Daniel Supriyono JASA TITIP JUAL DAN BELANJA

Nova - - Isu Spesial -

Sejak masih menjadi karyawan kantoran, tepatnya sejak 2007, Daniel Supriyono sudah mulai berjualan barang-barang jadul, yang biasa disebut barang vintage. Yang menarik, ia memulainya justru sebagai kolektor mainan tradisional untuk anak. Saat itu, ia beberapa kali diliput media karena blog miliknya dipenuhi foto-foto mainan tradisional yang unik. Ia memang sengaja memajang koleksinya di blog. Ternyata, mainannya diminati orang, termasuk dari kalangan TK, kelompok bermain, komunitas yang anggotanya ibu-ibu, dan lainnya. Pesanan akan mainan tradisional pun mulai berdatangan. Meski mendapatkan uang, mainan ini, menurutnya, tak bisa mendatangkan untung maksimal. “Untungnya paling-paling Rp 20 ribu. Ada sih, yang sampai Rp 100 ribu, tapi enggak banyak,” ujarnya. Perhatiannya teralihkan pada barang jadul setelah ia beberapa kali ikut bazar dan bertemu komunitas barang jadul. Tertarik barang jadul setelah tertular “virus” dari komunitas itu, ia mulai banyak belajar tentang jualbeli barang jadul. Lantaran masih awam, ia belum paham harga, sehingga tak jarang mendapat harga kemahalan. Pernah pula, orang titip jual padanya, yang kemudian ia foto

dan unggah di blognya. Ternyata laku. Sejak itulah, pelan-pelan ia mulai meninggalkan mainan tradisional.

Mulanya, ia berjualan barang antik seperti jam dinding kuno. Belum lama, ia mulai jenuh dan merasa berat di bidang itu. Sebab, menurutnya, pembelinya itu-itu saja. Bahkan, ketika suatu kali ikut pameran di sebuah mal yang berdekatan dengan tiga kampus pada 2010, ia terhenyak pada hari pertama lantaran barang antik yang ia bawa seperti jam dinding dan mesin giling kopi yang ia pajang hanya menjadi tontonan para mahasiswa.

Tak mau rugi bandar, ayah dua anak ini mengubah strategi. Tahu pameran masih beberapa hari lagi baru akan berakhir, keesokan harinya ia menjual barang-barang yang menjadi kesukaan anak muda. Misalnya, gambar bertema desain, komik lawas, fotofoto lama, kartu pos, dan lainnya. Siasatnya berhasil. Barang dagangan Daniel laku banyak. Sejak itu, Daniel mulai serius menekuni barang jadul, bukan lagi barang antik.

Piring makan dan teko dari bahan enamel, penyekat ruangan, replika kapstok yang dibuat dengan tampilan lawas, meja lawas, sampai kaki mesin jahit yang ia ubah menjadi meja pun ia jual. Pelan-pelan, dengan hadirnya media sosial, pembelinya makin banyak dan berasal dari berbagai daerah. Tak hanya itu, tak sedikit pula yang menawarinya barangbarang lawas untuk dijual, baik penjual barang jadul maupun perseorangan yang ingin menjual koleksi pribadinya.

Belakangan, Daniel juga mulai menjual buku lawas. Mulanya, ia menjual buku antik, misalnya buku seperti buku lukisan koleksi Bung Karno, Di Bawah Bendera Revolusi, dan lainnya. Meski diakuinya marginnya tebal hingga jutaan, lagi-lagi ia merasa jenuh lantaran pembelinya terbatas. Sama seperti berjualan barang jadul, ia kemudian menurunkan tingkatan bukunya menjadi buku lawas dengan harga yang jauh lebih terjangkau dan buku yang disukai lebih banyak kalangan.

“Saya menjual buku mulai dari harga Rp30.000 sampai ratusan ribu rupiah. Paling mahal sekitar Rp1 juta, itu pun jarang,” tutur Daniel sambil menambahkan, buku yang ia jual adalah buku yang tidak lagi tersedia di toko buku dan buku yang sifatnya nostalgia tapi menunjang pekerjaan. “Misalnya, buku tenun, buku batik, buku arsitektur, buku resep, komik Tintin, Deni Manusia Ikan, dan lainnya. Jadi, harganya masih wajar.”

Berbisnis di bidang yang unik ini, menurut fotografer ini, harus terus mengikuti perkembangan dan pandai melayani pelanggan agar dapur tetap mengebul.

Apalagi, sejak 2014, ia mantap meninggalkan kariernya sebagai karyawan kantoran dan resmi terjun penuh sebagai penjual barang vintage.

Ketika banyak orang mulai banyak yang menjadi kompetitor sebagai penjual barang

vintage sehingga pembeli mulai menurun, misalnya, Daniel dengan sigap membaca situasi. Ia beralih fokus ke penjualan buku lawas yang kini lebih menghasilkan, meski barang vintage masih tetap ia jual. Mencari dan menyediakan kebutuhan calon pembeli, menurutnya, jadi kiatnya agar pelanggan datang kembali.

Selain tetap menawarkan jasa titip jual, untuk menyiasati agar omzet per hari tak turun dari kisaran Rp1 juta, ia juga melakukan strategi lain dengan menyediakan jasa titip belanja. Para supplier yang sudah ia kenal baik ia datangi untuk difoto barang dagangannya, lalu ditawarkan lewat media sosial. Bila ada yang berminat, barang tersebut ia bayar dan kirim. “Dengan begini, saya tidak perlu keluar modal untuk kulakan. Supplier juga senang, karena barangnya laku,” tuturnya.

*

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.