DETEKSI YANG ANTIK DAN JADUL

Ketika kita ingin membeli barang antik, namun meragukan keasliannya. Tes apa yang harus kita lakukan? Simak bahasan berikut.

Nova - - Isu Spesial - NOVERITA K. WALDAN FOTO: DOK. PRIBADI

Presiden SNA (Syndicate National des Antiquaires), Christian Deydier, pakar arkeologi terkemuka di Cina ini, menyebutkan bahwa kita harus memiliki jiwa seni yang tinggi untuk menilai barang antik. Dengan jiwa seni yang tinggi, insting kita muncul ketika melihat suatu barang.

Ketika kita merasa buruk tentang barang tersebut, keasliannya sangat diragukan. Sebaliknya ketika kita bisa merasakan keindahannya, kemungkinan besar itulah barang antik yang bagus. Mengapa begitu? Ini alasannya, “Barang antik dibuat seniman dengan hati dan perasaan. Perasaan akan keindahan itu bisa kita rasakan ketika kita memiliki jiwa seni yang tinggi. ”

Menurut Ita Saca, kolektor dan penggemar barang antik sekaligus pendiri Ragam Pesona Kain Nusantara (RPKN) memberikan tips agar kita tak tertipu. Wanita yang berdomisili di Sumedang ini, menyarankan kita mengusap gambar yang ada di barang tersebut.

“Jika barang tersebut asli, maka saat diusap tangan, gambarnya sangat halus dan tidak terasa di tangan. Sebaliknya, ketika disentuh ada yang bisa dirasakan atau timbul gambarnya, barang tersebut palsu. Ibaratnya, gambar tersebut hanya ditempel saja.”

Contoh lain, guci-guci antik yang banyak digemari orang karena umurnya yang sudah tua. “Warna porselen pada guci asli akan tetap ada warna kuningnya meski sudah lama. Tadinya warna porselen berwarna putih, tapi saking lamanya berubah menjadi kuning. Berbeda dengan guci palsu, warna porselen tetap putih.”

Jadul atau Antik

Ita sendiri mengoleksi barang pecah belah yang tahun lalu sangat digemari banyak orang, seperti piring atau cangkir bunga-bunga.

Lalu apa yang membedakan barang antik dan jadul? Barang antik jenisnya seperti patung, guci, biasanya ditemukan dan dimiliki orang-orang kota. “Sedangkan barang pecah belah jadul sering ditemukan di rumahrumah pedesaan. Mulai dari stoples, piring, baki, cangkir, tempat sirih dari perak atau kuningan.”

Tak hanya itu, barang enamel (seng) termasuk dalam kategori jadul juga. “Barang-barang enamel banyak digemari orang khususnya diborong orang Jakarta yang berkecimpung di fotografi kuliner. Menurut mereka, masakan Indonesia sangat cantik bila dipajang dengan perabotan jadul,” ujar pengarang cerita anak-anak dan penulis blog ini.

Barang jadul atau antik banyak dicari karena selain bentuknya yang cantik dan sudah tidak bisa ditemukan lagi di pasaran. “Orang berani membeli dengan harga tinggi karena antik dan bernostalgia di masa kecil. Dahulu di rumah orang tua atau Nenek sering menggunakan barang-barang tersebut. Hanya saja, kalangan tertentu saja yang menyukainya.”

Barang pecah belah yang banyak disukai dan dicari seperti wet rose, black rose, five rose, seruni, two rose, kembang kangkung, atau bunga kekwa. “Barangbarang jadul setelah dicuci bersih dan difoto, hasilnya jadi terlihat cantik dan menarik. Tak disangka setelah dipasang di FB, banyak yang menyukai dan berharap bisa memiliki. Mereka berburu ini ibarat berburu batik lama 3 negeri atau kopi tutung.”

Yang sangat menyukai barang pecah belah ini adalah orangorang Malaysia. “Namun di tahun ini barang pecah belah jadul agak sepi. Barang antik seperti keris dan patung, di online juga tidak begitu ramai walaupun tetap ada yang berjualan online.”

Begitu juga dengan lukisan antik tetap ada yang berjualan, tapi kurang begitu banyak peminatnya. “Selain pecah belah jadul, yang agak ramai penjualan online adalah kursi-kursi jati zaman dahulu yang dipernis lagi.”

Ita Saca

Comments

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.