SEMANGAT MENJALANKAN VISI G

Nakita - - Tokoh -

race sadar tak boleh “jalan di tempat” terus dengan menyalahkan orang lain. Ia mau ikut ambil bagian dalam menyosialiasikan TORCH. “Saya mau bergerak karena beberapa alasan,” ujarnya. Pertama, infeksi TORCH pada ibu hamil dapat menyebabkan bayi lahir dengan kebocoran jantung, gangguan pendengaran, katarak bawaan, hepatosplenomegali, mikrosefali, trombositpenia, gangguan motorik, gangguan kognisi, bahkan keguguran. “Semua itu bukan hal sepele, bukan hal yang bisa sembuh dalam hitungan hari!” tegasnya.

Kedua, infeksi TORCH pada ibu hamil yang menyebabkan anak lahir dengan disabilitas membutuhkan biaya pengobatan atau rehabilitasi yang sangat besar. “Contohnya anak saya. Gangguan pendengaran menyebabkan Ubii butuh memakai alat bantu dengar. Biayanya tidak sedikit. Belum lagi biaya konsultasi dokter, obat rutin, fisioterapi, tes pendengaran, USG jantung, dan lain-lain,” ungkap penulis Letters to

Aubrey ini. Ketiga, infeksi TORCH pada ibu hamil bisa dicegah. “Ini yang saya perjuangkan: sosialisasi dan edukasi TORCH, supaya para calon ibu hamil dapat mencegahnya dengan screening TORCH.” Memang, Grace mengakui, biayanya tidaklah murah. ”Tapi, mari kita bandingkan harga untuk mencegah dengan biaya pengobatan yang bisa mencapai puluhan juta. Saya yakin kita semua setuju bahwa peribahasa ‘Lebih baik mencegah daripada mengobati’ itu benar adanya,” tukasnya.

Keempat, infeksi TORCH yang membuat bayi lahir dengan disabilitas pasti pada awalnya membuat para orangtua bingung dan hancur. “Saya mengalami itu. Saya bingung harus bagaimana. Saya nggak tahu harus cerita pada siapa. Saya cari komunitas atau yayasan atau apa pun yang berisi kumpulan orangtua dengan pengalaman seperti saya. Hasilnya, nihil!” Grace pun merasa sendirian. Maka, Grace tak ingin ibu lain mengalami kebingungan seperti dirinya. “Saya ingin mereka punya teman sepengalaman untuk bertukar isi hati dan informasi. Saya ingin mereka tahu, mereka nggak pernah dan nggak akan sendirian!” tandasnya.

Kelima, infeksi TORCH pada ibu hamil belum benar-benar mendapat perhatian dari dinas kesehatan. “Mau tunggu sampai kapan? Harus ada berapa Ubii-ubii lainnya dulu sampai TORCH mendapat atensi? Saya harus mulai bergerak. Sekarang! Bukan besok, bulan depan, atau tahun depan.” Bagaimana caranya?

Inilah yang dilakukannya. Grace menulis cerita tentang Ubii di sebuah portal parenting. Ternyata, banyak yang membaca tulisan itu. Sesuai harapannya, ibu-ibu yang baru mendapati anaknya terinfeksi TORCH, jadi bisa “menemukan” Grace untuk saling curhat. “Saya memang nggak bisa kasih apa-apa. Saya cuma bisa jadi teman curhat mereka. Tapi, paling tidak, saya bisa meyakinkan bahwa mereka tak sendirian dan harus tetap semangat.”

Sejak ada tulisan itu di portal parenting, tak terhitung teman baru ibu dengan anak seperti Ubii yang Grace kenal. Grace mencantumkan nomor telepon genggam dan pin Bbm-nya di tulisan itu sehingga mudah dihubungi. Karena teman baru yang dikenalnya sudah cukup banyak, Grace merasa sosialisasi TORCH tak cukup hanya lewat BBM. Karena itulah, pada 2 Oktober 2013, Grace membuat Rumah Ramah Rubella sebagai wadah baru untuk melancarkan visi meningkatkan awareness masyarakat Indonesia, khususnya para calon ibu, tentang infeksi TORCH.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.