“KAMI DITINGGALKAN SAAT SI BAYI SEDANG LUCU-LUCUNYA”

Kembali ulah rumah sakit yang kurang peduli menyebabkan pasien tidak tertolong. Lalu, percayakah kita atas bantahan Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres atas tudingan telahmenelantarkan pasiennya?

Nova - - Peristiwa -

Malam itu, Henny Silalahi bersama keluarga sedang nyenyak tidur. Namun bayinya tiba-tiba mengalami sesak nafas. Henny yang kalut melihat keadaan sang bayi akhirnya segera membawa Tiara Debora Simanjorang ke rumah sakit terdekat.

“Karena buru-buru, aku tak sadar hanya mengenakan baju daster tidur tanpa alas kaki ke rumah sakit. Aku sangat panik. Yang kupikirkan hanyalah menemukan tempat medis terdekat dan bisa sesegera mungkin menolong bayiku,” cerita Henny kepada Nova di rumahnya di Gang Haji Jaung RT 02/RW 01, Kampung Baru, Kecamatan Benda, Tangerang. Senin (11/9) lalu.

Wajahnya masih nampak muram. Bukan hanya perjuangannya menyelamatkan nyawa sang bayi berakhir sia-sia, tapi ia merasa telah “dizholimi” oleh pihak rumah sakit.

Namun, seperti diungkapkan Francisca Dewi, Direktur RS Mitra Keluarga Kalideres, mereka menolak dibilang menelantarkan bayi Debora, hingga berakibat fatal itu. Nah, lalu siapa yang benar?

Bayi yang Ceria

Usaha Henny merawat pertumbuhan Debora memang tak mudah. Apalagi, anak kelima pasangan Rudianto Simanjorang dan Henny Silalahi ini lahir prematur. Jadi, sejak baru lahir hingga meninggal di usia tiga bulan banyak perjuangan yang dilalui. “Dia lahir ketika usia kehamilanku menginjak delapan bulan. Saat lahir, beratnya hanya 1,4 kilogram. Postur badannya menjadi sangat kecil,” kenang Henny. Sejak saat itu, dokter menyuruhnya melakukan metode Kangoroo Mother Care (Perawatan intensif bayi melalui kontak kulit antara ibu dan bayi sejak dini yang bertujuan agar si bayi tetap dalam keadaan hangat). Bahkan saat kali pertama menggendong, Henny merasa ragu. Ia takut melukai tubuh kecil sang bayi. “Jujur saja, ini pengalaman pertamaku merawat bayi prematur. Harus hati-hati banget.” Tapi sebagai seorang ibu, Henny tak mau pasrah begitu saja. Setiap hari terus mencari cara bagaimana merawat bayi prematur yang benar. Sampai akhirnya ia menemukan satu grup di akun media sosial Facebook berisikan kumpulan para ibu yang memiliki bayi prematur. Dari situ ia mulai dapat banyak hal baru. “Salah satunya, bahwa bayi prematur harus menjalani tahap Screening Retinophaty of Prematurity (ROP). Kalau tidak, kemungkinan bayiku akan mengalami kebutaan nantinya,” lanjut Henny. Perhatian khusus Henny tak berhenti sampai di situ. Selama masa cuti melahirkan, ia selalu meluangkan waktu untuk memandikan Debora setiap pagi dan sore. “Rutin kulakukan. Mandinya pun harus dengan air hangat. Setelah mandi pagi, pasti kuajak berjemur badan di depan rumah,” kenangnya. Begitu juga saat Debora tidur. Ketika dalam posisi telentang, kerap kali Henny memindahkannya ke posisi tidur miring, kiri dan kanan secara bergantian. “Supaya dia terbiasa.” Henny selalu bersyukur karena meski lahir prematur, perkembangan fisik bayinya terbilang pesat. Beberapa minggu sebelum Debora meninggal, ia sempat menimbang berat badannya. “Ketika itu beratnya bertambah menjadi 3,4 kilogram. Sangat girang aku mendengarnya,” kisah Henny.

Uang Muka Kurang

Sebenarnya, seminggu sebelum meninggal Debora sedang sakit flu dan batuk. Orang tua pun sempat membawanya berobat di RSUD Cengkareng. Namun tibatiba pada Minggu, (3/9) dini hari Debora mengalami sesak nafas. Setelah dilarikan ke RS Mitra Keluarga Kalideres, Debora dirujuk ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan langsung ditangani dokter Irene Arthadinanty.

Penanganan dimulai dengan pemasangan selang bantuan pernafasan, infus, obat suntik, hingga pemberian obat pengencer dahak. Sambil diperiksa, Rudianto diminta mengurus admistrasi. Sekitar pukul 4 pagi, dokter memanggil kedua orang tua Debora dan memberi tahu jika kondisi anaknya membaik setelah dilakukan tindakan intubasi. Kebiruan (sianosis) pada tubuh Debora berkurang, Saturasi oksigen pun membaik.

Meski begitu, kondisinya masih kritis sehingga harus segera dimasukkan ke ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU).

Sebagai persyaratan agar Debora bisa dirawat di PICU, kedua orang tua diminta harus melunasi uang muka sejumlah Rp 19,8 juta. “Tapi kami saat itu tak bawa apa-apa. Uang dan barang berharga lain tertinggal di rumah karena terburu-buru membawa Debora ke rumah sakit. Akibatnya, suamiku harus pulang lagi ke rumah mengambil kartu ATM.”

Namun uang yang tersisa di ATM Rudi hanya Rp5 juta sehingga tak cukup melunasi uang muka yang diminta. Di pikiran Rudi, mungkin ia bisa tertolong karena keluarganya terdaftar sebagai pasien BPJS. Nyatanya, staf administrasi rumah sakit menyebut jika RS Mitra Keluarga Kalideres belum bekerja sama dengan BPJS. Jadi, agar Debora bisa dirujuk ke PICU, Rudi tetap diminta melunasi uang muka itu terlebih dulu.

“Aku kesal mendengarnya. Hanya lantaran pembayaran uang muka kurang, anakku enggak bisa dimasukkan ke PICU. Aku juga sempat meyakinkan mereka, ‘Saya pekerja dan punya penghasilan. Jadi, kekurangan uang ini akan saya lunasi segera. Sekarang, tolong bawa anak saya ke PICU’,” mohonnya.

Lagi-lagi belas kasihannya ini diabaikan pihak rumah sakit. Mereka menganggap, prosedur harus tetap diikuti. Debora terpaksa tak bisa masuk ruang PICU. Pihak rumah sakit akhirnya memberi solusi pada keluarga Debora.

Mereka menawarkan rujukan ke rumah sakit yang sudah kerja sama dengan BPJS. Karena masih belum menemukan jalan keluar lain, Henny pun menyetujui. RS Mitra Keluarga akhirnya membuatkan surat rujukan.

Namun, bukannya mencari rumah sakit rujukan, mereka malah menyuruh Henny dan Rudi untuk mencari sendiri rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS. “Mereka bilang, kalau kita yang cari akan lebih cepat. Padahal dalam prosedur, pihak rumah sakitlah yang seharusnya mencarikan,” keluhnya.

Debora dalam kondisi kritis tetap menunggu di ruang IGD. Sementara orang tuanya sedang berjuang mencarikan rumah sakit rujukan. “Akhirnya sekitar pukul 09.30, salah seorang teman memberi kabar jika di RS Koja bersedia mendapat rujukan untuk menangani pasien BPJS dari bayi Debora.”

Dokter dari RS Koja pun bergegas menelpon RS Mitra Keluarga untuk menanyakan kondisi Debora. Kebetulan, dokter yang berjaga menangani Debora sudah berganti, menjadi doter Irfan. Dia melaporkan jika kondisi sang bayi sudah stabil, pasokan oksigen lancar, sehingga layak ditransportasikan.

Tapi seketika, kepanikan kembali menyeruak kala suster yang menjaga Debora di IGD datang menghampiri dokter Irfan dan melaporkan jika kondisi si bayi memburuk. Tim medis pun segera memberi tindakan CPR karena denyut jantung Debora berhenti. “Sambil menangis, aku hanya bisa memegangi tangan anakku yang dingin itu,”

Tuhan berkehendak lain. Beberapa saat kemudian, Debora kehilangan nyawa. Sambil melepas peralatan medis yang menempel di tubuh sang bayi, pihak rumah sakit mengucap bela sungkawa. Tangis Rudi dan Henny kian tak terbendung.

Henny sempat bertanya pada suster, apa yang menyebabkan anaknya bisa meninggal. “Tapi, suster hanya jawab, ‘Seharusnya Debora dirawat di PICU, bukan di sini’,” tuturnya menirukan ucapan itu. Tanpa banyak berkata-kata, Rudi dan Henny bergegas mengurus biaya administrasi rumah sakit serta surat kematian. Mereka harus membayar Rp6 juta lebih untuk biaya perawatan Debora selama di ruang IGD. Namun, dalam surat kematian tak dijelaskan apa penyebab kematiannya.

Rumah Sakit Membantah

Menanggapi kasus yang menimpa Debora, pihak Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres akhirnya angkat bicara. “Ketika pasien (Debora) masuk ke rumah sakit, tim medis langsung memberi pertolongan pertama sesuai prosedur dengan membawanya ke IGD. Di sana kita rawat sampai keadaan pasien kembali stabil,” kilah Francisca Dewi, Direktur RS Mitra Keluarga Kalideres saat menggelar konferensi pers di RS Mitra Keluarga Kalideres, Jalan Peta Selatan, Jakarta Barat, Senin (11/9) malam.

Bicara soal terkendalanya uang muka yang harus dilunasi keluarga Debora sehingga membuat sang bayi tak bisa dirawat intensif di ruang PICU, Francisca menjelaskan jika penanganan di ruang IGD dan PICU hampir sama. Lagipula, Dalam merawat pasien di ruang IGD, Francisca mengaku jika rumah sakitnya tak memberlakukan uang muka. Penarikan uang administrasi baru diberlakukan rumah sakit ketika pasien hendak dirujuk ke ruang perawatan. “Saya rasa prosedur seperti ini juga berlaku di setiap rumah sakit lain.”

“Jadi, baik di IGD maupun PICU sebenarnya sama dalam hal penanganan medis terhadap pasien. IGD adalah tempat penanganan awal bagi pasien gawat darurat, Setelah kondisinya stabil, barulah dirawat di PICU.”

Ketika Debora hendak dirujuk ke ruang PICU, Francisca mengaku jika pihaknya tak mengetahui bahwa keluarga Debora adalah pasien BPJS. “Rumah sakit kami memang belum bekerja sama dengan BPJS. Tapi bukan berarti mengabaikan pelayanannya. Akibat kesalahpahaman itu makanya kami sempat meminta uang muka. Sampai akhirnya

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.