“AKU MAU MENCARI ORANGTUAKU YANG SEBENARNYA”

Salah cara mengasuh anak adopsi bisa berakibat fatal. Makanya, kenali betul caranya.

Nova - - Isu Spesial - EVELINE FOTO: ISTOCK, PRIBADI

“Daripada terus menghabiskan waktu dan biaya yang mahal, akhirnya mereka mengadopsi anak,” ujar Anindita Citra Setiarini, Psikolog dari Klinik lightHOUSE, Kebayoran, Jakarta, menjelaskan salah satu alasan pasangan melakukan adopsi.

Selain itu, alasan mereka mengadopsi anak bisa juga karena pasangan tersebut ingin menambah anak namun tidak bisa, kerena terlalu berisiko. Biasanya karena alasan kesehatan, seperti ibu yang mengidap penyakit jantung, hipertensi, asma, diabetes, epilepsi, gagal ginjal, HIV/AIDS, atau sudah beberapa kali melakukan operasi caesar.

Namun tidak sedikit juga pasangan yang berkecukupan secara ekonomi memiliki keinginan untuk membantu sesama dengan mengadopsi anak. Mungkin saja orang tua anak yang diadopsi merupakan kerabat dekat yang kurang mampu, atau bahkan tidak saling kenal oleh pasangan tersebut.

Banyak hal yang dapat memengaruhi seseorang atau pasangan dalam mengadopsi anak. Namun biasanya, faktor psikologislah yang memengaruhi mereka untuk mengadopsi anak. Sebelum mengadopsi anak, kebanyakan pasangan telah melewati proses berduka (grieving) yang terdiri dari denial,

anger, bargaining, depression, dan acceptance karena tidak bisa punya anak sendiri.

“Semenerima apapun seseorang terhadap keadaan, terkadang ada terbesit rasa sedih, kecewa, dan ada luka tersendiri karena tidak bisa memiliki anak sendiri. Dengan menyalurkan energi dan perhatian kita ke hal tepat seperti mengadopsi anak, diharapkan kita bisa menerima keadaan sepenuhnya dengan penyelesaian yang minimal,” jelas Citra.

Namun, apapun alasan dan sebabnya kita perlu mengetahui:

4 Hal Penting Sebelum Adopsi Anak

Selain materi, ada beberapa hal yang harus disiapkan pasangan, terutama persiapan mental. Ini di antaranya: Ubah Gaya Hidup dan Jadikan Anak Prioritas

Jika kita merupakan pekerja yang sibuk beraktivitas, kita harus rela mengesampingkan beberapa kegiatan untuk mengurus anak. Mengesampingkan ego tidak mudah, mengingat kehidupan dan kesejahteraan anak sangat bergantung pada orang tuanya. Meski demikian, kita juga harus tetap memenuhi kebutuhan diri sendiri dan pasangan. Pelajari Cara Mengurus Anak

Tidak ada salahnya jika mengikuti kelas ibu dan balita (anak usia 0-5 tahun) untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam merawat, mendidik, ASI dan MPASI, penyakit, hingga tumbuh kembang anak. Jangan sampai mengalami kepanikan atau membahayakan anak karena tidak punya bekal apa-apa. Atasi Tekanan Sosial

Di era digital seperti saat ini, informasi baru cepat sekali berputar. Tak sedikit ibu-ibu baru merasa kewalahan dalam memilih mana yang terbaik untuk anak-anak mereka. Baik

secara sadar atau tidak, hal itu menimbulkan rasa kompetisi. Sebaiknya, lakukan riset terlebih dahulu mengenai baik dan buruknya suatu metode yang hendak diikuti. Jika perlu konsultasilah ke tenaga profesional. Ingat, tidak perlu selalu ikut tren untuk terlihat keren.

Ambil Keputusan Membesarkan Anak

Kita perlu mendiskusikannya dengan pasangan dan melakukan trial and error sendiri. Misalnya menggunakan popok sekali buang atau popok kain yang cuci-keringpakai. Dengan mencoba beberapa hal, kita akan tahu, mana yang ‘klik’ untuk kita dan anak. Jika sudah menemukan yang sesuai, berkomitmenlah untuk meneruskannya tanpa ragu dan takut.

Awas, Ini Resiko Mengadopsi Anak!

Meskipun adopsi anak adalah hal yang wajar dan sudah banyak dilakukan, namun bukan berarti tanpa risiko. Setelah mengadopsi anak, pasangan sedikit banyak akan mendapat tekanan dari orang-orang sekitar.

“Biasanya akan ada komentar orang yang tidak menyenangkan. Ada saja orangorang yang kurang bijak ketika bertanya kepada kita atau anak kita. Misalnya ‘mau sesayang apapun, kalau bukan anak kandung, pasti beda’, atau ‘ini anak kok enggak mirip ya, sama mama-papanya? Anak siapa, sih?’. Sebaiknya kita berusaha tetap tenang agar tidak mengeluarkan reaksi yang emosional,” jelas Citra.

Tidak hanya dari lingkungan sekitar, resiko yang mungkin dihadapi bisa juga datang dari dalam. Misalnya anak akan merasa tidak cukup dicintai atau diperhatikan, karena bukan anak kandung. Tidak sedikit anak adopsi yang kabur dari rumah karena ingin mencari orang tua kandungnya.

“Sebaiknya, kita juga terbuka dengan anak mengenai jati diri dan asal usulnya, kapan waktu yang tepat untuk menyampaikannya memang relatif, namun kita harus terus berusaha menunjukkan kasih sayang meskipun itu sulit untuk diterima. Anak adalah komitmen dan tanggungjawab orang tua,” jelas Citra.

Mengadopsi anak punya tantangan tersendiri. Selain masalah yang biasa dihadapi orangtua pada umumnya, orang tua yang mengadopsi anak perlu mengadaptasikan anak untuk masuk ke keluarga inti maupun keluarga besar. Jika terjalin komunikasi dan pengertian yang baik, maka kemunculan konflik dapat dihindari atau diminimalisir.

Sebelum melakukan proses untuk mengadopsi anak, tanyakan kesiapan diri kita, baik secara materi maupun mental. Ingat, ini adalah komitmen untuk jangka panjang. Jika kemudian hari anak kita tumbuh menjadi seseorang yang tidak kita harapkan, kita tetap orang tuanya. Tidak semua orang mampu memahami apa yang dihadapi orang tua yang mengadopsi anak. Carilah komunitas atau support group yang dapat saling memahami, membantu, dan menguatkan di saat-saat yang sulit atau dibutuhkan.

Anindita Citra Setiarini, Psikolog

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.