Jogja Fashion Carnaval 2017

Tenun dan batik mendapat tempat tersendiri di Jogja Fashion Carnaval 2017. Meski Jogja sebagai tuan rumah, di sini ada unsur Bali, Palembang, Flores, Irian, dan Kalimantan.

Nova - - Ragam - MOHAMMAD IMAM ARIFIEN FOTO: IMAM

Perhelatan akbar tahunan Jogja Fashion Week (JFW) 2017, (23/8), di Jogja Expo Center diisi dengan berbagai kegiatan. Mulai dari fashion show, seminar, talkshow, pameran produk fesyen, dan karnaval. Pergelaran fashion show menampilkan karya 52 desainer profesional dan 21 desainer binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY.

Tema yang diusung adalah Abinaya Anagya, dari bahasa Sansekerta yang berarti semangat yang terus berkobar. Sebagai bagian dari industri kreatif, diharapkan para desainer terus memiliki semangat untuk menghasilkan karya-karya terbaik.

Jogja Fashion Week bisa memberikan multiplier effect tidak hanya bagi desainer, namun semua pelaku industri fesyen, terutama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini disampaikan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X melalui Kadisperindag DIY, Ir. Budi Artono, MSi. saat membuka JFW 2017.

Menurut Sultan HB X, bidang kreatif fesyen di Yogyakarta berkembang pesat dan kemajuannya sangat signifikan dari tahun ke tahun. “Kebangkitan dunia fesyen di Yogyakarta terlihat tumbuh dari berkembangnya rumah mode,” papar Sri Sultan HB X.

Untuk itu, Sultan berharap kreativitas sektor fesyen ini jangan pernah surut dan terus ditingkatkan dari sisi kualitas, kuantitas, jenis produk, dan keunikannya. Sultan berharap pelaku industri fesyen semakin peduli terhadap produkproduk yang mengeksplorasi seni budaya bangsa.

Jika tahun-tahun sebelumnya fokus pada kain batik menjadi andalan DIY, JFW kali ini juga memasukkan unsur tenun Nusantara dengan harapan dapat menjadi media untuk memperkenalkan kekayaan kain Indonesia. Sebagai puncak dan penutup JFW 2017, penyelenggara menggelar kegiatan Jogja Fashion Carnaval di Jalan Malioboro pada hari Minggu (27/8).

Mulai dan Berakhir di Titik Nol

Menjelang sore, ribuan pengunjung dari dalam dan luar negeri memadati dua sisi di sepanjang Malioboro. Mereka tampak antusias untuk menyaksikan acara yang digelar untuk ke-12 kalinya ini. Sekitar pukul 15.00 WIB, Sekretaris Daerah DIY, Ir. Gatot Saptadi, mengibaskan bendera pemberangkatan sebagai tanda dimulainya Jogja Fashion Carnaval 2017.

Peserta memulai karnaval dari halaman kantor Dinas Pariwisata DIY dan berakhir di Titik Nol Kilometer kota Yogyakarta.

“Jogja Fashion Carnaval 2017 diikuti oleh sekitar 1.000 orang dari 30 kelompok. Sebanyak 23 kelompok berasal dari DIY, sementara sisanya dari luar daerah

seperti Solo, Salatiga, Malang dan Banyuwangi,” papar Ir. Aris Riyanto, MSi., Kepala Dinas Pariwisata DIY.

JFC diselenggarakan tidak hanya sebagai ajang pertunjukan bagi para wisatawan tetapi juga ajang lomba bagi para insan kreatif di dunia mode. Lomba dibagi menjadi dua kategori yaitu Lomba Karnaval dan Lomba Busana Fantasi. Dengan tema yang sudah ditetapkan, peserta diberi kebebasan untuk mengekspresikannya dalam berbagai bentuk. Kostum yang ditampilkan para peserta sangat beragam hingga membuat karnaval semakin semarak.

“Kami juga menyertakan satu desainer sebagai pendamping bagi tiap kelompok yang tampil. Karena itu apa yang ditampilkan men­

jadi lebih menarik,” ujarnya lagi. Selain peserta lomba, tampil juga beberapa kelompok yang menjadi bintang tamu. Salah satu tokoh yang kerap tampil adalah seniman lokal Didik Nini Thowok. Busana yang dikenakannya pada JFC 2013 kali ini penuh dengan corak dan warna.

“Apa yang saya tampilkan kali ini dasarnya adalah kebhinekaan Indonesia. Ada unsur Bali, Palembang, Flores, Irian, juga Kalimantan. Pokoknya kita harus kreatif,” jelas seniman tari kelahiran Temanggung ini.

Satu­persatu peserta memberikan penampilan terbaik di hadapan dewan juri yang mengambil tempat tepat di seberang kantor Dinas Pariwisata DIY sebelum menyusuri Malioboro. Sesekali mereka berinteraksi dengan penonton lewat lontaran senyum dan lambaian tangan.

Penonton yang awalnya berbaris rapi kemudian memberanikan diri untuk mendekat dan mengajak para peserta ber­selfie ria. Segera saja tindakan ini mengubah jalannya JFC 2017 menjadi ajang selfie bagi ribuan orang. Besar­kecil, tua­muda terlihat asyik mengabadikan diri lewat

smartphone mereka. Beberapa wisatawan asing terlihat menikmati karnaval ini. Meski bukan hal yang baru, menyaksikan sebuah karnaval di salah satu jalan utama kota Yogyakarta menjadi sesuatu yang patut diapresiasi.

“Karnaval ini seperti hadiah tambahan dalam perjalanan saya. Saya sangat menikmati tarian, musik, dan kostum yang ditampilkan. Sulit bagi saya untuk membayangkan bagaimana rasanya mengenakan topi yang sangat berat. Pertunjukan yang luar biasa,” tutur Yurina, wisman asal Belanda yang sesekali mengarahkan lensa kameranya ke arah peserta karnaval.

Jogja Fashion Carnaval memang diagendakan untuk diselenggarakan pada bulan­bulan saat kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri mengalami peningkatan. Berdasarkan keterangan dari pihak Dinas Pariwisata DIY, bulan Agustus memang menjadi awal peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ke Yogyakarta. Lewat kegiatan ini, maka para wisatawan yang ingin berkunjung dapat melakukan penyesuaian dengan agenda mereka.

Setelah berlangsung sekitar satu setengah jam, JFC 2017 pun sampai pada penghujungnya. Seluruh peserta sudah memberikan penampilan terbaik mereka kepada dewan juri dan kepada para wisatawan yang memadati jalan Malioboro sore itu.

Ketika penampil terakhir tiba di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, satu­persatu penonton mulai membubarkan diri. Ada yang kembali ke rumahnya, ada juga yang meneruskan aktivitas berbelanja mereka. Bagi panitia dan peserta yang tersisa adalah bentuk kreativitas apa lagi yang akan ditampilkan pada Jogja Fashion Carnaval di tahun berikutnya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.