Seperti Apa ASUPAN GIZINYA?

Sekarang kita akan bahas tentang apa saja zat-zat gizi yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan periode 1000 HPK, selain juga untuk menjaga kesehatan Mama dan si buah hati agar tumbuh kembangnya optimal. Ingat, dimulainya sejak sebelum hamil, ya, Ma.

Nakita - - Beranda - Oleh: Isma Anggritaningsih

PRAHAMIL:

Terapkan Gaya Hidup Sehat Diawali dengan rencana kapan akan memulai program kehamilan dan jumlah anak yang diinginkan, selanjutnya Mama Papa memiliki perencanaan keuangan, perencanaan gizi, hingga perencanaan ASI. Bila hal-hal tersebut sudah direncanakan dan dipersiapkan dengan baik, kelak saat Mama hamil, 1000 HPK akan menjadi prioritas utama yang mendapat perhatian penuh dari Mama Papa. Mama juga dapat mempunyai banyak waktu untuk memerhatikan asupan bergizi dari makanannya, menjaga kesehatan, serta bisa memiliki waktu beristirahat yang cukup. Bila ini dapat diwujudkan, kondisi Mama selama hamil akan bugar dan sehat, dan akhirnya dapat melahirkan dengan lancar.

Menurut Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, SP.OG(K), MPH, yang paling utama dalam masa perencanaan kehamilan adalah Mama Papa berkonsultasi dan memeriksakan diri ke dokter agar dokter dapat mengidentifikasi adanya kondisi-kondisi yang dapat membahayakan Mama maupun calon janin. Selain itu, ketika merencanakan kehamilan, Mama Papa sesegera mungkin memastikan gaya hidup sehari-harinya sudah sesuai dengan gaya hidup sehat; dari menghindari konsumsi obat-obatan tanpa seizin dokter, menghindari/menghentikan kebiasaan merokok atau paparan terhadap asap rokok, menjalankan pola makan bergizi seimbang, hingga pola hidup sehat lainnya termasuk menjaga kebugaran tubuh dengan berolahraga secara teratur dan proporsional.

Dukungan keluarga dan orang-orang terdekat, lingkungan yang santai, jiwa yang tenang juga memberikan kontribusi positif pada proses kehamilan Mama dan saat menyusui kelak. Untuk itu, Ma, upayakan hindari stres dengan banyak tertawa, berolahraga, bersenang-senang dengan Papa, dan melakukan halhal yang Mama sukai sehingga nantinya Mama dapat menjalani kehamilan dengan bahagia bersama Papa. Pasalnya, orangtua yang bahagia, penuh kasih sayang, saling perhatian, dan harmonis, bisa menjadi tim kompak untuk bekerja sama memastikan anak mendapatkan yang terbaik di masa 1000 Hpk-nya, Ma.

SAAT HAMIL:

Terapkan Pola Makan Bergizi Seimbang Dwiana menyarankan para mamil untuk menerapkan konsep pola makan bergizi seimbang dan diolah dengan cara yang menjamin kualitas gizinya. Soal kualitas gizi ini harus dipelajari dengan baik agar tak terjadi kondisi ”salah gizi”, Ma. Caranya dengan berkonsultasi pada dokter atau dokter spesialis gizi, bila berat badan Mama di bawah atau di atas berat badan ideal ketika mengandung dan atau sedang dalam program kehamilan. Kondisi kurang gizi ataupun kelebihan berat badan/obesitas dapat membahayakan Mama dan janin. Untuk itu, diperlukan kejelian dan keterampilan dalam menyiapkan makanan bergizi seimbang. Selain berkonsultasi pada dokter atau ahli gizi, Mama juga bisa mempelajarinya sendiri dengan mengeksplorasi sumbersumber informasi, seperti buku, majalah, dan media-media online terpercaya.

Nah, kalau soal jenis-jenis zat gizi yang diperlukan mamil dan janinnya dalam mendukung kecukupan gizi di 1000 HPK, Dwiana menjelaskan bahwa hal itu sangat bergantung pada status gizi masing-masing mamil. Pasalnya, setiap mamil memiliki status gizi berbeda, Ma. Contoh, mamil dengan gizi kurang harus mengonsumsi makanan bergizi seimbang dalam jumlah cukup untuk meningkatkan status gizinya. Sedangkan mamil dengan status gizi berlebih dan obesitas justru harus menjaga jumlah makanan bergizi seimbang yang dikonsumsinya agar tak meningkatkan berat badannya secara berlebihan. Inilah mengapa, konsultasi dan cek kesehatan pada dokter amat diperlukan ketika merencanakan kehamilan ataupun saat sedang hamil. Dengan begini, kita dapat mengetahui pasti status gizi kita sendiri secara tepat, Ma. Lalu, apa yang dimaksud dengan makanan bergizi seimbang? Dwiana menjelaskan, “Makanan bergizi seimbang tentu saja harus mengandung cukup protein dan karbohidrat, termasuk zat gizi penting lainnya, seperti zat besi, asam folat, dan kalsium. Bila perlu ketiga zat terakhir ini dapat dikonsumsi dalam bentuk pil suplemen vitamin.”

BAYI USIA 0—6 BULAN:

Penuhi Gizi Mama Menyusui Nah, begitu si kecil “tiba” di bumi atau dalam satu jam kehidupan pertamanya di dunia, pastikan Mama mendapatkan kesempatan melakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini) ya, Ma. IMD adalah proses meletakkan bayi baru lahir di dada atau perut Mama agar bayi secara alami dapat mencari sendiri sumber ASI dan kemudian menyusu. Proses IMD sangat bermanfaat karena bayi akan mendapatkan kolostrum yang kaya akan zat kekebalan tubuh pada tetes ASI pertama Mama. Tidak hanya bagi bayi, IMD juga sangat bermanfaat bagi Mama karena dapat membantu mempercepat proses pemulihan pascapersalinan. Selanjutnya hingga si kecil berusia 6 bulan, hanya berikan ASI saja, ya, Ma. Pasalnya, ASI adalah makanan terbaik untuk bayi karena ASI mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan bayi dengan tepat, mudah digunakan secara efisien oleh tubuh bayi, serta melindungi bayi terhadap infeksi. Itulah mengapa, ASI dapat mencegah malnutrisi pada si kecil, Ma.

Apa saja zat-zat gizi yang terkandung dalam ASI? Dijelaskan oleh IDAI di situs resminya, ASI mengandung komponen makronutrien dan mikronutrien. Yang termasuk makronutrien adalah karbohidrat, protein, dan lemak, sedangkan mikronutrien adalah vitamin & mineral. ASI hampir 90%-nya terdiri atas air, Ma. Nah, soal volume dan komposisi gizi ASI ini akan berbeda-beda pada setiap ibu, bergantung pada kebutuhan bayi. Perbedaan volume dan komposisi juga terlihat di masa menyusui (ASI kolostrum, ASI transisi, ASI matang, dan ASI pada saat penyapihan). Kandungan zat gizi ASI awal dan akhir pada setiap mama menyusui pun berbeda. Contoh, kolostrum yang diproduksi antara hari pertama hingga hari kelima menyusui kaya akan zat gizi, terutama protein.

Agar dapat memberikan ASI dengan lancar, Mama perlu menjaga kesehatan tubuh Mama.

Yang paling utama dalam masa perencanaan kehamilan adalah Mama Papa berkonsultasi dan memeriksakan diri ke dokter agar dokter dapat mengidentifikasi adanya kondisi-kondisi yang dapat membahayakan Mama maupun calon janin.

Caranya dengan mencukupi kebutuhan gizi Mama melalui pola makan gizi seimbang. Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari–hari yang mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memerhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat badan (BB) ideal. Itulah mengapa Mama perlu mengonsumsi berbagai jenis makanan untuk memenuhi kebutuhan gizi Mama. Situs penyedia informasi kesehatan terkemuka WEBMD menjelaskan bahwa mama menyusui membutuhkan protein, karbohidrat, dan kalori (energi).

Berdasarkan AKG (Angka Kecukupan Gizi) 2013, ibu menyusui di masa ASI ekslusif membutuhkan protein sebesar 76—77 g, karbohidrat sebanyak 354— 368 g, dan energi 2.480—2.580 kkal. Mama dapat menemukan kandungan gizi tersebut pada sumbernya. Untuk energi, Mama bisa mengonsumsi lemak tak jenuh dari minyak zaitun dan canola, kacang-kacangan, serta ikan. Lalu, karbohidrat kompleks dari beras merah, roti gandum, brokoli, paprika, kacang polong/ kacang-kacangan, apel, jeruk, melon, dan produk susu rendah lemak. Kemudian, protein tanpa lemak dari semua jenis ikan, unggas tanpa kulit, produk susu rendah lemak, dan kacang polong. Zat gizi lainnya yang tak kalah penting adalah kalsium, Ma. American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan, setidaknya konsumsi makanan kaya kalsium sebanyak lima porsi per hari, seperti yoghurt rendah lemak atau keju, salmon, brokoli, tahu, dan jika ada, kale. Berdasarkan AKG 2013, jumlah kalsium yang dibutuhkan ibu menyusui adalah 1.200—1.300 mg.

Sangat penting pula untuk Mama mengonsumsi banyak buah dan sayuran selama menyusui. Hal ini tak hanya memberikan berbagai zat gizi yang dibutuhkan, tetapi juga membantu Mama mendapatkan sumber serat yang berguna untuk mencegah konstipasi, menjaga berat badan, mencegah penyakit kronik, serta menyehatkan kulit. Bonusnya lagi, menjalankan pola makan sehat saat menyusui tak hanya memiliki manfaat dalam masa pemberian ASI, Ma, tetapi juga memiliki berbagai kebaikan untuk kesehatan tubuh yang akan Mama dapatkan di sepanjang hidup Mama.

BAYI USIA 6—12 BULAN:

Utamakan Zat Besi, Zink, dan Vitamin D Setelah usia 6 bulan, ASI tetap dilanjutkan hingga si kecil berusia 2 tahun. Akan tetapi, sesuai dengan perkembangan sistem saluran cerna bayi, maka di usia 6 bulan, bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI (MPASI). Setelah usia 6 bulan, kebutuhan gizi bayi juga tak dapat terpenuhi hanya dari ASI saja, Ma. Selain itu, keterampilan makan (oromotor skills) pun terus berkembang dan bayi mulai memperlihatkan minat akan makanan lain selain ASI. Tentunya, pemberian MPASI dilakukan secara bertahap, baik jumlah maupun jenis makanannya. Begitu pun dengan tekstur makanannya, yaitu dari makanan bertekstur lunak, lembek, hingga padat, sesuai dengan tingkat usia bayi.

Dijelaskan oleh dr. Taufiqur Rahman, SPA, seperti di usia sebelumnya, di usia 6—12 bulan ini pun, si kecil juga membutuhklan asupan makronutrien dan mikronutrien, plus air, untuk tumbuh kembangnya yang optimal. Khusus mikronutrien, dari sekian banyak jenis mikronutrien, yang paling penting untuk tumbuh kembang bayi adalah zat besi (Fe), zink (seng), dan vitamin D, Ma. Berdasarkan AKG 2013, zat besi yang dibutuhkan bayi usia 7—11 bulan adalah 7 mg, seng 3 mg, dan vitamin D 5 mcg. IDAI, pada situs resminya, merekomendasikan pilihan utama kandungan MPASI adalah makanan yang kaya akan zat besi. Pasalnya, zat gizi yang paling tidak terpenuhi kebutuhannya setelah usia 6 bulan adalah zat besi, Ma.

Untuk jenis makanannya, makanan padat pertama yang terbaik menurut IDAI adalah yang terbuat dari beras, karena beras merupakan bahan makanan paling hipoalergenik, sehingga kemungkinan terjadinya reaksi simpang makanan paling minim. Reaksi simpang makanan merupakan gejala yang mengganggu/terjadi ketika mengonsumsi suatu makanan. Akan tetapi, gejala ini tak berbahaya dan tidak disebabkan oleh reaksi sistem kekebalan tubuh, Ma. Karena tidak disebabkan oleh sistem imunitas, maka reaksi simpang makanan bukanlah alergi.

ANAK USIA 12—24 BULAN:

Penuhi Gizi Mama Menyusui Asupan gizi yang dibutuhkan anak usia ini untuk mendukung tumbuh kembangnya masih sama seperti di usia 6—12 bulan, termasuk zat besi, seng, dan vitamin D. Berdasarkan AKG 2013, zat besi yang dibutuhkan anak usia 12—24 bulan sebanyak 8 mg, seng 4 mg, dan vitamin D 15 mcg.

Untuk kelompok anak usia ini, Taufiqur menyarankan, sebaiknya mulai diberikan menu makanan keluarga, Ma. Menu makanan utama bisa diberikan 3—4 kali sehari, sekali makan ¾ porsi hingga 1 porsi mangkok atau sebanyak 175—250 ml, dengan lama durasi makan maksimal 30 menit. Tentunya, ASI tetap diteruskan sebagai selingan hingga anak berusia 2 tahun. Bila si kecil tak mendapat ASI, Taufiqur menyarankan Mama untuk memberi tambahan susu formula1—2 gelas/hari (maksimal 500 ml per hari) dan 1—2 ekstra makanan/hari. Jangan lupa untuk menyajikan menu makanan yang mempunyai kandungan gizi lengkap dan seimbang pada si kecil, ya, Ma.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.