HAMIL DI USIA LANJUT? YUK, KENALI SEGALA RISIKONYA!

Dari cerita dua mama hebat yang hamil di usia 35 tahun ke atas, kita semakin paham kalau kelompok usia tersebut masuk ke dalam golongan kehamilan berisiko tinggi. Lalu, apa saja, ya, risikonya?

Nakita - - BERANDA - Oleh: Isma Anggritaningsih

Laporan yang dibuat oleh Centers for Disease Control and Prevention

(CDC), yaitu badan Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat, pada Mei 2014 menyatakan, angka kelahiran pertama untuk perempuan berusia 35—39 tahun meningkat dari tahun 1970 hingga 2006, menurun dari tahun 2006 sampai 2010, lalu meningkat lagi di tahun 2011 dan 2012. Di Amerika Serikat, sejak tahun 2000, di 46 negara bagian dan Washington DC terdapat peningkatan angka kelahiran pertama untuk perempuan usia 35—39 tahun. Sementara di Australia, Britania Raya, dan sebagian besar negara di Eropa, usia rata-rata ibu yang melahirkan pertama adalah 30 tahun.

Menurut dokter spesialis obgin, Muhammad Ilham Aldika Akbar, di Indonesia sendiri belum ada data nasional yang menghitung angka kelahiran pertama pada mama berusia 35 tahun ke atas. Namun, berdasarkan pengamatan dirinya dan dokter-dokter obgin lainnya, insiden mamil yang berusia 35 tahun ke atas di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun, Ma. “Hal ini mungkin terkait semakin banyaknya pasangan yang menunda kehamilan dikarenakan alasan pekerjaan, mengejar karier, dan sebagainya,” ucap Aldi, panggilan akrabnya.

Seperti kita ketahui, kehamilan di atas usia 35 tahun adalah kehamilan tinggi risiko komplikasi, baik pada janin maupun ibunya. Ini juga berlaku pada kehamilan kedua bagi mama yang berusia lebih dari 35 tahun, ya. Misalnya, kehamilan pertama berlangsung saat Mama berusia di bawah 35 tahun dan berjalan lancar, nyaman, serta minim risiko. Nah, ketika Mama hamil di kelompok usia kehamilan be- risiko ini, maka risiko-risiko yang mungkin terjadi pada Mama dan janin adalah diabetes pada kehamilan, preeklamsia, pertumbuhan janin terhambat, bayi lahir berat rendah, kelahiran prematur, operasi sesar, kelainan bawaan janin, dan risiko keguguran yang meningkat. Menurut Aldi, hal ini sedikit banyak disebabkan adanya penurunan kualitas dari ovarium (sel telur) seiring dengan semakin tuanya usia mama. Untuk jelasnya, kita

obrolin risiko-risiko tersebut lebih dalam lagi, yuk, Ma!

AKIBAT PENURUNAN FUNGSI DAN KUALITAS ORGAN

Para peneliti dari King’s College London (KCL), London, Inggris, menyelidiki perubahan fisiologis di tubuh perempuan yang dapat menjelaskan kon- traksi terkait komplikasi kehamilan. Penelitian yang dipublikasikan di The J ournal Of

Physiology (Februari 2017) ini menggunakan bahan percobaan seekor tikus untuk memeriksa hubungan antara penuaan ibu dengan struktur rahim. Pada tikus yang lebih tua, kemampuan otot berkontraksi terganggu. Otot juga kurang responsif terhadap oksitosin akibat kontraksi dan memiliki jumlah mitokondria (bagian kecil di dalam sel yang bertanggung jawab untuk menghasilkan energi) yang lebih rendah. “Penelitian kami menyoroti bahwa ada perubahan fi- siologis dan sel-sel penting yang terkait dengan usia ibu, yang dapat mengakibatkan disfungsi persalinan. Waktu dan progres persalinan berhubungan langsung dengan usia ibu dan hal ini dapat menyebabkan komplikasi selama kelahiran,” jelas Dr. Rachel M. Tribe, ketua tim peneliti, seperti dilansir medicalnewstoday.com.

Menanggapi studi tersebut, dokter spesialis obgin Ivander Utama mengatakan, “Setiap manusia akan mengalami perubahan dalam kondisi kesehatannya selama masa kehidupan. Salah satunya adalah perubahan

Di masa kehamilan, janin dari mama berusia lanjut akan lebih berisiko mengalami autisme, gangguan kromosom, terhambat pertumbuhannya, berat badan bayi terlalu besar, serta kelainan pembentukan organ.

Terjadinya risiko tinggi pada kehamilan di usia lanjut, sedikit banyak disebabkan adanya penurunan kualitas dari ovarium (sel telur) seiring dengan semakin tuanya usia mama.

yang bersifat degeneratif atau penurunan fungsi dan kualitas dari organ tubuh.” Nah, dalam hal kehamilan di usia lanjut, proses ini dapat membuat tubuh Mama memberikan respons berbeda terhadap kehamilan, bila dibandingkan kehamilan yang terjadi di usia lebih muda. Menurut Ivander, proses ini juga meningkatkan terjadinya komplikasi/risiko dalam masa kehamilan dan persalinan yang lebih tinggi pada ibu dengan usia lanjut, yakni 35 tahun ke atas. “Komplikasi ini bukan saja memengaruhi ibu, tetapi juga bayinya, bahkan hingga tingkat kromosom,” tambah Ivander.

Itulah mengapa, di masa kehamilan, janin dari mama berusia lanjut akan lebih berisiko mengalami autisme, gangguan kromosom, terhambat pertumbuhannya, berat badan bayi terlalu besar, serta kelainan pembentukan organ (seperti tempurung kepala, tulang punggung, jantung, saluran pencernaan, kematian janin mendadak, dan lainnya). Lalu, di proses persalinan, bayi dapat mengalami berbagai komplikasi akibat persalinan prematur, gawat janin, hingga cerebral palsy (penyakit kerusakan otak yang dapat mengganggu fungsi motorik, intelegensi, sensori, visual serta emosi).

Sementara pada mama, kehamilan di usia lanjut akan me- ningkatkan risiko dalam masa kehamilan dan di proses persalinan, Ma. Di masa kehamilan, risiko yang meningkat adalah diabetes dalam kehamilan, kenaikan berat badan berlebih, darah tinggi, persalinan prematur, preeklamsia dan eklamsia, serta kehamilan di luar kandungan. Sementara di proses persalinan, risiko yang sering timbul yaitu gangguan kontraksi rahim, kemacetan persalinan, infeksi, meningkatnya insidensi persalinan operatif (seperti vakum dan forsep), hingga meningkatnya kejadian persalinan melalui operasi sesar.

BENARKAH HARUS SESAR?

Setelah mengetahui komplikasi persalinan yang dapat terjadi pada mamil anak pertama di usia 35 tahun ke atas, mungkin muncul pertanyaan di benak Mama, “Mengapa hal tersebut dapat terjadi, ya?” Jadi, Ma, seperti kita ketahui, persalinan adalah proses yang menguras tenaga Mama dan juga bayi. Proses persalinan dimulai saat kontraksi rahim terjadi dan dapat berlangsung hingga 16 jam, yang diawali dengan mulainya kontraksi teratur pada kala 1 persalinan dan diakhiri dengan kala 4 persalinan, yaitu 2 jam pascalahirnya bayi.

Nah, proses yang panjang ini memerlukan kondisi yang prima pada Mama. Tentunya semakin lanjut usia Mama, kekuatan Mama dalam menghadapi proses ini juga akan lebih kecil bila dibandingkan dengan saat usia Mama lebih muda. “Hal inilah yang menimbulkan komplikasi persalinan lebih tinggi pada ibu berusia lanjut saat menjalani proses persalinan,” ungkap Ivander. Itulah mengapa, meningkatnya risiko persalinan melalui operasi sesar dapat terjadi pada mamil di usia lanjut. Begitu pula yang ditemukan oleh para peneliti di Irlandia, Ma. Mereka meneliti hasil persalinan dari hampir 37.000 mama dari berbagai usia yang baru melahirkan, selama 12 tahun di Irlandia, dan kemudian memublikasikan hasil penelitian mereka pada Juni 2013. “Hasil penelitian ini selaras dengan literatur sebelumnya, yang menyoroti fakta bahwa usia lanjut ibu menjadi faktor risiko penting yang mengakibatkan dampak buruk pada kehamilan,” kata Deirdre Murphy, seorang peneliti di Universitas Dublin, seperti dilansir oleh medicaldaily.com.

Penelitian tersebut menyatakan, mama yang hamil pertama di usia lanjut kemungkinan melahirkan melalui operasi sesar akan lebih besar, bayi yang dilahirkan lebih mungkin mengalami kelainan kongenital, dan si ibu akan cenderung mengalami obesitas atau menderita ganggu- an medis, seperti hipertensi atau diabetes. Ivander mengatakan, penelitian ini adalah penelitian konfirmasi dari penelitian-penelitian sejenis yang sudah ada jauh sebelumnya, Ma.

Memang benar bahwa proses persalinan operatif akan lebih sering terjadi pada ibu usia lanjut. Menurut Ivander, hal ini terjadi karena berbagai faktor degeneratif pada mama usia lanjut dan kehamilannya. “Selain itu, kelainan kongenital juga meningkat akibat banyak faktor, mulai kualitas sel telur yang tidak lagi optimal hingga penumpukan senyawa beracun dan bersifat toksik pada janin yang semakin menumpuk seiring dengan bertambahnya usia,” tambah Ivander.

Karena itu, Ma, kehamilan pada usia lanjut harus dipikirkan segala risikonya dan kemungkinan yang dapat terjadi, baik di masa kehamilan maupun saat persalinan. Namun jangan terlalu khawatir, Ma. Menurut Ivander, sangat banyak para mamil berusia lanjut yang berhasil melahirkan secara normal. Kunci keberhasilan dalam mewujudkan proses persalinan yang aman dan nyaman adalah mempersiapkan tubuh dan pikiran Mama dengan sebaikbaiknya saat mengandung, Ma. Nah, agar dapat mengatasi segala risiko dan kemungkinan buruk yang dapat terjadi, simak artikel berikutnya, ya, Ma!

Narasumber: dr. Ivander Utama, F.MAS, SPOG Rsiabundajakarta,menteng,jakartapusat Rsiacitraananda,ciputat,tangerangselatan Bundainternationalclinic,pacificplace, Jakartaselatan

Narasumber: dr. Muhammad Ilham Aldika Akbar, SPOG(K) Dokterspesialisobginkonsultanfetomaternalrsia Kendangsarimerrdanrsuddr.soetomoRSUNAIRSURABAYA

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.