi buruk.

Pentingnya nutrisi selama kehamilan dan pada dua tahun pertama kehidupan anak diungkapkan pula oleh Thousand Days (organisasi nirlaba terkemuka asal AS yang bekerja untuk memastikan 1000 HPK yang sehat bagi para ibu dan anak di dunia) di situs resminya, thousanddays.org, yaitu memberikan fondasi yang penting untuk perkembangan otak, pertumbuhan sehat, dan sistem kekebalan tubuh yang kuat. Bahkan, Ma, bukti ilmiah yang

Bukti juga kesehatanilmiah menunjukkan,yang seumur berkembangfondasihidup seseorang—termasuk kecenderungan mereka terhadap risiko obesitas dan penyakit kronis tertentu—sebagian besar ditetapkan pada masa 1000 HPK.

berkembang juga menunjukkan, fondasi kesehatan seumur hidup seseorang—termasuk kecenderungan mereka terhadap risiko obesitas dan penyakit kronis tertentu—sebagian besar ditetapkan pada masa 1000 HPK.

Bukan hanya si kecil yang mendapat manfaatnya bila 1000 HPK diperhatikan dan dijaga dengan optimal, mamil pun merasakannya. Menurut Dwiana Ocviyanti, manfaatnya pada mamil yang pertama adalah Mama dapat melahirkan bayi dalam kondisi yang baik, sehingga terhindar dari komplikasi kehamilan dan atau perdarahan saat persalinan yang dapat merenggut nyawa Mama. Itulah mengapa sangat penting ibu dan janin/anak mendapatkan nutrisi yang tepat selama 1000 HPK. 1000 HPK OPTIMAL, ANAK SEHAT DAN BUGAR Dua mama milenial ini, Bestari (32) dan Dita T. Indrihapsari (31), mengaku sangat peduli dengan 1000 HPK. Mereka mengetahui pentingnya nutrisi yang baik selama periode emas ini sejak memutuskan untuk memiliki anak. Itulah mengapa Bestari dan Dita selalu berusaha memberikan asupan bernutrisi pada si kecil, dan tentunya juga menjaga kesehatan serta asupan mereka selama mengandung serta menyusui.

Bestari bercerita, setelah putra sulungnya lahir, Enzo Rahmansyah A.W. (4,8), ia tetap berusaha mengoptimalkan 1000 HPK pada si kecil; dari memberikan ASI eksklusif 6 bulan dan melanjutkannya hingga usia 2 tahun, konsisten memberikan MPASI yang diolah sendiri ketika putranya berusia 6 bulan, serta menghindari anaknya dari berbagai jenis makanan instan maupun junk food. Bestari juga meyakini pemberian ASI bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi anak, tapi juga menjadi momen bonding antara ibu dan anak yang baik untuk perkembangan psikis anak. “Selain itu saya juga tak pernah melewatkan jadwal vaksin demi menjaga kesehatan anak. Efeknya? Sampai saat ini anak tumbuh aktif, cerdas, dan mampu mengelola emosinya dengan baik. Tumbuh kembang fisiknya pun normal sesuai usianya. Anak juga tak mudah sakit. Kalaupun sakit, tidak pernah membutuhkan pengobatan serius,” cerita Bestari.

Dita pun melakukan hal serupa. Mama dari Birru (4) dan Mika (2) ini rutin mengecek kandungan ke dokter, mengonsumsi vitamin, dan asupan bergizi selama hamil. Kemudian, setelah dua jagoannya lahir, ia memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan, menyajikan MPASI rumahan, dan terus memberikan ASI. “Pada anak pertama, saya menyusuinya hingga 1,5 tahun karena ia menyapih sendiri, sedangkan anak kedua sampai 2 tahun 1 bulan. Alhamdulillah, tumbuh kembang anak saya baik sesuai dengan usianya. Secara fisik, meski anak pertama tampak kurus, tapi sebenarnya masih di angka normal, masih di kisaran berat badan ideal sesuai umurnya. Kedua anak saya juga sangat aktiiif, tidak bisa diam. Kemampuan berpikirnya juga terus berkembang seiring bertambah usianya,” papar Dita. BISA TERJADI KERUSAKAN SEL OTAK Sayangnya, tak semua calon ibu maupun ibu hamil memahami pentingnya kecukupan nutrisi sejak merencanakan kehamilan. Berdasarkan Riskesdas 2013, terdapat 37,1% ibu hamil anemia, yaitu ibu hamil dengan kadar Hb kurang dari 11,0 gram/dl, dengan proporsi yang hampir sama antara di kawasan perkotaan (36,4%) dan perdesaan (37,8%). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) sendiri merupakan riset kesehatan berbasis komunitas berskala nasional sampai tingkat kabupaten/kota yang dilakukan setiap 5—6 tahun sekali. Studi yang dilakukan oleh Southeast Asia Food and Agricultural Science & Technology (SEAFAST) Centre, Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 2011 terhadap lebih dari 200 wanita hamil, juga memperlihatkan lebih dari 50% ibu hamil tersebut memiliki asupan gizi lebih rendah dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan.

Padahal, bila kehamilan tak direncanakan dengan baik dan tak memenuhi kecukupan gizi selama 270 hari itu, dapat berisiko keguguran hingga cacat bawaan, pertumbuhan janin yang lebih kecil dari seharusnya, hingga kematian janin dalam kandungan dan persalinan prematur. Sementara mamil berisiko mengalami komplikasi kehamilan, seperti perdarahan pascapersalinan, persalinan yang sulit dan lama, hingga terjadinya preeklamsia dan atau perdarahan saat persalinan yang dapat merenggut nyawa Mama.

Sedangkan pada anak, bila periode 1000 HPK tidak dijaga dengan baik dan kebutuhan nutrisinya tidak dipenuhi, akan berpotensi terjadi gangguan tumbuh kembang. Taufiqur menjelaskan, gangguan pertama adalah gangguan pertumbuhan yang meliputi perawakan pendek, gizi kurang, gizi buruk, atau bahkan obesitas. Kedua, akan terjadi gangguan perkembangan, di antaranya keterlambatan perkembangan, gangguan perilaku, dan penyimpangan mental emosional anak. Ketiga, adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang tidak terdeteksi serta tidak diintervensi, sehingga menyebabkan efek jangka panjang yang dapat menurunkan kualitas hidup anak.

Dwiana menambahkan, periode 1000 HPK yang dimulai dari awal perkembangan janin, utamanya adalah pertumbuhan otak. Bila terjadi gangguan pada kondisi fisik dan status gizi ibu, tentu saja pertumbuhan dan perkembangan janin akan menjadi tidak optimal, bahkan dapat terjadi kerusakan sel-sel otak janin yang tak dapat diperbaiki lagi kelak. “Hal ini tentunya akan merugikan bayi setelah lahir dan mengalami tumbuh kembang di luar tubuh ibunya. Nah, gangguan pada pertumbuhan otak bayi ternyata setara dengan pertumbuhan tubuhnya, karena itu bayi yang tumbuh lebih kecil dari seharusnya (stunting), diduga otaknya pun tidak mengalami pertumbuhan optimal,” jelas Dwiana. Bila bayi mengalami stunting, dampak jangka panjangnya adalah kelak akan tidak optimal pula perkembangan kecerdasannya, Ma. Kalau sudah begitu, anak kelak tidak akan mampu bersaing dalam dunia pendidikan maupun pekerjaan, tidak dapat berkarya secara optimal, dan tidak bisa menjadi generasi emas. Kita tentu tak ingin dampak buruk ini dialami si buah hati, ya, Ma, Pa. Untuk itu, yuk, kita optimalkan masa 1000 HPK ini. Caranya? Mari simak halaman-halaman Beranda berikutnya.

Periode 1000 HPK yang dimulai dari awal perkembangan janin, utamanya adalah pertumbuhan otak. Bila terjadi gangguan pada kondisi fisik dan status gizi ibu, maka tumbuh kembang janin tidak optimal, bahkan dapat terjadi kerusakan sel-sel otak janin yang tak dapat diperbaiki lagi kelak.

Narasumber: Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, SPOG(K), MPH Obstetrician and Gynecologist di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta dan Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia Vice President of The Indonesian College of Obstetrics and Gyncecologist, President of the Indonesian Society of Cervical Pathology and Colposcopy

Narasumber: dr. Taufiqur Rahman, SPA RS Muhammadiyah Lamongan Twitter: @taura_taura, Instagram: @info-pediatri, www.taura-taura.com

Responden: Dita T. Indrihapsari (31)

Responden: Bestari (32)

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.