ORANG YANG BERBEDA BUKAN LAWAN Semangat toleransi inilah yang perlu kita tanamkan sejak dini pada buah hati.

Nakita - - Dunia Bayi - Oleh: Faras Handayani

Kita tentu sepakat anakanak perlu ditanamkan nilai-nilai untuk menghargai perbedaan sejak dini. Bahwa, meski rambut kita lurus, bukan berarti anak yang berambut keriting adalah musuh. Atau meski kita beragama Kristen Protestan, orang yang beragama Islam, Buddha, Hindu, atau Katolik, tidak bisa menjadi teman atau sahabat.

Sikap toleransi menjadi penting, karena Indonesia memiliki pluralitas budaya dan agama yang tinggi. Secara sederhana, toleransi terkait erat dengan bagaimana seseorang melihat, memahami, dan menghormati perbedaan. Sikap ini merupakan penunjang kecakapan anak dalam bersosialisasi. Tanpa toleransi, anak akan sulit beradaptasi dengan lingkungan dan perkembangan zaman.

Di sinilah tantangan orangtua. Bagaimana kita dapat menanamkan konsep cinta yang begitu besar pada buah hati, sehingga si kecil dapat melihat perbedaan bukan untuk dimusuhi, namun dihargai dan dicintai. Anak yang toleran akan tahu siapa dirinya, sekaligus memahami orang lain yang berbeda dengan dirinya bukanlah lawan. PENUNJANG KECAKAPAN BERSOSIALISASI Sikap toleransi yang tinggi jugalah yang dituntut dimiliki calon-calon pemimpin masa depan. Prof. Dr. Komarudin Hidayat dalam acara Joy Parenting di FX Sudirman, Jakarta menjelaskan, “Siapa pun yang ingin menjadi pemimpin masa depan, sebaiknya sejak dini memahami dan mengalami pergaulan dan pendidikan yang inklusif.”

Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang toleran dan mene-rima perbedaan. Konsep ini perlu ditanamkan di sekolahsekolah, terutama sekolah-sekolah negeri. ”Sekolah, khususnya sekolah ne-geri, harus dijaga dari tumbuhnya kultur yang eksklusif dan sektarian. Sekolah negeri adalah milik publik. Bila ingin membuat sekolah yang eksklusif ya… swasta. Karena ruang publik harus menunjukkan perbedaan,” jelas edukator ini.

Menariknya, lanjut Komaruddin, berdasarkan riset, cara berpikir masyarakat Timur dan masyarakat Barat memang berbeda. “Ketika anak Timur diminta mengumpulkan banda berwarna, mereka cenderung memilih warna yang seragam, sementara anakanak Barat memilih yang warnawarni. Sense of communalism (paham yang mementingkan kelompok atau kebersamaan) di masyarakat Timur memang tinggi,“ujarnya.

SIKAP TOLERANSI BISA DILATIH Kabar baknya, menurut Psikolog Tari Sandodjo, di acara yang sama, toleransi merupakan sikap yang dapat dilatih. Tidak ada anak yang terlahir dengan sikap tidak bisa bertoleran.

Kapan toleransi bisa ditanamkan pada anak? “Tentu tak perlu menunggu sampai anak kuliah, karena pada waktu itu karakter anak sudah terbentuk. Di universitas, anak hanya menambah pengetahuan. Saat balita adalah saat yang paling tepat,” tutur Direktur Pendidikan Sekolah Cikal ini.

Terkait penanaman sikap toleransi sejak dini ini, Tari lantas memaparkan teori Jean Piaget tentang tahap perkembangan belajar anak. Tahap ni terdiri atas 4 bagian, berikut penjelasannya:

nTahap Sensorimotor 0—2 Tahun Tahap paling awal perkembangan kognitif terjadi pada waktu bayi lahir sampai sekitar berumur 2 ta-

hun. Tahap ini disebut tahap sensorimotor oleh Piaget. Pada tahap sensorimotor, intelegensi anak lebih didasarkan pada tindakan indrawi anak terhadap lingkungannya. Pada saat ini, bayi biasanya hanya mau dengan figur yang sering dilihatnya. Ia mau digendong oleh Mama, namun tidak oleh neneknya yang jarang dilihatnya. Perkembangan intelektual ini sangat wajar. Tahap Preoperasional Usia 2—7 Tahun Anak-anak mulai memahami dunia lewat pengalaman sensori/ panca indranya dan mulai dapat membedakan dirinya dengan orang lain. Contoh, saya berambut keriting, temanku berambut lurus. Aku tinggi, temanku pendek.

Masuk usia TK biasanya anak pun mulai sadar akan adanya perbedaan yang tidak kasat mata, seperti perbedaan pendapat, agama, serta budaya.

Tahap konkret operasional 7—11 tahun Anak mulai mampu belajar resolusi konflik, karena ego anak mulai berkurang dan mereka bisa melihat sudut pandang orang lain: kenapa temanku menangis, bagaimana perasaannya, dsb.

Menurut Tari, mulai kelas 2 SD, saat anak-anak berselisih, biarkan mereka mencari penyelesaian masalahnya sendiri. Karena, di usia ini, anak mulai belajar memahami dan memikirkan jalan keluar suatu masalah. Dengan berdiskusi, anak-anak juga akan terbiasa berpikir bagaimana mengatasi perbedaan.

Pembiasaan ini tak hanya di sekolah, namun juga berlaku di rumah, ketika adik dan kakak berkelahi. Orangtua sebaiknya tidak langsung menyalahkan salah satu pihak, tapi mengajak anakanak duduk bersama dengan berdiskusi. Tahap Formal Operasional Usia 11 Tahun—dewasa Anak sudah belajar perbedaan prinsip dan ego yang abstrak. Akan sangat bermanfaat, bila anak didorong untuk bertemu dengan teman-temannya yang semakin beragam. Bila buah hati mengenyam pendidikan di sekolah yang homogen, dia bisa diikutkan pada holiday program.

Menurut Tari, Secara psikologis, anak yang dibiasakan untuk menerima perbedaan akan memiliki sikap toleransi yang baik. Di masa depan, mereka akan menjadi pribadi yang cinta damai.

Setuju, kan, Ma?

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.