6 JENIS RISIKO KEHAMILAN DI USIA LANJUT DAN PENANGANANNYA

Nakita - - BERANDA -

Situs kesehatan dan sains terkemuka, medicaldaily.com, menyatakan ada 6 risiko kehamilan yang dapat terjadi pada mamil di usia 35 tahun ke atas. Simak penjelasannya dan tanggapan Ivander berikut ini:

# Kehamilan Ektopik

Kehamilan yang terjadi di luar rahim ini merupakan salah satu komplikasi yang menurut Ivander cukup jarang ditemui. Penanganan terbaik dari kehamilan ektopik adalah dengan mendiagnosis secara dini kehamilan ektopik tersebut sebelum membahayakan nyawa Mama. Janin pada kehamilan ektopik biasanya tak dapat dipertahankan lagi karena akan terjadi kematian janin pada usia sangat dini, Ma. Pada kasus seperti ini, langkah terbaik yang dilakukan adalah berusaha menyelamatkan nyawa Mama dan mempersiapkan Mama untuk kehamilan be rikutnya dengan lebih baik lagi.

# Kelainan Kongenital/bawaan

Kelainan ini meningkat insidensinya pada kehamilan usia lanjut dan memiliki berbagai jenis kelainan. Nah, beberapa jenis kelainan ini dapat dicegah, Ma, misalnya, dengan pemberian asam folat prakehamilan, namun sebagian besar tidak dapat dicegah. Yang terpenting dalam mengatasi kelainan ini adalah pencegahan dan mendeteksi dini kelainan yang terjadi. Dengan deteksi dini, persalinan dapat direncanakan dengan baik. Hal ini meliputi kolaborasi dokter obgin, dokter anak, dan dokter spesialis lain, seperti bedah anak, endokrin anak, dan lain­lain.

# Tekanan Darah Tinggi

Risiko ini dalam kehamilan kadang dapat diprediksi mulai trimester pertama ketika Mama melakukan skrining tekanan darah. Bila hasil skriningnya menyatakan tekanan darah Mama tinggi, maka dapat dilakukan berbagai tindakan pencegahan. Misalnya, penambahan suplemen, membatasi kenaikan berat badan Mama, perbaikan gizi Mama, serta meningkatkan aktivitas fisik Mama. Pada kasus kehamilan usia lanjut, kenaikkan tekanan darah sering kali terjadi di trimester ke­3 dan dapat mengakibatkan dilakukannya tindakan melahirkan bayi secara prematur.

# Diabetes

Diabetes dalam kehamilan sering terjadi, bahkan dapat dialami oleh mama yang tidak memiliki riwayat kencing manis sebelumnya atau riwayat kencing manis dalam keluarga. Menurut Ivander, deteksi dini diabetes dalam kehamilan harus dimulai sejak trimester pertama, terutama pada mamil dengan risiko tinggi. Contohnya, mamil dengan kenaikan berat badan berlebih, obesitas, riwayat diabetes dalam keluarga, riwayat bayi besar, riwayat persalinan prematur sebelumnya, dan lainnya. Mengontrol kadar gula darah secara intensif juga sangat penting dilakukan terutama pada mamil. Pasalnya, kenaikkan kadar gula berlebih dapat membahayakan janin dalam kandungan.

# Plasenta Previa

Plasenta menutupi jalan lahir akan mengakibatkan tidak bisanya Mama bersalin dengan metode normal. Namun, deteksi dini letak plasenta dapat dilakukan sejak trimester pertama kehamilan dan dapat dikonfirmasi ulang pada trimester ketiga melalui USG transvaginal, Ma. Hal ini akan membantu dokter untuk memutuskan bagaimana persalinan akan dilakukan kelak.

# Kematian Bayi

Menurut Ivander, risiko kematian bayi dalam kandungan adalah kasus yang jarang ditemukan. Angka kejadiannya sekitar 1% saja, tetapi dapat meningkat hingga 2% pada mamil yang berusia di atas 40 tahun. Sebagian besar kasus kematian bayi dalam kandungan berhubungan erat dengan kelainan kromosom pada bayi. Tetapi, ditemukan juga kasus­kasus dimana penyebab dari kematian bayi tak dapat ditemukan, Ma. Ivander mengatakan, mempersiapkan kehamilan dan mengoptimalkan tubuh Mama dengan baik adalah satu­satunya usaha untuk menurunkan kejadian ini.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.