Nova

DEPRESI DI BALIK “LIKE” & “COMMENT”

- HILMAN HILMANSYAH , FOTO: ISTOCK, FOTO NARSUM: DOK PRI Reynitta Poerwito, Bach, of Psych., M. Psi., Psi., Psikolog Klinis Eka Hospital BSD City.

Alkisah, seorang blogger muda menderita depresi lantaran postingann­ya tak menuai banyak “like” dan “comment”. Sebegituny­a, kah? Ya, generasi millennial memang memiliki kepedulian terhadap gaya hidup, nilainilai perilaku, bahkan pola konsumsi yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Berikut pemaparan menarik dari Reynitta Poerwito, Bach, of Psych., M. Psi., Psi., Psikolog Klinis Eka Hospital BSD City.

Gadget menjadi penentu status sosial.

Berhasrat untuk selalu terdepan dalam teknologi, utamanya gadget. Perangkat canggih ini konon menentukan citra dirinya di mata orang lain, bahkan salah satu penentu status sosial di masyarakat.

Tak heran, model atau jenis gadget pun cepat berganti mengikuti tren dan orang semakin berani berutang alias konsumtif demi gadget impian. Pola perilaku yang juga berbeda dengan generasi sebelumnya, misalnya tidak lagi membaca buku tapi e-book.

Kekurangan­nya, gadget membuat si millennial sulit untuk membendung informasi sehingga banyak orang yang percaya informasi salah alias hoax. Kesempatan untuk melakukan kegiatan yang melanggar hukum juga lebih besar, seperti mengunduh secara ilegal dan merugikan pihak-pihak tertentu.

Cara sosialisas­i si millennial juga berbeda, sebab semua sekarang bisa dilakukan di mana saja, kapan saja dan tanpa harus ditemani dengan teman-teman. Hal ini membuat mereka lebih individual­istis.

Kepuasan pribadi atas “like” atau “comment”

Gemar menampilka­n diri pada ‘audiens’ adalah ciri khas generasi millenial.

Update status, unggah foto atau video ke media sosial. Tujuannya, mendapatka­n banyak LIKE atau komentar.

Plusnya, bisa mengetahui kondisi perasaan teman apakah sedang gembira, sedih, maupun bingung atau marah. Kita juga bisa memberikan dukungan via online, tidak harus bertatap muka.

Sayangnya, banyak orang yang menganggap like maupun komentar menjadi hal yang sangat penting untuk didapat karena mencermink­an penerimaan sosialnya. Dampaknya adalah, ketika ekspektasi­nya tidak terpenuhi, banyak yang menjadi tertekan, sedih, depresi, maupun menganggap dirinya tidak diterima/tidak dipedulika­n.

Dan karena komentar orang lain mengenai diri kita dianggap sangat penting, kita jadi sulit menerima kondisi fisik kita apa adanya. Oleh karena itu, aplikasi yang dapat “memperbaik­i” wajah dan hasil akhir foto yang lebih baik sangat digemari oleh orang-orang yang suka mem-posting wajah/anggota tubuh mereka yang lain. Lebih parah lagi kondisi ini dapat menjadi trigger munculnya gangguan mental, seperti body dysmorphic disorder dan lainnya.

Postingan yang dirasakan akan mendapatka­n banyak like/komentar beragam, seperti selfie, curhat mengenai masalah pribadi, atau memposting hal-hal yang dulunya merupakan kepuasan pribadi seperti perjalanan liburan dan kesuksesan lainnya. Bisa saja tumbuh kecemburua­n sosial dan rasa persaingan yang seharusnya tidak perlu ada di antara perkumpula­n sosialnya.

Tanpa disadari, si millennial tergantung pada media sosial. Bisa juga menjadikan kita sombong/ingin pamer mengenai rumah baru, perjalanan liburan, pencapaian, barangbara­ng yang dibeli, atau memamerkan kondisi fisik maupun pemikiran kita.

Dampaknya, banyak orang lain yang merasa iri, merasa tidak mampu, atau menambah tekanan karena tidak memiliki kehidupan sebaik teman-temannya. Selain itu, orang lain dengan sangat mudah mengetahui keberadaan kita, kemampuan finansial, maupun hal-hal lain yang sifatnya pribadi. Hal ini memicu orang yang tergoda untuk melakukan kejahatan. Mementingk­an ikatan sosial yang semu.

Kehidupan sosial menjadi nilai penting bagi generasi milennial. Salah satu caranya adalah bergabung dalam banyak grup media sosial melalui gadget. Kita dapat berbagi minat, pemikiran dan hal lainnya di dalam grup tersebut.

Bermuncula­n juga PLATFORM petisi seperti Change.org yang memudahkan millennial untuk beropini dan menyatakan pandangan mereka akan berbagai fenomena sosial di tengah masyarakat. Hal ini membuat kita mengurangi rasa kesepian atau kesendiria­n, serta memberikan kesempatan untuk bertemu orang-orang baru dengan lebih mudah.

Namun, banyak grup di media sosial yang pada akhirnya terikat secara ‘semu’ karena mungkin tidak semua orang di media sosial dapat kita kenal secara langsung. Ada juga grup-grup yang berisikan orangorang random, maksudnya belum tentu dari kalangan yang kita kenal. Beda dengan kelompok yang memang mengadakan pertemuan di luar media sosial, sehingga kita harus tetap berhati-hati dalam memilih grup di media sosial.

Percaya review sebelum memutuskan membeli produk atau jasa.

Generasi millennial memiliki perilaku konsumsi yang unik. Mereka belanja secara

online, bahkan untuk membeli makanan pun lewat web atau aplikasi. Mereka juga melihat review dari orang sebelum memutuskan membeli sesuatu produk. Ia tidak percaya begitu saja atas product knowlegde yang dipaparkan seorang marketing. Mereka pun cepat tanggap akan rilisan produk terbaru.

Belanja online menguntung­kan orangorang yang merasa memiliki sedikit waktu luang, sehingga mereka tidak harus menyisihka­n waktu untuk membeli makanan atau barang lainnya yang dibutuhkan. Namun, belanja online juga memiliki kelemahan. Kita tidak bisa berharap terlalu banyak karena secara langsung, memeriksa, dan membeli sendiri barang tersebut.

Menyukai produk atau jasa dengan brand story yang kuat.

Tak heran, konsep makan yang praktis ala FOOD STREET atau SHOPPING MALL dengan tema Jepang cepat hits karena menjual brand story. Fenomena ini terjadi karena millennial cenderung bosan dengan hal-hal yang biasa dijumpai sehingga adanya brand story yang kuat membuat mereka lebih tertarik.

Konsep ini juga membuat mereka belajar mengenai budaya baru yang seolah dibawa ke sini sehingga tidak harus membayar mahal untuk merasakan makanan-makanan Jepang, Amerika, atau negara lainnya. Walau kita mengetahui hal tersebut merupakan strategi marketing, namun kita sebagai manusia pasti memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terutama mengenai hal-hal baru, apalagi jika hal tersebut menjadi pengangkat status sosial.

Liburan menjadi kebutuhan utama millennial

Hal ini didukung dengan banyaknya platform online yang memudahkan pengaturan perjalanan. Hampir sama seperti alasan orang-orang berbelanja online, pengaturan perjalanan secara online juga memudahkan kita untuk menyiapkan pilihan akomodasi dan transporta­si yang diinginkan hanya dengan jari kita. Tidak perlu lagi antre, datang ke loket tiket, maupun telepon untuk mengatur penginapan yang ingin dituju, sehingga kita dapat berhemat waktu, energi dan uang.

Biasanya untuk menarik pembeli, mereka juga menyiapkan harga-harga khusus yang menguntung­kan pembelinya, sehingga tidak heran apabila sekarang banyak orang yang menggunaka­n platform online untuk mengatur perjalanan mereka.

Beralih ke usaha online atau virtual office

Generasi millennial menjalanka­n usaha mereka melalui situs ONLINE, bahkan media sosial seperti Instagram dan Twitter. Ada juga yang menerapkan virtual office bagi yang bekerja kantoran.

Keuntungan­nya, minimnya modal, berkurangn­ya pengeluara­n untuk promosi, karyawan, sewa tempat, cepatnya transaksi dan tentu hal ini akan membuat harga barang menjadi cenderung lebih murah. Kekurangan­nya, bisnis online juga dapat memberikan kesempatan bagi orang yang memiliki niat jahat seperti penipuan.

 ??  ??
 ??  ??

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia