Indra Tjahjani TIAP HARI PAKAI KAIN KEBAYA

Nova - - Isu Spesial -

Kecintaan terhadap batik pada diri Indra Tjahjani bermula sejak kecil, ketika ia diharuskan bisa menari tarian Jawa oleh orang tuanya yang berdarah Jawa. Sejak kecil pula, ia harus bisa mengenakan sendiri kain batik untuk menari. Sang ibunda mengajari Indra untuk bisa mengenali beragam kain batik, mulai dari motif hingga proses pembuatannya, apakah kain batik tersebut dibuat dengan cap, tulis, atau bukan. Saat SMP, Indra sudah bisa mengenali kain batik.

“Memang perlu latihan, tidak bisa secara instan. Harus berkali-kali belajar, melihat-lihat, membolak-balik kain, dan menjejerkannya,” ujar Indra memberi tips. Setelah dewasa, kecintaan Indra pada batik tak luntur. Bahkan, makin menjadi. Selain gemar berburu buku batik, terutama yang memuat motif-motif batik kuno yang nyaris punah atau buku-buku batik yang tak lagi diterbitkan, Indra juga mengoleksi kainnya.

Yang unik, perempuan penyandang gelar doktor ini bukan hanya sekadar mengoleksinya, melainkan mengenakan kainkain itu setiap hari, baik di rumah maupun saat bepergian. Kain batik koleksinya juga ia gunakan sebagai bahan mengajar. Indra mengaku bila ada waktu luang di sela-sela pekerjaannya dan uang, ia bepergian ke berbagai daerah di Jawa dan Madura untuk mengumpulkan kain batik klasik.

Sejauh ini, ia sudah pergi ke 25 tempat pembuatan batik, dan di setiap tempat ia bisa membeli tiga motif kain. Tak heran, jumlah kain batiknya kini mencapai ratusan. Namun, ia tak ingat jumlah persisnya karena tak pernah menghitungnya. Indra juga tak ingat kapan ia mulai mengoleksi kain batik. Yang jelas, sejak 1975 ketika masih menjadi mahasiswa, ia sudah mulai mengenakan kain kebaya.

Lalu, sejak 13-14 tahun silam, Indra yang membuat gelung dengan rambutnya sendiri ini setiap hari mengenakan kain kebaya. Di rumah pun, kecuali menjelang tidur mengganti pakaiannya dengan daster, Indra tetap berkebaya. “Buat jagajaga kalau sewaktu-waktu ada tamu datang,” tuturnya sambil menambahkan, tak semua kain batiknya merupakan batik tulis. Ada pula yang cap dan campuran cap-tulis.

Untuk pemakaian kain-kain ini, Indra klasifikasi sendiri. Kain batik cap ia gunakan untuk sehari-hari, misalnya ketika di rumah, ke kampus, dan lainnya. Batik tulis yang agak murah juga ia gunakan untuk pemakaian sehari-hari. Sedangkan batik tulis yang bagus dan mahal ia gunakan untuk undangan resepsi pernikahan, misalnya. Biasanya, ia mengenakan kain kebaya berdasarkan tema.

Meski juga memiliki batik warna cerah dari Pekalongan dan Cirebon, kain batik warna sogan lebih ia sukai dengan alasan tampilannya lebih anggun. Ia mengaku tak memiliki motif favorit. Yang penting, motifnya tradisional klasik. “Kalau bukan kita yang melestarikannya, lalu siapa lagi?” tuturnya balik bertanya. Sementara, soal harga kain, perempuan yang tak memiliki rok ini mengaku tak memiliki target khusus. Ia mengaku berasal dari keluarga yang mampu membeli batik tulis mahal. “Sementara, kalau kata Bude saya dulu, kalau tidak punya uang untuk membeli batik yang bagus, lebih baik tidak usah beli. Nah, karena saya mengajar dan mengajak orang memakai batik, bagi saya batik yang murah pun tidak apa-apa,” papar Indra.

Itu sebabnya kadang Indra membeli batik cap mulai harga Rp100 ribu-an hingga Rp250 ribu.

Sedangkan kain batik tulis untuk pemakaian sehari-hari ia beli dengan harga Rp 150 ribu-Rp 500 ribu per lembar. Batik yang harganya di atas Rp 1,5 juta per lembar ia gunakan untuk acara resepsi. Dalam membeli kain batik, Indra tak mematok harus membeli batik dalam jangka waktu tertentu. Kalau menyukai kain motif tertentu dan uangnya tersedia untuk itu, ia akan membelinya. Indra mengaku belum berani membeli kain batik yang harganya lebih dari Rp 3 juta.

Sebab ia masih naik-turun angkutan kota. Toh, tuturnya, orang tidak tahu kain batik yang ia kenakan mahal atau tidak. Ratusan kali membeli kain batik membuatnya belajar mengapal siapa yang memproduksi kain batik dengan corak dan warna tertentu. “Di Pekalongan, saya sudah datang ke 18 pengusaha batik, dan semuanya punya ciri berbeda,” ujar dosen program studi Arsitektur di Universitas Binus yang senang mengamati para pembatik bekerja ini.

Merawat kain batik yang ratusan jumlahnya, menurut Indra, sebetulnya perlu perlakuan khusus. Yang ia sedihkan, ia tak memiliki lemari khusus untuk merawat dengan baik, terutama untuk kain-kain batik yang mahal. “Seharusnya, kain batik tidak boleh dilipat. Harus disampirkan. Kalau dilipat, seharusnya sebulan sekali dianginkan, dan diganti lipatannya agar tidak mudah sobek. Namun, karena saya enggak punya asisten rumah tangga, capek juga mengerjakannya sendirian.”

*

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.