Siapkan Mental dan Waktu

Nova - - Isu Spesial - PINGKI AULIA

Poligami kembali jadi hal yang memicu kontroversi di kalangan masyarakat. Menurut Widiawawi Bayu, psikolog, secara psikologis poligami tergantung kepada kasus dan pribadi setiap orang. Jadi pilihan poligami ini bisa dilihat secara berbeda. Akan tetapi, setiap perempuan juga belum tentu setuju akan dipoligami.

Selain dapat penolakan dari rata-rata perempuan, beberapa pertimbangan bisa membuat mereka menerima dipoligami. Misalnya ketika seorang istri sakit dan tak bisa memenuhi kebutuhan suami, mungkin jadi pertimbangan menyetujui poligami. Termasuk dalam kondisi pasangan menikah, namun tak bisa mendapatkan keturunan yang diharapkan sehingga memilih poligami.

Jika akhirnya menerima komitmen pernikahan dalam bentuk poligami, biasanya seorang wanita harus memiliki bekal untuk dirinya berupa: • Menyiapkan Perasaan Dalam berpoligami perasaan jadi salah satu hal yang sangat sensitif, karena sudah tidak lagi menjadi pusat perhatian. • Menyiapkan Mental

Harus menerima kenyataan bahwa suami terbagi untuk perempuan lain, jadi secara mental harus melihat bahwa situasinya sudah berubah. • Berbagi Waktu

Membagi waktu dengan keluarga dan anak adalah hal yang paling penting, agar dalam kedua belah pihak merasakan hal yang sama.

Tapi harus diakui, untuk bisa menerima kenyataan berpoligami butuh waktu yang berbeda-beda. Karena isi hati setiap istri kan juga tidak sama.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.