IQ SI KECIL MASIH BISA BERUBAH

Otak tak akan berhenti berkembang sepanjang masa anak-anak sampai dewasa muda dan semakin kompleks. Itulah mengapa IQ bukanlah sesuatu yang menetap.

Nakita - - HALAMAN DEPAN - Oleh: Anindita Subawa

Perkembangan pesat otak anak terjadi sampai usia 4 tahun. Namun, tidak berarti setelah itu stop, karena otak akan terus berkembang. Itu sebabnya IQ bukanlah sesuatu yang menetap. Asah terus dengan berbagai stimulasi.

Mama Papa tentu kerap membaca bahwa sejak lahir sampai usia empat tahun, otak anak akan tumbuh sangat pesat. Bahkan, hingga si kecil duduk di prasekolah, otaknya sudah bertumbuh hampir 90% otak dewasa. Meskipun demikian, otak tak akan berhenti berkembang. Otak terus berkembang dan semakin kompleks sepanjang masa anak-anak sampai dewasa muda. Itulah mengapa jika kita bicara tentang intelligence quotient atau IQ, bukanlah sesuatu yang menetap.

Karena kecerdasan adalah sesuatu yang akan terus berkembang, sudah menjadi tugas para orangtua untuk mengasah kecerdasan anak dengan cara yang tepat. Lalu apa yang dimaksud kecerdasan? Kecerdasan berarti kemampuan untuk memproses informasi, yang nantinya mendukung kemampuan belajar, penalaran, dan penyelesaian masalah. David Wechsler adalah salah satu psikolog yang mempelopori pengukuran inteligensi. Pada dasarnya inteligensi adalah sesuatu yang abstrak, sehingga tampak sulit diukur. Namun, Wechsler mengembangkan alat tes yang bisa mengukur inteligensi.

Mengutip Wechsler, Widya S. Sari, M.psi., Psikolog membagi kecerdasan menjadi beberapa aspek, yakni: 1. Rentang perhatian dan daya ingat. 2. Kemampuan aritmatika/numerik, seperti kemam

puan berhitung. 3. Kemampuan verbal/linguistik, seperti kemampuan

bahasa. 4. Kemampuan abstraksi dan perseptual (termasuk di dalamnya kemampuan spasial), seperti kemampuan mengenal ruang. 5. Koordinasi visual-motorik, seperti kemampuan mo

torik kasar dan halus, serta koordinasi mata-tangan. 6. Penalaran sosial, seperti kematangan emosi, kemandi

rian, interaksi, dst.

VARIASIKAN KEGIATAN

Seluruh aspek kecerdasan di atas tentu perlu distimulasi, tetapi tidak semua hal bisa dilakukan dalam satu waktu. “Maka itu penting sekali kita memberikan vari- asi kegiatan saat merangsang kecerdasan anak,” jelas psikolog yang berpraktik di RSUP Fatmawati, Jakarta ini. Berikut fakta sekaligus tips yang dapat merangsang kecerdasan buah hati:

• Variasi kegiatan stimulasi sangat bergantung pada tahapan perkembangan anak.

Misalnya, saat anak masih bayi, kegiatan stimulasi berfokus pada sensori dan motorik. Beranjak balita, baru kita beralih pada aspek verbalnya. Mama Papa perlu tahu apa saja tahapan perkembangan anak, sehingga bisa mengecek apakah tumbuh kembang anak sudah sesuai dengan

milestone- nya, atau mana lagi yang perlu dirangsang lebih.

• Mengasah kecerdasan anak bukan cuma soal menjejali anak dengan serangkaian pengetahuan, terlebih bagi anak usia dini.

Pembelajaran yang paling berarti justru terjadi lewat partisipasi aktif anak dalam segala hal, sehingga ia bisa mengalami sendiri, sekaligus belajar dari pengalaman tersebut. Contoh, anak diajak turun ke dapur sehingga ia tidak belajar memasak begitu saja, tetapi step by step, dimulai dengan ikut membantu memetik daun sayuran atau mengupas bawang. Di situ anak akan melatih keterampilan sensori dan motoriknya, sambil mengenal dan mengelompokkan berbagai jenis bahan masakan.

• Kehadiran orangtua bersama anak adalah stimulasi kecerdasan yang paling mudah.

Sebagian besar metode stimulasi itu bisa dilakukan di rumah, dengan alat-alat yang ada di rumah atau dapat dibuat sendiri di rumah. “Yang utama justru bagaimana cara orangtua memanfaatkan alat atau bahan tersebut dalam proses stimulasi,” papar Widya. Maka, efektivitas mainan edukatif atau ‘ brainy’ toys sangat bergantung pada bagaimana penggunaannya pada anak.

• Semakin bertambah usia anak, tak menjadikan keterlibatan orangtua berkurang.

Mungkin anak bisa bermain sendiri, tetapi bagi anak bermain dengan ditemani orangtua jauh lebih menyenangkan. Pertanyaan seperti, “Mama bisa main dengan aku?” ten- tunya membuat kita berpikir ulang untuk menolak. Bermain bagi anak bukan cuma sekadar bermain, tapi juga belajar. Bermain adalah cara anak mengasah kecerdasannya dalam berbagai hal.

• Kecerdasan anak juga akan bertambah jika kita memberikan pengalaman nyata padanya.

Pergi ke warung atau minimarket dekat rumah akan membantu anak belajar berhitung, mengelompokkan benda, atau membaca label. Pergi ke kebun binatang membantu anak sadar bahwa gajah atau harimau adalah sesuatu yang hidup, tidak cuma berada pada halaman bukunya. Bahkan, menonton televisi bersama bisa membantu anak lebih memahami apa yang ia lihat, karena ia tak sekadar menonton saja, tetapi juga bertanya langsung pada kita dari apa yang ditonton.

• Penelitian menemukan hubungan antara kecerdasan anak dan kelekatan anak dengan orangtua.

Pola pengasuhan yang mengedepankan kelekatan anak berdampak pada kecerdasan anak. Di saat anak merasa aman dan nyaman dengan diri sendiri dan orangtua, ia akan lebih mudah menyerap dan mempelajari segala sesuatu dengan sendirinya. Pendek kata, situasi rumah dan keluarga yang kondusif juga berpengaruh besar pada kecerdasan anak.

• Pentingnya pembentukan mindset anak tentang dirinya sendiri.

Anak perlu diajari bahwa otak itu ibarat sebuah otot, ia akan menguat jika sering digunakan. Setiap terbentuk koneksi baru, maka otak berkembang, dan anak pun semakin pintar

Seluruh aspek kecerdasan perlu distimulasi, namun tidak semua hal bisa dilakukan dalam satu waktu.

• Orangtua perlu memberikan apresiasi pada pencapaian anak sekecil apa pun.

Bukan selalu melihat hasil, tetapi juga menghargai usaha yang ia lakukan. Respons positif pada setiap pencapaian anak akan mendorong anak untuk selalu mau belajar dan mencoba.

• Memberikan anak ruang untuk bereksplorasi

dan meresponsnya secara positif adalah salah satu cara mengasah kecerdasan anak.

• Menjadi orangtua tak membuat kita selalu menjadi lebih tahu segala hal.

Karena mengasah kecerdasan itu membutuhkan interaksi dua arah, ada yang memberikan stimulus dan ada yang meresponsnya. Baik anak dan orangtua, samasama belajar mengenali satu sama lain, sekaligus mengasah kecerdasan masing-masing. Dari setiap interaksi itulah, kita jadi terdorong untuk lebih responsif pada rasa ingin tahu anak. Kita tergerak mencari tahu lebih banyak lagi tentang segala hal yang ditanyakan anak. Pada akhirnya, mengasah kecerdasan tak hanya menjadikan anak semakin pintar, tetapi juga menjadikan kita, orangtua, lebih kaya dalam wawasan dan selalu tergugah mencari detail pengetahuan untuk kita bagikan pada si kecil kelak.

Nah, selamat merangsang kecerdasan anak. Perlu selalu diingat, kecerdasan bukanlah semata diturunkan secara genetis. Namun, terjadi interaksi antara diri anak dan lingkungannya yang membentuk kecerdasan itu menjadi utuh dan juga kompleks. Apalagi otak sebagai pusat kendali tubuh manusia menjadi satu-satunya organ tubuh yang memahat dirinya sendiri melalui pengalaman yang dirasakan. Anak belajar dari apa yang ia lihat, dengar, alami, dan rasakan. Pengalaman itulah yang mengubah dan merombak struktur dan fisiologis otak.

Narasumber: Widya S. Sari, M. Psi. Psikolog di RSUP Fatmawati

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.