PENYEBAB ANAK SUSAH MAKAN

Memberi banyak pilihan makanan pada si kecil, salah satunya. Ups! Apakah Mama juga melakukannya?

Nakita - - Halaman Depan - Oleh: Gisela Niken

Memberi makan yang itu-itu melulu bisa jadi salah satu penyebabnya. Diperlukan kreativitas Mama dalam menyajikan makanan baik dalam soal rasa maupun variasi bahan agar membangkitkan nafsu makan anak.

Duh, anak saya susah makan! Apakah karena makanannya kurang menarik? Atau mungkin ada kebiasaan kita yang salah pada saat memberinya makan? Ternyata, memang ada beberapa kebiasaan mama yang justru menyebabkan anak susah makan. Sebenarnya maksudnya baik agar anak bisa makan banyak dan sehat, tetapi caranya saja yang kurang tepat. Berikut beberapa penyebab anak susah makan yang kadang tidak disadari oleh orangtua.

• Tidak memiliki jadwal makan teratur.

Baru sebentar makan sudah ditawari makan lagi. Belum aneka camilan atau makanan pendamping yang kadang Mama tawarkan pada si keci. Namun, Mama tidak menyadari bahwa anak butuh jadwal makan yang teratur dan tentu saja sesuai dengan takarannya.

The Academy of Nutrition and Dietetics di Amerika merekomendasikan anak berusia 3 tahun mendapatkan 1.000 kkal per hari. Si kecil bukan seperti kita orang dewasa yang butuh banyak makan. Meski dalam masa pertumbuhan, Mama perlu menyoroti nutrisi yang masuk bukan hanya jumlahnya semata. Jadi jangan heran ketika anak menolak makan, bisa jadi ia sudah merasa kenyang.

• Cenderung memaksa anak yang susah makan

Saat anak menolak makanan, banyak mama yang memilih memaksa anak untuk makan tanpa mengetahui apa yang jadi kebutuhan. Menurut Multikarina, M.kes, seorang ahli gizi, pada usia ini anak bersifat konsumen pasif. Artinya, ia hanya bergantung pada anak yang disediakan oleh Mama. Maka, kebiasaan makan yang baik pada anak membutuhkan peran orangtua yang cukup besar. “Sejak kecil orangtua perlu menyodorkan beragam makanan dan menciptakan kebiasaan makan yang menyenangkan. Hasilnya akan terbentuk kebiasaan makan yang baik pada anak,” ujarnya. Kesabaran inilah yang dituntut oleh orangtua untuk secara perlahan memberikan berbagai ragam makanan. Anak yang terbiasa dengan beraneka ragam tentunya akan lebih mudah menerima berbagai asupan makanan. Hal ini akan mencegah terjadinya kondisi di mana anak susah makan.

• Mengiyakan ketika anak pilih-pilih makanan.

Banyak mama yang beranggapan bahwa anaknya memang tidak suka makan sayur atau bahan makanan tertentu, sehingga dibiarkan begitu saja. Padahal, kondisi ini normal terjadi saat anak menginjak usia dua tahun. “Pertumbuhan anak memang melambat pada usia dua hingga tiga tahun yang diikuti dengan penurunan nafsu makan. Anak berpotensi jadi picky

eater atau hanya suka makanan-makanan tertentu pada usia ini,” ujar Rita Yumarilis, DCN, Mkes, ahli gizi. Karenanya, Mama hanya perlu siasat lebih untuk mengatasi kondisi pertumbuhan ini. Misalnya lebih banyak mengenalkan beragam makanan dan menjadikan waktu makan sebagai momen yang menyenangkan. Menemani si kecil makan juga akan membantunya ikut senang makan makanan yang disajikan untuknya.

• Memberikan terlalu banyak pilihan makanan.

Menawari si kecil mau makan apa sebetulnya memang baik agar ia merasa dilibatkan dan dihargai. Namun, jika pilihan ini dibebaskan sepenuhnya pada anak, maka kemungkinan besar negosiasinya akan semakin alot dan ujung-ujungnya bikin repot. Karena itu, pilihannya perlu dibatasi sehingga anak tidak mudah menolak dan malah memilih makanan yang itu-itu saja. Dalam buku Fearless Feeding How to Raise Healthy Eaters from High Chair to High School karangan Maryann Jacobsen dikatakan, orangtua perlu merencanakan menu makanan anak, misalnya untuk rentang waktu satu minggu, dan tidak terpancing untuk memberinya makanan di luar perencanaan itu.

• Terlalu mengikuti kemauan anak saat makan.

Kebiasaan memberikan kebebasan yang begitu longgar saat makan membuat anak tidak terbiasa dengan aturan. Misalnya, mereka bebas memilih makanan sesuai selera dan kapan mereka mau makan. Tidak ada jadwal makan yang jelas serta menu makan yang variatif dari orangtua justru memicu anak malas makan ketika keinginannya tidak terpenuhi. Elly Satter, seorang ahli gizi sekaligus pendiri Elly Satter Institutes mengungkapkan tentang perlu adanya otoritas dari orangtua untuk membentuk kebiasaan makan yang baik pada anak. “Orangtua perlu memutuskan kapan anak harus makan, apa saja makanan yang anak harus makan, dan berapa banyak,” ujarnya.

• Membiarkan anak makan apa saja sebelum jam makan.

Siapa yang tak senang melihat anak makan banyak dan lahap? Namun, jangan biarkan anak makan terlalu banyak camilan atau makanan pendamping saat mendekati jam makan utama. Ingat, perut anak mudah kenyang, sehingga kondisi ini akan mengurangi nafsu makannya saat waktu makan utama tiba.

• Tidak menemani anak makan.

Banyak keluarga yang cenderung membedakan menu makanan anak dari makanan keluarga. Padahal, acara makan bersama dalam satu keluarga akan mempererat jalinan komunikasi orangtua-anak. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Appetite Journal mengungkapkan 85% anak dari orangtua yang berinteraksi dengannya menunjukkan selera makan yang lebih tinggi. Jadi, cobalah menjadikan waktu makan untuk berakrab-akrab dengan anak. Selipkan penjelasan mengapa anak perlu makan sayur dan manfaat dari makanan yang sedang ia konsumsi tanpa kesan menceramahi.

Yuk, Mama pasti bisa mengubah kebiasaan yang justru membuat anak susah makan. Pelan-pelan saja, pasti usaha Mama tidak akan sia-sia.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.