DAMPINGI ANAK MENDENGAR VONIS DOKTER

Sungguh tak mudah, sebagai ibu harus mendampingi anak ke dokter untuk mendengarkan vonis penyakit yang cukup berat. Berikut penuturan dari Dewi Mustikawati, Psikolog, sikap yang baik bila Anda terpaksa mengalami hal pahit ini.

Nova - - Anda & Anak - NOVERITA K. WALDAN | FOTO NARSUM: DOK. PRIBADI | FOTO: ISTOCK

“Berdasarkan pengalaman praktik sebagai psikolog, jika diagnosa penyakit anak cukup berat dan usianya di bawah 18 tahun, dokter tidak langsung memberitahu ke anak. Biasanya bersama orang tua atau yang langsung bertanggungjawab, atau significant others dengan anak tersebut.”

Karena di usia tersebut biasanya anak belum siap mendengarkan bahasa medis sehingga harus disampaikan ke orang tua. “Dengan harapan orang tua bisa menyampaikan kepada anak. Tentu saja dengan bahasa yang lebih bisa dipahami anak.”

Terkadang dokter menyampaikan secara spontan sehingga anak menerimanya berbeda bahkan bisa jadi mengerikan buat dirinya. “Misalnya, dokter mengatakan gendang telinga anak sobek. Anak pun langsung mendapat bayangan buruk, merasa telinganya akan tuli. Apalagi jika dokter tidak menjelaskan atau menenangkan si anak.”

Menurut Dewi, tidak semua dokter paham dengan cara komunikasi terapeutik. Tujuannya membantu klien mencapai kembali kondisi yang adaptif dan positif. Dokter berupaya menjelaskan dengan cara tidak menjatuhkan mental kondisi pasien. “Penerimaan diri dan rasa percaya diri pasien harus diperhatikan,” tandas Dewi.

Butuh Proses

Jika kemudian dokter tidak melakukan komunikasi tersebut, orang tualah yang langsung memberikan langkah supportif. Namun, orang tua juga tidak boleh marah ke dokter. “Orang tua mengambil alih pembicaraan dengan menenangkan anak. Misalnya, dengan kalimat ‘Oh, kan, itu bisa diobati ya Dok.”

Tujuannya tak lain agak dokter langsung memahami apa yang ingin kita sampaikan ke anak. “Paling tidak ada kode dari orang tua agar dokter memahami dan langsung menanggapi dengan sikap yang sama diberikan orang tua.”

Sesampai di rumah, jelaskan kembali ke anak seperti apa penyakit yang diderita anak. “Sampaikan bahwa penyakit tersebut bisa diobati dengan cara melakukan perawatan dengan baik. Yang harus digaransikan ke anak adalah dukungan kita sebagai orang tua. Orang tua akan tetap mendampingi selama proses baik pemeriksaan atau pengobatan.”

Tak hanya orang tua, anak pun butuh proses menerima hal ini. “Awalnya anak juga pasti marah dan tidak menerima apa yang disampaikan dokter. Lalu merasa syok dan sedih divonis penyakit tertentu.”

Konseling Psikolog

Pendampingan pada anak sangat dibutuhkan terutama untuk anak­anak dengan penyakit terminal illness, HIV, kanker, leukemia. Biasanya untuk penyakit seperti ini, didahului konseling dengan psikolog sebelum mendengarkan vonis atau diagnose dokter.

“Diutarakan kepada pasien kemungkinan diagnosanya dan segala hal yang berhubungan dengan kondisi penyakit tersebut. Sehingga pasien akan lebih siap dengan hasil yang bakal terjadi saat berhadapan dengan dokter.”

Konseling dengan psikolog sangat tergantung pengetahuan, kematangan pribadi, dan kesiapan support system di sekelilingnya. “Kalau pasien yakin akan didukung orang di sekitarnya, maka pasien mau melakukan konseling.”

Sebagai orang tua pun harus punya pengetahuan yang cukup tentang penyakit anak sehingga bisa menyiapkan mental saat mendengar vonis. “Termasuk dukungan dari pasangan sangat penting. Dengan saling membantu, menguatkan, dan memotivasi bisa saja mencari second opinion. Hal ini dilakukan jika tidak terlalu puas dengan diagnosa dokter pertama.”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.