DIANCAM KAKAK IPAR YANG GEMAR BERUTANG

Nova - - Tanya Jawab - DRA. RIENY HASSAN Psikolog

Yang terhormat Ibu Rieny, Saya punya kakak ipar laki-laki yang sudah menikahi kakak perempuan saya sejak tahun 2012. Sebelumnya mereka berpacaran 4 tahun. Sebut saja nama kakak ipar saya itu C. Sejak menikah mereka tinggal bersama keluarga saya.

C punya kebiasaan suka berutang, tapi jarang membayar. Mulai saat sebelum menikah, uang pensiun Ayah (Ayah baru meninggal) diutang sebanyak Rp 3,5 juta. Katanya untuk melunasi utang saat dia kuliah dan kos.

Lama-kelamaan seolah-olah kata “utang” itu mudah sekali diucapkan tanpa berpikir harus mengembalikan karena memang jarang sekali dikembalikan. Dia tidak mau bekerja di bidang yang tak disukainya. Kalaupun ada pekerjaan yang dia sukai, hasilnya jarang terlihat. Jadi singkat kata, semenjak menikah dia jarang sekali bekerja.

Dulu pernah kakak saya yang lain bersama Ibu mendirikan counter HP di rumah kami. Tapi setelah Kakak menikah dan tinggal bersama suaminya, C yang melanjutkan usaha tersebut. Genap 1 tahun, modal dan keuntungannya hilang begitu saja. Alasannya dicuri tuyul. Padahal sebelum dipegang dia, tiap bulan keuntungan yang diterima Ibu bisa sampai Rp 500 ribu.

Tidak berhenti di situ, C juga sering berutang pada ipar-iparnya (saya dan saudara saya), dan jarang dikembalikan. Utang pada Ibu sudah tidak terhitung banyaknya, baik itu yang dipinjam langsung ataupun lewat istrinya (kakak saya).

Alasannya beragam, untuk membayar utang ke bank karena sudah diuber-uber debt collector, membayar uang sekolah anaknya, membayar dokter saat anaknya sakit, bahkan membeli pulsa untuk HP-nya saja kadang minta.

Parahnya, C tidak segan berutang ke tetangga, kerabat, kenalan, dan saudara-saudara saya. Dan lagi-lagi jarang dikembalikan. Sampai Ibu malu bila bertemu saudara dan kerabat. Kadang ada yang menagih ke Ibu. Tentu saja Ibu tidak mau, dong, disuruh membayar.

Sejak menikah dia hanya pernah 3 kali mengontrak, bila ditotal mungkin sekitar 2 tahun. Karena kontrakannya dekat dengan rumah Ibu, saat makan malam biasanya mereka sekeluarga datang untuk ikut makan. Saat kembali ke rumahnya sering Kakak membawa beras dan lauk dari rumah Ibu untuk dimasak esok paginya.

Sekolah anak pun Ibu yang membayari. Jika dikasih tahu anaknya sudah waktunya sekolah, dia menjawab “biar diurusi mbahnya”. Ibu juga sering membelikan susu karena kasihan melihat cucunya menangis terus.

Sebenarnya sejak lama saya sudah bilang ke Ibu dan saudara-saudara, jangan memberi C utang. Apalagi anaknya mau SMP dan kelas 2 SD, banyak membutuhkan biaya. Tapi karena kasihan, selalu saja dipinjami.

Kakak perempuan saya (istrinya C) pernah buka usaha kue yang dititipkan ke warung. Uang dari hasil penjualan untuk belanja besoknya selalu kurang. Padahal kuenya tergolong laris. Akhirnya, sejak 3 tahun lalu kakak memutuskan bekerja, tapi C tetap tidak mau bekerja.

Puncaknya saat ini. Tiga tahun lalu Ibu pernah bekerjasama dengan adik C. Ibu membantu permodalan dengan rincian keuntungan. Ternyata adik C juga orang yang licik. Keuntungan yang dijanjikan hanya berjalan 2 bulan kemudian berhenti. Modal pun diminta tidak dikembalikan.

Sebulan yang lalu C tiba-tiba saja menawarkan menagih ke adiknya dan berhasil. Atas bantuan C, Ibu memberi uang sekadarnya dan meminjami untuk membayar uang sekolah anaknya.

Ternyata ada pamrih dari usaha tersebut, dia mau pinjam uang untuk modal usahanya. Saya bersikukuh menyuruh Ibu tidak meminjami. Mendengar itu, C marah besar. Istrinya tidak boleh bekerja, anaknya tidak boleh sekolah (dijemput dari sekolahnya).

Istrinya dan saya diancam akan diajak hancur bila usahanya hancur gara-gara tidak jadi diutangi. Saya dan Kakak takut dia nekat berbuat kriminal, keselamatan kami jadi taruhannya. Kami harus bagaimana? Mohon petunjuknya.

Diana – Jakarta Jeng Diana yang terhormat, Pada awalnya, adalah sebuah ketertarikan sehingga laki-laki dan perempuan saling mendekat sampai akhirnya memutuskan mengikatkan diri dalam perkawinan. Rupanya selama proses pacaran hingga dikaruniai dua anak yang sudah mulai besar, kakak dan ipar Anda tidak melakukan banyak pembelajaran yang positif.

Perkawinan sebenarnya adalah juga wahana belajar meningkatkan kualitas hidup pribadi kita. Menjadi sosok yang makin dewasa, ini tandanya adalah mampu berpikir “KITA” dan bukan “SAYA” lagi.

Lalu, berubah status menjadi orang tua, saat anak-anak lahir. Peran sebagai ayah dan ibu langsung melekat walau kadang tanpa disertai kesiapan mental. Secara psikologis memang tidak selalu kematangan untuk menerima peran sebagai orang tua berbarengan muncul dengan peran biologis yang terberi saat kita memiliki anak.

Indikator kedua, yang bisa dijadikan ukuran keberhasilan sebuah perkawinan adalah munculnya rasa tanggung jawab. Kalau suami atau istri adalah seratus persen pilihan, yang kemudian memang ternyata jodoh dari Allah, maka anak-anak mereka, TIDAK bisa memilih siapa yang akan jadi orang tuanya.

Rasa tanggung jawab sebagai oang tua harusnya muncul, dalam bentuk memberikan apa saja yang terbaik yang bisa diberikan, bagi tumbuh kembang anaknya. Keterlaluan rasanya, kalau untuk antar jemput pun dia lupa.

Lalu ke mana rasa tanggung jawab sebagai Ayah? Sudah tak menafkahi, tak mendukung pula proses untuk membuat anaknya lebih pandai dari dirinya! Maaf, ya, Jeng Diana, saya, kok, jadi keras? Saya sungguh terpicu untuk naik darah bila ada anak yang harus dikorbankan atau menjadi korban karena orang tua yang tak mampu berfungsi dengan baik dan benar.

Proses pembelajaran sendiri, bisa berlangsung ke arah positif, bisa juga negatif, seperti yang terjadi pada ipar Anda. Akan positif kalau Ipar mampu belajar dari pengalaman masa lalu bahwa bekerja bukanlah semudah memasak mi instan.

Namanya saja instan, diseduh langsung jadi. Bekerja adalah sebuah proses mengaktualisasikan kemampuan yang ada dalam diri, dan lalu berbayar. Makin mampu kita menampilkan keahlian tertentu, makin tinggi posisi tawar kita. Tetapi kalau sikap dasar (basic attitude) adalah

sedikit kerja banyak uang, maka ini negatif lagi.

Yang dilakukan kini, sudah benar, hanya saja perlu lebih keras, dan lebiih konsisten. Agak susah karena ada dua keponakan di sana. Ayahnya dengan suka cita akan menjadikan anaknya sebagai sandera, buat memperoleh kepentingannya.

Semisal, anak tidak boleh sekolah atau dilarang berhubungan dengan nenek dan tantenya. Ibu Anda yang harus dikuatkan hatinya untuk mengajar menantunya mengurus hidupnya sendiri.

Kakak Anda, tentu saja harus diajak berpikir jauh ke depan. Apakah ia masih mau membuang waktu dan kesempatan untuk berdampingan dengan laki­laki yang tak pernah bertambah kematangan mental psikologisnya?

Berapa, sih, harus dibayar untuk yang namanya “cinta”? Kenyamanan sebagai istri, jelas tidak. Secara fisik, Kakak juga lelah karena harus bekerja sembari memikirkan anak­anak dijemput atau tidak?

Belum lagi bicara tentang Role Model. Anak seharusnya menjadikan ayahnya sebagai contoh, untuk mengembangkan diri menuju kedewasaan. Ayah seperti apa yang ia lihat sehari­hari? Bangun siang, nonton televisi dan mohon maaf, sangat minim rasa malunya untuk berutang. Tidak bermaksud untuk mengatakan cinta itu berbayar, tetapi maksud saya, sebagai perwujudan dari yang katanya cinta, apa yang didapat?

Aturan mendasar yang saya harap benar­benar Diana dan kakak Anda, juga pembaca NOVA ingat, adalah bahwa sebuah perkawinan harus membuat kita lebih bahagia dan nyaman dibandingkan hidup sendirian.

Kalau kawin lalu menjadi sumber rasa tak nyaman dan malah penderitaan berkepanjangan, kita menciptakan belenggu untuk membuat kita tak mampu membangun kebahagiaan. So, what am I living for? Lalu, buat apa, dong, saya hidup?

Di keluarga saya, kami perempuan cuma berdua, dan Ibu kami selalu menanamkan pada anak perempuannya untuk jangan merasa nyaman dengan berutang, termasuk membeli dari teman dengan mencicil.

Saya punya Ibu hanya 22 tahun, dan adik saya tentu lebih sebentar lagi bersama Ibu kami. Tapi, beberapa hal yang lekat dalam ingatan, rasanya benar­benar jadi landasan buat menjalani hidup ini, sekarang, dan insya Allah masa yang akan datang. Coba pikirkan Diana sayang, apakah keponakan Anda bisa mengenang ayahnya dengan manis, seperti ini? Kuatkan kakak Anda, sadarkan dia bahwa dia selalu punya pilihan dan hidupnya memberi dia banyak sekali peluang. Indonesia masih negara hukum, buatlah pengaduan ke polisi bila ipar terasa benar­benar mengancam. Jangan diam saja diintimidasi olehnya. Mudah­mudahan Diana selalu bisa menjadi tonggak keluarga untuk menjadi kuat mendampingi kakak menjalani kehidupan. Terimalah salam hormat saya untuk Diana. Jangan lupa kirim email ke saya kalau ada perkembangan baru ya, ke rieny.hutami@gmail.com.

Kalau kawin lalu menjadi sumber rasa tak nyaman dan malah penderitaan berkepanjangan, kita menciptakan belenggu untuk membuat kita tak mampu membangun kebahagiaan. So, what am I living for? Lalu, buat apa, dong, saya hidup?

Alamatkan surat (lengkap dengan fotokopi KTP) ke Redaksi NOVA, Tuliskan rubrik ”Konsultasi Psikologi” pada amplop, bisa juga melalui SMS ke 0812 109 5999 atau e-mail: nova@gramediamajalah.com

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.