Anak Gadis Mamak

Nova - - Cerpen - Oleh: Karisma Fahmi Y

Ratna terbangun oleh suara kecipak air di kamar mandi. Subuh berkumandang dan mamak telah bersiap salat. Ratna segera keluar dari kamar. Tubuhnya masih penat dan lelah karena semalaman tak bisa tidur. Dilihatnya mamak bergegas keluar dari kamar mandi dengan wajah cerah dan berbinar.

“Nyenyak tidurmu semalam?” suara mamak terdengar lantang untuk ukuran pagi yang baru berjalan beberapa menit. Ratna mengambil nafas panjang.

“Mamak, Ratna mau bicara sebentar,” kalimatnya mengambang di udara. Ia kembali ragu-ragu mengutarakan isi hatinya.

“Iya?” mamak mengusap air di wajahnya dan menyipratkannya ke kanan kiri.

“Apakah harus ada tes keperawanan sebelum menjadi istri tentara?” tanyanya

Mamak melongo mendengarnya, “Tentu saja. Mamak juga mengalaminya” kata mamak lagi. “Tak perlu khawatirkan hal-hal seperti itu. Mungkin juga aturan itu sudah melunak sekarang. Mengapa?” tanya mamak.

Ratna menjawab pertanyaan mamak dengan gumaman kecil yang tak terdengar. Dadanya kembali berdebar tidak karuan.

“Apa lagi yang kau pikirkan? Dia militer seperti bapakmu, sudah cukup umur, berasal dari keluarga baik-baik. Kali ini mamak tidak ragu-ragu. Mamak yakin, kalau bapakmu masih ada, pasti ia juga senang karena berbesan dengan teman karibnya,” suara mamak mengandung harapan penuh.

Ratna diam. Ia memang selalu bungkam dan membisu ketika mamak mulai membahas calon suami dan pernikahan. Memang kekhawatiran mamak dianggapnya sebagai hal yang wajar. Usia Ratna sudah di ambang kepala tiga, namun tak juga ia merencanakan pernikahan. Bukan hal mudah bagi Ratna menjawab pertanyaan yang dilontarkan mamak. Pertanyaan itu mengandung harapan besar padanya.

Mamak telah lama menjanda dan ia adalah satu-satunya anak perempuan di keluarganya. Dua abangnya telah menikah dan tinggal di luar kota. Bulan depan usia mamak genap enam puluh tiga, bukan usia tengah baya tetapi merambat ke arah renta. Tubuh mamak tak sekuat dahulu. Mamak tak lagi kuat menyangga angin yang kerap menerpa tubuhnya, bahkan hanya dengan dinginnya air wudhu di tengah hari. Ia tak ingin terjadi apa-apa pada mamak.

Ia tak tahu apa yang terjadi pada mamak apabila ia jujur tentang semua ganjalan yang harus disimpannya entah sampai kapan, sementara ia tahu mamak tak pernah tinggal diam. Mamak akan terus bergerilya mencarikannya jodoh. Sebagai pensiunan guru, mamak mempunyai banyak teman yang sekiranya patut untuk diajak berbesan. Tapi Ratna selalu menghindar dengan diam membisu, membiarkan mamak kebingungan memahami maksudnya. Itulah cara Ratna mengelak. Semua penghindaran itu kini membuatnya tak berkutik. Mamak duduk di depannya dengan semangat berapi-api.

“Lelaki seperti apa yang sebenarnya kau cari, Ratna? Hitunglah usiamu. Di usiamu, mamak dulu sudah punya tiga anak” kata mamak putus asa karena Ratna hanya menjawab dengan diam, membuat mamak semakin bingung.

Lagi-lagi Ratna menelan ludah pahitnya yang semakin kelu. Kalimat mamak mengandung harapan sekaligus tuntutan besar. Ia tahu semua yang disampaikan mamak benar. Ia pun tak berhak tersinggung dengan kalimat itu.

“Ratna, siapapun lelaki yang menjadi pilihanmu, mamak akan terima. Kau sudah dewasa dan tahu yang baik dan yang buruk. Mamak hanya minta satu hal, menikahlah. Tak baik bagi seorang perempuan hidup membujang terlalu lama,” Mamak menarik nafas panjang. “Yuda anak yang baik. Seperti apapun tingkah lakunya dulu, itu hanyalah tingkah pola anak-anak. Sekarang ia telah membuktikan dirinya. Yuda telah berubah menjadi patriot sejati. Yuda telah mengabdi pada negeri ini seperti halnya bapakmu. Satu hal, mamak hanya ingin anak perempuan mamak terjaga. Setidaknya sebelum mamak mati, mamak ingin memastikan anak mamak telah berada di tangan orang yang tepat.”

Ratna kembali menelan ludah. Di antara semua hal yang paling dibenci dari omelan panjang mamak adalah perkara kematian. Mamak membicarakan kematian segamblang ia membicarakan tahu goreng yang terlalu asin karena kebanyakan garam. Begitu mudah dan ringan menghantam.

Ratna diam dan terus diam, membiarkan mamak mengomel. Keadaan semakin sulit. Ia telah hafal, nasehat panjang itu akan berujung pada satu hembusan nafas panjang, lalu sepatah dua patah doa yang diiringi air mata dari mata mamak yang kelabu. Ratna menjawab dengan diam yang lebih panjang. Sepasang air mata membasah hingga ulu hatinya.

“Mereka akan datang besok sore,” kata mamak membuyarkan bisunya. Mamak menatap mata Ratna. Ratna diam, menekuni lantai-lantai keramik warna pucat yang semakin pasi dalam pandangan kabur matanya. * Angin dini hari berhembus dingin, mengibarkan kain gorden di jendela. Beberapa waktu ini, cuaca sangat gerah hingga ia harus membuka jendela kamarnya di malam hari. Ratna berusaha memejamkan matanya yang berat dan penat. Namun kegelisahan lebih banyak mengambil dirinya. Seribu satu bayangan datang silih berganti. Bayangan masa lalu dan berbagai kenangan timbul tenggelam tak berkesudahan. Waktu berlalu dengan cepat. Ia merasa bodoh mendapati dirinya dengan segenggam penyesalan.

Kali ini ia benar-benar tak tahu cara menghindari tawaran mamak. Tahun-tahun berganti dan ia telah terbiasa menghindar dari semua upaya penjodohan. Ia bergeming, hingga waktu yang berlalu menjadikannya genap sebagai perawan suci sementara teman-teman dan tetangga seusianya telah menikah dan memiliki satu dua momongan. Lelaki datang dan pergi, tak satupun menunjukkan tanda-tanda pernikahan.

Air mata mengembang di dua matanya mengingat kata-kata mamak sore tadi. Mamak akan memperkenalkannya dengan Yuda. Pak Suryo adalah sahabat dekat bapak semasa masih di batalion. Mereka pernah bertetangga selama beberapa tahun hingga bapak dipindahtugaskan di kota ini. Mamak secara tidak sengaja bertemu Bu Suryo di sebuah pertemuan istri pensiunan tentara.

Ratna mengenang sosok Yuda, salah satu teman di masa kecil ketika mereka samasama tinggal di perumahan prajurit. Dalam kenangan yang samar-samar, ia mengingat seorang bocah dengan suara berat, seolah tertahan di tenggorokan yang selalu kering. Seorang anak yang tingginya di atas ratarata. Keringat selalu membasahi mukanya yang legam karena paparan matahari.

Sepanjang waktu dan di segala cuaca wajah bocah itu senantiasa basah mengilap karena keringat, membuatnya tampak sebagai anak lasak yang tidak pernah berhenti bergerak. Seorang anak yang usil dan tak pernah bisa diam. Terkadang Yuda dan gerombolannya memanjat pohon mangga di pagar perumahan, atau melempari orang-orang yang lewat di sekitar makam dengan biji-biji jambu monyet, atau meledakkan mercon di malam bulan ramadan, ketika yang lain sedang salat tarawih atau tadarus. Seorang bocah bengal dengan banyak nilai merah di rapornya. Tak jarang Pak Suryo mengikatnya di pohon belimbing di depan rumah, memukulinya dengan gagang sapu ketika kedapatan ia mengadu ayam di kampung sebelah.

Kini Yuda menjelma seorang tentara dan baru saja pulang dari tugas di daerah perbatasan. Ia tak bisa membayangkan rupa dan bentuk dewasa bocah nakal itu. Mamak menyampaikan mereka akan datang bersama keluarganya hari ini.

Bagi mamak, semua tampak sempurna. Mamak tidak keberatan dengan sikap bandel Yuda semasa kanak-kanak yang urakan dan nakal, karena lelaki kecil itu telah membuktikan dirinya dengan pengabdiannya pada negeri ini. Tak sedikitpun keraguan di mata mamak. Bagi mamak, keluarga Pak Suryo sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri. Dua keluarga itu bersahabat sejak lama. Semua terasa begitu dekat bagi mamak, namun tidak demikian bagi Ratna. Ada yang mengganjal dalam hatinya. Ganjalan yang membuatnya menolak semua lelaki yang datang padanya.

Dihembuskannya nafas berat. Penyesalan perlahan menyusup. Bayangan Damar kembali mengembang di pelupuk mata. Damar, lelaki itulah yang mengisi relung hatinya saat ini dengan berbagai penyesalan dan nasib yang tak berkesudahan. Damar adalah teman ketika ia bekerja di sebuah kantor periklanan di Jakarta. Entah di mana lelaki itu saat ini. Ia hanya mengingat jejak terakhir Damar ketika meninggalkannya. Bayangan itulah yang mencemoohnya dengan penyesalan tanpa henti hingga kini.

Ratna menghembuskan nafas beratnya. Ia masih terjaga meski dini hari telah berubah menjadi fajar. Matanya semakin penat dan seluruh tubuhnya telah lelah. Sepanjang malam pikirannya berlari dari satu penyesalan ke penyesalan yang lain. Bagaimana mengatakan segalanya kepada mamak? Bagaimana menghadapi para tamu jauh yang dikhususkan datang berkunjung untuk meminangnya, tanpa memberinya tempat untuk berpikir dan menghindar seperti biasanya? Dalam bayangannya, tak butuh banyak pembicaraan untuk menetapkan tanggal pernikahan.

Sekali lagi bayangan Damar datang dan tak bisa ditepisnya. Bukan karena cinta yang bergelora, namun pada penyesalan atas kebodohan yang dilakukannya bersama lelaki itu. Lulus kuliah ia mengembara ke ibukota. Sebagai pendatang di ibukota, Damar membuatnya merasa nyaman untuk beradaptasi baik dengan lingkungan kantor maupun keadaan Jakarta yang panas dan kejam pada setiap pendatang. Tanpa terasa, pertemanan mereka menimbulkan getargetar tak biasa. Mereka saling jatuh cinta meski ia tahu Damar telah berkeluarga. Cinta keduanya membara dan tak terhindarkan. Mereka menikmati percintaan yang tak mungkin berbuah kebersamaan itu dengan sembunyi-sembunyi. Itulah yang mengendapkan luka di hati Ratna hingga kini. Kenangan itu begitu membekas dan tak bisa dilupakan.

Pada saat yang sama, bapak jatuh sakit. Penyakit jantung yang diderita bapak kambuh. Bapak meninggal beberapa saat setelah dirawat di rumah sakit. Tak ada pilihan lain kecuali keputusan untuk meninggalkan ibukota dan kembali ke rumah untuk menemani mamak.

Angin pagi masih berhembus memainkan kain gorden jendela. Azan Subuh bergema. Ratna masih belum bisa memejamkan mata. Hatinya perih mengingat semuanya. * “Kau bisa minta tolong pada Yuda untuk mengurus itu. Mungkin untuk saat ini akan lebih mudah,” kata mamak sambil berlalu. “Calon istri prajurit harus siap dengan apapun yang terjadi.”

Ratna kembali diam. Bukan jawaban itu yang ada di kepalanya saat ini. Bukan tes itu yang dikhawatirkannya. Haruskah ia menjawab dan menjelaskan kepada mamak bahwa dirinya sudah tidak perawan? Haruskah ia mengatakan semua rahasianya kepada mamak tentang kegadisannya yang hilang direnggut Damar, lelaki yang tak diketahui rimbanya saat ini? Ia tak lagi memiliki harga diri sebagai gadis. Dalam hati ia merutuk Damar yang tak bertanggung jawab, juga atas kebodohannya yang hingga kini harus ditanggungnya.

Rahasia itu disimpannya kuat-kuat tanpa pernah sedikitpun ia buka. Ditutupnya kisah itu menjadi masa lalu. Lelaki datang dan pergi begitu saja ketika mengetahui alasan yang dikemukakannya. Mamak hanya mengetahui ia menolak lelaki yang datang, sedangkan senyatanya tak ada lelaki baik-baik yang mau bersanding dengan perempuan seperti dirinya.

“Mereka akan datang hari ini. Bersiaplah,” suara mamak memecahkan lamunannya.

Ratna kembali diam. Ia tak tahu kapan ia memiliki keberanian menyampaikan seluruh rahasianya kepada mamak. Ia tak tahu.

ILUSTRASI CERPEN NOVA-JOKO-1542

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.