Hampir Separuh Anak Indonesia: Menderita Anemia

AKB merupakan salah satu bentuk tersering dari suatu defisiensi nutrisi yang bisa berdampak fatal bagi tumbuh kembang anak karena bisa mengganggu perkembangan mental, motorik serta perilakunya.

Nakita - - Beranda - Penulis: Dr. Taufiqur Rahman SPA Praktik di RS Muhammadiyah Lamongan Twitter: @taura_taura Instagram: @info_pediatri Situs: www.taura-taura.com

Anemia, atau istilah awamnya “kurang darah”, adalah manisfestasi klinis akibat rendahnya hemoglobin pada tubuh manusia.

Seharian tadi, Bunda Wina galau memikirkan si kecil Rafi yang baru berusia 14 bulan dan dinyatakan oleh dokter menderita Anemia kekurangan zat besi (AKB). Sebenarnya penyakit Rafi ditemukan secara tidak sengaja. Waktu itu, 2 minggu yang lalu, Rafi menderita demam tinggi selama 2 hari. Setelah menjalani pemeriksaan fisik dan cek laboratorium, dokter menyatakan Rafi menderita radang tenggorok. Namun hasil laboratorium menunjukkan hemoglobin mencapai 9,1 (kadar normal: 11). Dokter pun meminta tes laboratorium lanjutan berupa pemeriksaan kadar zat besi, dan hasilnya positip AKB. Kegalauan Bunda Wina makin bertambah saat googling dan menemukan fakta bahwa AKB merupakan salah satu bentuk tersering dari suatu defisiensi nutrisi yang bisa berdampak fatal bagi tumbuh kembang anak karena bisa mengganggu perkembangan mental, motorik serta perilakunya.

Anemia, atau istilah awamnya “kurang darah”, adalah manifestasi klinis akibat rendahnya kadar HEMOGLOBIN atau kurangnya sel darah merah pada tubuh manusia. Pada anak umur 6 bulan hingga 5 tahun, dikatakan anemia jika kadar hemoglobin < 11,0 g/dl, pada anak 5—11 tahun dikatakan anemia jika kadar hemoglobin < 11,5 g/dl. Sedangkan untuk anak 12— 13 tahun, batasan anemia jika hemoglobin < 12 g/dl. Rendahnya kadar hemoglobin ini juga digunakan untuk membedakan derajat anemia. Dikategorikan “anemia ringan” jika hemoglobin 10—11 g/dl, “anemia berat” jika hemoglobin < 7 g/dl. Sedangkan “anemia sedang” untuk anak <6 bulan jika hemoglobin < 9 g/dl dan “anemia sedang” pada anak 6 bulan hingga 5 tahun jika hemoglobin < 10 g/dl.

Anemia bisa terjadi karena pembentukan sel darah merah yang tidak mencukupi, terlalu banyak sel darah merah yang mengalami kerusakan atau kehilangan darah akibat perdarahan.

Pabrik pembuatan sel darah merah terjadi di sumsum tulang dan bergantung pada bahan dasar, termasuk zat besi. Jika bahan dasar pembentuknya tidak cukup, maka akan mengganggu pembentukan sel darah merah. Anemia akibat kekurangan zat besi merupakan anemia tersering pada anak. Hampir separuh anak Indonesia menderita anemia akibat kekurangan zat besi (berdasarkan Survey Kesehatan Rumah Tangga tahun 2007)

Gejala utama anemia adalah “pucat”. Kondisi pucat biasanya bisa dilihat pada kelopak mata, bibir, telapak tangan dan dasar kuku. Bisa juga kita sebagai orangtua membandingkan derajat kemerahan telapak tangan anak dengan dirinya sendiri. Jangan sampai orangtua menganggap anaknya “berkulit putih” padahal sebenarnya “pucat”. Jangan pula orangtua menganggap enteng kondisi pucat.

Selain pucat, anemia bisa menyebabkan gejala lesu, mudah lelah, sering mengantuk, pusing, atau sulit berkonsentrasi untuk belajar. Anak yang anemia juga cenderung memiliki denyut nadi yang lebih cepat dibanding anak normal.

Anemia sendiri sebenarnya merupakan manifestasi lanjut dari kondisi kekurangan zat besi. Kondisi “kekurangan zat besi” mempunyai 3 stadium secara laboratoris, meliputi: 1. Stadium I: Deplesi atau penurunan cadangan besi. Secara laboratoris, pada stadium ini terjadi penurunan kadar “ferritin” (yaitu protein penyimpan zat besi paling utama dalam tubuh) kurang dari 12 microgram/ml. Pada stadium ini kadar zat besi dalam serum masih normal dan hemoglobin juga normal. 2. Stadium II: defisiensi zat besi tanpa anemi. Pada stadium ini terjadi penurunan kadar ferritin maupun kadar zat besi dalam serum, namun hemoglobin masih normal. 3. Stadium III: anemia kekurangan zat besi. Pada stadium ini terjadi penurunan baik ferritin, kadar zat besi dalam serum maupun hemoglobin.

Jika kadar zat besi di dalam tubuh tidak mencukupi, secara bertahap akan terjadi penurunan kadar hemoglobin. Cadangan besi di dalam tubuh disimpan di hati dan akan digunakan jika tubuh mulai kekurangan besi. Tahap ini disebut deplesi besi yang merupakan tahap awal kekurangan besi. Jika kekurangan besi tahap ini tidak diatasi, selanjutnya akan terjadi defisiensi besi, yaitu besi yang beredar ke seluruh tubuh mulai berkurang dan lambat laun akan terjadi penurunan kadar hemoglobin karena jumlah besi tidak mencukupi untuk membentuk sel darah merah.

Untuk memahami terjadinya anemia defisiensi besi pada bayi, ada baiknya kita pahami dulu metabolisme zat besi pada bayi dan anak: 1. Bayi baru lahir memiliki kadar hemoglobin dan cadangan zat besi yang tinggi karena zat besi ibu mengalir aktif melalui plasenta ke janin. 2. Kadar hemoglobin menurun

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.