SUAMI TAK RELA MEMBAGI GAJI

Nova - - Tanya Jawab - I U S T R A S I : J O K S E T Y O P U R N O M

bu Rieny Yth, Terima kasih Ibu menyempatkan membaca surat saya. Kolom Ibu menjadi favorit saya utk pertama kali dibaca setiap NOVA terbit.

Usia saya 24 tahun. Bekerja sebagai PNS dan baru menikah. Suami saya 26 tahun dan bekerja di perusahaan swasta. Gaji kami tergolong standar.

Untuk biaya menikah saya meminjam dari koperasi kantor karena suami dan keluarganya tidak mau memberi bantuan dana. Bagi mereka cukup akad nikah di masjid, lalu jamuan antarkeluarga saja.

Saat ini, ayah mertua saya masih bekerja sebagai PNS dan ibu mertua memiliki beberapa kamar kontrakan. Jadi bisalah dikatakan keuangannya lumayan. Di minggu pertama kami menikah, ibu mertua sudah minta bantuan uang untuk keperluan rumahnya. Karena baru melangsungkan pernikahan, suami tidak memegang uang sejumlah yang diminta, sehingga uang sayalah yang dipakai. Saya sudah terkaget-kaget waktu itu.

Belum masuk gajian di bulan ke-2 pernikahan, saya membaca chat ibu mertua dengan suami. Beliau minta sejumlah uang untuk keperluan adik-adik ipar. Besaran yang diminta sejumlah 4/6 gaji suami.

Saya kaget, Bu. Kok, tega ibunya meminta sebanyak itu. Padahal keuangan keluarga mereka amat lumayan. Suami tidak cerita ke saya. Saya pun tidak menanyakan tentang chat tersebut.

Bu Rieny, memang di rumah orang tua saya semua keperluan ada. Tapi saya berpikir bahwa kami memiliki gaji, sudah menikah, dan menumpang. Toh, semua kebutuhan bulanan yang saya beli memang ikut kami konsumsi.

Menurut suami, kami juga tidak perlu pakai asisten rumah tangga untuk cuci seterika pakaian. Padahal saya bekerja berangkat subuh, pulang Isya. Dari sebelum menikah saya memang sudah pakai asisten.

Menurut dia saya terlalu foya-foya uang. Beda dengannya yang hanya memegang 1/6 gaji, yang dikeluhkannya tidak cukup sampai habis bulan gajian berikutnya. Suami saya sampai menanyakan rincian alokasi gaji saya.

Bu, saya sedih sekali rasanya. Sekarang suami saya sudah tidak pulang hampir 1 minggu. Dia menginap di rumah orangtuanya. Saya yakin uang untuk tabungan diberikan ke orangtuanya. Yang saya sakit hati, mengapa tidak jujur saja bahwa dia tidak memberikan uang itu ke saya karena ingin berikan ke orangtuanya?

Mengapa dia menuduh saya boros padahal saya ingin menanamkan sikap tahu diri dan mandiri walau menumpang di rumah orang tua. Dan yang paling membuat saya sedih, suami tidak menyadari bahwa dengan ide saya mengalokasikan gajinya untuk menabung, bukan berarti gaji suami sudah amat sangat berlebih. Ini berarti saya rela makan sehari-hari berdua menggunakan gaji saya. Itupun ngepas sampai akhir bulan. Kalau seperti ini keadaaannya, sama saja suami saya tidak memberikan nafkah untuk saya, kan, Bu?

Apa yang harus saya lakukan, Bu? Saya masih sangat awam menghadapi hal seperti ini. Apakah saya harus mengalah dengan keinginan suami agar dia yang pegang uang alokasi tabungan?

Jujur saya dalam hati kecil ragu, karena setiap bulan selalu ada chat permintaan uang jauh di luar alokasi pemberian yang disepakati. Suami tidak bijak menolak atau membantu, namun menyesuaikan dengan kemampuan. Suami selalu menuruti ibunya walaupun saya menyatakan keberatan. Saya merasa tidak dihargai pendapatnya, Bu.

Seminggu ini saya pisah rumah. Ibu mertua hanya sms saya menanyakan apakah suami sudah bilang dia menginap di sana. Saya menjawab sopan bahwa, iya, suami sudah bilang. Setelah itu ibu mertua tidak bertanya apa-apa lagi.

Beda dengan ibu saya yang bertanya dan mengetahui bahwa saya pasti sedang ribut. Padahal saya cekcok tidak di dalam rumah dan saya tidak menampilkan bahwa saya sedang sedih. Saya menenangkan ibu saya dengan berkata bahwa suami sedang kangen rumah.

Apa perlu saya menceritakan ini ke ibu mertua? Tapi kalau cerita, saya khawatir dicap sebagai menantu kurang ajar. Pasti yang ada di pikiran orang hanyalah saya pelit ke ibu mertua. Padahal tidak seperti itu, Bu.

Bukankah suami harus seimbang dalam pemberian nafkah karena sekarang telah memiliki istri? Bukankah pendapat saya sebagai istri juga penting dalam mengatur keuangan keluarga?

Mohon masukannya, Bu. Pola pikir apa yang mesti dimiliki untuk menghadapi situasi pernikahan seperti ini. Terima kasih Bu Rieny.

Tuning, Yogya Ananda Tuning yth, Pola pikir yang harus dikembangkan adalah melihat segala sesuatu dari sisi positif, sambil meyakini bahwa landasan perkawinan Anda memang harus terus dikokohkan. Tidak cukup dengan cinta membara, yang saat pacaran membuat Anda dan dia tak mau terpisahkan lebih lama, sehingga memutuskan untuk menikah, bukan?

Dalam perkawinan, kita melibatkan orang tua kedua belah pihak, kakak dan adik ipar, bahkan bude, pakde, om, tante, dan semua yang bisa masuk ke dalam mini bus. Artinya, banyak sekali orang dengan sekian banyak pula kepentingan.

Kalau secara faktual mertua tidak kekurangan uang, saya ingin sekali Jeng Tuning mau melihat bahwa permintaan uang mertua bukanlah bersumber dari kurangnya dana. Tapi kekhawatiran bahwa pengaruhnya atas anak laki-lakinya berkurang atau malah hilang. Sebab sekarang sudah ada istri.

Si anak, suami Anda, rupanya juga masih belum bisa meyakinkan diri bahwa sekarang dia adalah seorang kepala keluarga yang harus mengikutsertakan istrinya dalam setiap keputusan. Termasuk tentang cara uang dipergunakan.

Ayo, Ananda Tuning! Belum banyak pengalaman positif dalam kebersamaan yang bisa dijadikan landasan munculnya kepercayaan bahwa perkawinan ini layak dipertahankan. Maka, usahakan untuk mengurangi peluang konflik atau pertentangan. Buatlah suami mendapatkan pengalaman nyata bahwa menikah itu sangat…sangat memberinya peluang untuk meraih kebahagiaan.

Rasanya saya sudah sering mengatakan di rubrik ini, bahwa dalam kenyataan hidup, perempuanlah yang diharapkan lebih banyak berinisiatif untuk memahami, bersabar, berinisiatif membuat suami, dan juga ibu dan ayahnya, makin yakin bahwa anaknya punya istri yang istimewa dan patut dihormati.

Agak norak barangkali, ya, kalau saya katakan, datangi suami ke rumah mertua dan ajak pulang baik-baik ke rumah. Bohong, deh, kalau mertua tidak tahu masalahnya. Bahkan saya khawatir cerita versi suami akan menguntungkan posisi Anda.

Kalau lulus di ujian kesabaran ini, Anda akan dapat pelajaran berharga bahwa kita perlu membiasakan diri mendengar apa yang ada dalam benak suami. Walau, akal sehat kita misalnya, mengatakan, ‘Tak masuk akal. Punya uang sebanyak itu, kok minta terus dari anaknya?’

Kalau nyatanya demikian? Anda mundur selangkah, deh. Kalau suami merasa ingin memegang uang gajinya yang diperuntukkan DP rumah, biarkan saja dulu. Komprominya, masingmasing menabung untuk itu.

Teruskan upaya mencari rumah sendiri. Kalau sudah dapat dan harus mencicil, bukankah suami bisa diharapkan menyisihkan uang untuk itu? Dan pada saat yang sama juga mengurangi ketergantungan ibunya? Jangan paksa dia untuk berjarak dengan ibunya, apalagi mengata-ngatai beliau di depan suami.

Anda bisa mengajari suami makna keterbukaan. Biarkan dia tahu apa saja pengeluaran Anda dan jangan kaku dengan berapa per enam yang harus dikeluarkan untuk setiap pos pengeluaran yang ada. Fleksibiltas menandakan pengertian Anda, dan itu juga berarti penerimaan. Laki-laki akan merasa nyaman bila sang istri bisa menyakinkan dirinya bahwa dia diterima apa adanya.

Anda ngeri tidak, sih, membayangkan ada perempuan cantik yang bisa dibunuh oleh suaminya sendiri gegara mobil odongodong yang mereka ributkan? Persisnya seperti apa, saya dan Anda tidak tahu. Tetapi kalau mencermati rekaman percakapan saat sedang berselisih paham, kita semua bisa belajar bahwa penghargaan terhadap suami harusnya juga muncul dari kata-kata yang kita pilih saat ribut, atau berselisih paham.

Lalu, kalau boleh, biasakanlah untuk tidak meributkan masalah uang. Saya belajar dari pengalaman saya maupun klien-klien yang datang, bahwa sumber masalah keuangan biasanya kepercayaan.

Pasti ada perbedaan antara cara lakilaki memandang prioritas pemakaian uang dengan istrinya. Contoh lazim adalah kesukaan pada barang elektronik atau gadget. Misalnya, Anda merasa cukup dengan TV sekian inch, tapi suami mau yang sebesar akuarium.

Kalau rasa hormat dan kesediaan untuk menerima perbedaan selalu jadi acuan saat berinteraksi atau melihat masalah, insya Allah suami-istri akan sama-sama belajar bagaimana membuat pasangan nyaman bersama kita.

Terus belajar mengenali apa yang membuat suami nyaman dan lakukan sesering mungkin. Hindari apa yang membuatnya kesal, marah, atau tak nyaman. Di umur suami dan saya yang sudah tidak muda lagi, suami jauh berkurang marahmarahnya. Bukan karena dia makin sabar, Jeng, tapi karena saya makin tahu apa yang harus dihindari agar dia tidak marah.

Apakah saya lalu menderita? Tidak sama sekali. Makin sedikit marahnya, makin banyak energi positif yang bisa kita pertukarkan. Kepada mertua harus tetap santun, ya. Jangan melanggar tata krama, sekalipun Anda tahu bahwa saat ini beliau belum suka pada Anda.

Kalau dibiasakan sejak sekarang, pasti Anda akan merasakan manisnya. Kapan? Saat mertua sudah tahu dan yakin bahwa Anda tak berniat merebut kasih sayang anak dari dirinya. Paham bahwa dalam relung hati anak laki-lakinya ini, ada banyak ruang untuk mencintai ibu, istri, dan nantinya mencinta anak sendiri.

Jangan lupa untuk lebih fleksibel. Pupuk perasaan bahwa Anda cinta suami dan menerima dia apa adanya, sambil mengajak dia untuk belajar jadi pasangan hidup yang smart dan dewasa.

Di atas semua ini, biasakan berpikir, bersikap, dan berperlikau positif, agar kata-kata mesra mendominasi interaksi. Bukan cercaan. Belaian menandai setiap persentuhan dengan suami, dan bukan saling memukul.

Belum 100 hari, Jeng. Jangan putus asa, ya. Salam sayang.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.