VEGETARIAN SAAT HAMIL, OTAK BAYI TARUHANNYA, MA

Mengonsumsi sayuran memang baik untuk kesehatan tubuh. Namun jika Mama hanya makan sayuran selama hamil, bukannya bikin sehat, malah membahayakan perkembangan otak janin.

Nakita - - HALAMAN DEPAN - Oleh: Avrizella Quenda, Gisela Niken, Dini Felicitas

Faktanya, ibu hamil butuh semua zat gizi untuk menunjang kehamilan dan perkembangan janin. Daging mengandung asam amino yang dibutuhkan pembentukan sel­sel tubuh si janin. Bisa dibayangkan apa jadinya bila asupan itu nol sama sekali.

Dalam Kamus Gizi – Pelengkap Kesehatan Kelu

arga (Penerbit Buku Kompas, November 2009), dijelaskan, sayuran adalah makanan nabati yang berupa daun, buah, atau umbi yang merupakan sumber zat gizi mineral dan vitamin. Meski dibutuhkan hanya dalam jumlah sedikit, kedua zat gizi mikro ini berperan penting dalam proses pertumbuhan dan metabolisme tubuh. Seperti dilansir lifestyle.kompas.com, dokter spesialis gizi klinik Samuel Oentoro mengungkapkan, vitamin dan mineral membantu pembentukan energi. Energi berasal dari karbohidrat, lemak, dan protein. Akan tetapi, tanpa vitamin dan mineral, ketiganya sulit diubah menjadi energi.

Itulah mengapa, kita dianjurkan mengonsumsi banyak sayuran, terutama saat sedang hamil. Namun, apa jadinya jika mamil hanya mengonsumsi sayuran alias menjadi vegetarian selama hamil? Sebuah studi baru-baru ini menemukan, seorang perempuan yang vegetarian ketika hamil berisiko tiga kali lebih besar kemungkinannya memiliki anak-anak yang menyalahgunakan narkoba dan alkohol di masa remaja mereka. Penelitian ini didasarkan pada studi yang telah berjalan lama dengan melibatkan 10 ribu remaja yang telah menggunakan alkohol, ganja, dan tembakau.

Studi tersebut menemukan, mama yang makan daging lebih sering pada saat hamil, maka anak yang dilahirkannya cenderung tidak menjadi pengguna alkohol, ganja, atau tembakau pada usia 15 tahun. Tak demikian halnya jika mamil hanya makan sedikit atau malah sama sekali tidak makan daging. Para periset menjelaskan, mamil yang tidak makan daging memiliki kadar vitamin B12 yang rendah. Hal ini tentunya dapat memengaruhi perkembangan otak bayi.

Faktanya, setiap perempuan perlu mendapatkan semua zat gizi selama kehamilan seperti zat besi, vitamin B12, dan kalsium. Mamil yang vegetarian atau hanya makan sayuran dan buah, mungkin merasa kesulitan mendapatkan cukup vitamin B12, salah satu zat gizi yang ditemukan pada daging dan diperlukan untuk perkembangan otak janin.

Daging mengandung asam amino yang tinggi. Asam amino merupakan protein yang sangat penting untuk sel tubuh Mama dan janin. Makanan tinggi protein juga berfungsi menjaga rasa lapar dan gula darah Mama. Daging tanpa lemak sangat baik untuk mamil, karena mengandung zat besi yang tinggi untuk memasok sel darah Mama dan janin. Zat besi juga membangun jaringan saraf otak sejak dalam kandungan.

Peneliti menganalisis remaja yang lahir dari ibu yang memiliki pola diet vegetarian ditemukan memiliki masalah perilaku lantaran minum alkohol, penggunaan ganja dan tembakau setiap hari. Studi ini juga menemukan kemungkinan salah satu dari penyalahgunaan zat ini berkurang, jika selama hamil, Mama semakin banyak mengonsumsi daging.

MI INSTAN MEMBAHAYAKAN JANIN DI AWAL KEHAMILAN

Selain hanya makan sayuran, masih ada lagi makanan yang juga dapat membahayakan janin, yaitu mi instan. Apalagi jika dikonsumsi rutin di awal kehamilan. Seperti kita tahu, di awal kehamilan, tak sedikit mamil yang ngidam. Hal ini normal, kok. Tapi, kalau ngidam- nya adalah rutin makan mi instan, malah jadi berbahaya.

Mamil perlu memahamil, trimester awal, terutama selama 8 minggu pertama kehamilan, adalah periode penting dalam pembentukan organ janin. Setiap gangguan/penyakit yang terjadi pada periode ini sangat berpotensi menyebabkan kecacatan/kelainan pada janin. Sementara, pada mi instan terkandung zat-zat yang justru harus dihindari oleh mamil, seperti monosodium glutamat (vetsin), zat pewarna, atau zat pengawet yang berbahaya. Oleh karena itu, di awal kehamilan, Mama sebaiknya menahan diri untuk tidak terus-terusan mengonsumsi mi instan, sekalipun sedang ngidam.

Lalu, bagaimana cara untuk mengatasi ngidam makanan yang tak sehat seperti mi instan? Elizabeth M. Ward, MS, RD dari American Dietetic Association memiliki beberapa

cara yang bisa Mama coba. • Perbanyak makan sumber protein tanpa lemak. Makanan

sehat yang mengenyangkan akan membuat mamil enggan mengonsumsi makanan tak sehat. • Makan secara teratur untuk menghindari lonjakan gula

darah yang dapat memicu ngidam. Bagilah porsi makanan sehari-hari ke dalam enam porsi makanan yang lebih kecil. • Olahraga rutin yang pastinya aman untuk dilakukan oleh

mamil dan disesuaikan dengan kondisi kehamilan masing-masing. • Jika rasa ngidam mulai muncul, segera alihkan perhatian dengan berjalan-jalan sebentar atau melakukan hobi, misalnya, membaca buku. • Pilih-pilih makanan pengganti atau mengurangi porsi.

Contoh, saat ingin makan yang manis-manis, gantilah dengan buah-buahan yang lebih sehat. Bila sangat ingin makan gorengan, cobalah makan dalam porsi lebih kecil. Kalau ingin makan mi instan? Mama bisa membuat mi sendiri yang pastinya lebih sehat.

MINUMAN MANIS BIKIN BAYI KELEBIHAN BERAT BADAN

Minuman manis juga tak baik, Ma, bukan hanya bagi kesehatan mamil, tetapi juga janinnya. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Manitoba di Kanada mengungkapkan, mamil yang senang minum minuman manis cenderung memiliki bayi dengan berat badan berlebih dan meningkatkan risiko obesitas di masa mendatang. Menurut studi ini, anak bisa saja berpotensi mengalami kenaikan berat badan berlebih sebelum usianya satu tahun. Risiko ini meningkat dua kali lipat jika Mama tak bisa lepas dari minuman (dan juga makanan) yang manis-manis.

Gideon Koren, MD, salah seorang peneliti di Canadian Family Physician mengatakan, gula memang dibutuhkan oleh mamil, tetapi jumlahnya perlu dibatasi. Kalau tak bisa membatasi asupan minuman manis, maka bersiaplah un-

tuk menerima risiko munculnya penyakit diabetes dan preeklamsia. Tak hanya itu. Menurut para peneliti, sering mengonsumsi minuman yang ditambah pemanis buatan seperti soft drink bisa meningkatkan risiko hingga dua kali lipat memiliki bayi yang kelebihan berat badan pada usia satu tahun.

“Kami memiliki bukti pertama yang menyatakan bahwa ibu hamil yang mengonsumsi pemanis buatan bisa memengaruhi indeks massa tubuh bayi,” tutur pemimpin studi, Meghan Azad dari University of Manitoba. Indeks massa tubuh bayi diukur saat mereka berusia satu tahun. Hampir 30% perempuan mengaku gemar minum minuman dengan pemanis buatan saat hamil, meskipun tidak dijelaskan apa jenis pemanis yang dikonsumsi.

Ada faktor-faktor yang berperan dalam menentukan berat badan bayi, seperti jenis kelamin bayi, apakah sang mama kelebihan berat badan, atau apakah bayi mendapatkan ASI, dan berapa lama hal itu berlangsung. Beberapa penelitian sebelumnya mendapati bahwa pemanis buatan bisa memicu nafsu makan dan menyebabkan penambahan berat badan. Pemanis buatan juga diduga mengacaukan bakteri dalam usus dan meningkatkan risiko masalah jantung.

Kesimpulan ini, menurutnya, berdasarkan data survei yang didapat dari responden sendiri. Lebih dari 3.000 mama mengikuti survei ini untuk melaporkan kebiasaan pola makannya, yang kemudian dianalisis oleh para peneliti. Penemuan yang diperoleh dari kuesioner juga sering kali mengandung banyak kesalahan. Oleh karena itu, peneliti mengakui butuh riset lebih lanjut untuk membuktikan apakah benar minum soft drink saat hamil memberi akibat buruk bagi bayi.

Terkait pemanis buatan ini, Koren mengatakan, “Risiko kerusakan otak janin hingga kelahiran prematur akan menjadi ancaman jika mamil mengonsumsi pemanis buatan yang berlebihan.” Apalagi, minuman manis yang dijual dalam kemasan juga banyak yang mengandung bahan pengawet. Sebuah penelitian pada 2012 yang diterbitkan oleh jurnal EvidanceBased Child Health mengungkapkan pola makan dengan makanan berpengawet akan berdampak pada masalah kulit bayi. Lebih dari itu, makanan berpengawet tinggi ternyata erat kaitannya dengan masalah saraf pada janin, seperti terhambatnya pertumbuhan saraf otak janin dan gangguan saraf pada bayi saat lahir.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.