WASPADA, KATARAK BISA MENYERANG SI KECIL

Berkaca dari cerita Asri Welas dan bayinya, ada beberapa kondisi kesehatan yang ternyata tak terelakan dan bisa terjadi pada buah hati. Dan salah satu penyakit yang bisa membayangi para malaikat kecil ini adalah katarak.

Nova - - Kesehatan - DIONYSIA MAYANG RINTANI FOTO: ISTOCK

Salah satu penyakit degeneratif, penyakit yang menyebabkan terjadinya kerusakan atau penghancuran terhadap jaringan atau organ tubuh, adalah katarak. Suatu kondisi di mana lensa mata menjadi keruh, karena ada bagian pada area lensa mata yang tampak seperti berawan. Kondisi tersebut menghalangi cahaya masuk ke retina, sehingga menimbulkan masalah penglihatan. Proses kerusakan ini biasanya terjadi seiring dengan bertambahnya usia.

Meskipun banyak diderita orang yang berusia lanjut, ternyata katarak juga bisa diderita pada anak usia dini. Katarak tersebut biasa disebut dengan katarak kongenital. Gejala yang mungkin timbul pada mata si kecil adalah adanya bercak keputihan di pupil, bola mata tampak tak seimbang, dan anak akan mudah silau bila terkena sinar matahari.

Sama seperti katarak pada umumnya, katarak kongenital adalah kekeruhan pada lensa mata yang terjadi sejak lahir. Lensa mata memiliki fungsi memfokuskan cahaya yang masuk ke mata menuju retina sehingga objek bisa tertangkap mata dengan jelas. Bila ada katarak, maka cahaya yang masuk ke mata tersebar karena lensa mata keruh, sehingga objek yang tertangkap mata menjadi kabur dan terdistorsi.

Waspadai Obat yang Diminum Saat Hamil

Banyak hal yang memengaruhi seorang bayi dapat terlahir dengan katarak. Seperti faktor genetik, infeksi ketika masih dalam kandungan, atau rendahnya berat badan bayi saat lahir. Selain itu, katarak kongenital juga bisa disebabkan trauma, diabetes, atau inflamasi.

Bila katarak kongenital disebabkan oleh genetik, kelainan terjadi pada saat proses pembentukan protein untuk mempertahankan transparansi dari lensa mata alami tidak berjalan normal, sehingga mengakibatkan adanya noda keruh pada lensa mata. Jika katarak kongenital terjadi sejak di dalam kandungan kemungkinan sang ibu memiliki infeksi seperti campak atau rubella, herpes, cacar air, dan toksoplasmosis.

Obat-obatan tertentu juga bisa menimbulkan reaksi yang menyebabkan katarak. Seperti antibiotik tetrasiklin yang digunakan untuk mengobati infeksi saat hamil. Sebaiknya, sebelum mengonsumsi obat-obatan tertentu ketika sedang mengandung, konsultasi terlebih dahulu dengan dokter agar tak memengaruhi janin.

Deteksi Dini dengan Mainan

Untuk mendeteksi kemungkinan katarak yang diderita bayi, kita bisa melakukan beberapa cara. Pertama, coba beri bayi kita mainan dengan warna yang cerah seperti biru, hijau, kuning, atau merah. Kemudian, gerakkan mainan tersebut ke berbagai arah secara perlahan. Lalu, amati respon bayi kita.

Bila pandangan bayi mengikuti arah gerak mainan dan berusaha untuk menggapainya, maka bayi mengeluarkan respon yang normal. Namun, bila bayi tidak mengeluarkan respon apapun, maka ada kemungkinan bayi kita terkena katarak dan segera konsultasikan pada dokter.

Sementara itu pada anak, ada beberapa gejala katarak yang bisa kita waspadai. Antara lain lensa mata tak jernih, kesulitan membaca atau melihat jarak jauh, penglihatan ganda, serta ukuran lensa kacamata yang sering berubah.

Bisa Sebabkan Kebutaan

Diolah dari laman WebMD, katarak kongenital bisa menghambat penglihatan atau bahkan menyebabkan kebutaan. Diperlukan operasi katarak sesegera atau sedini mungkin untuk menjamin penglihatan bayi agar nantinya bisa berkembang secara normal.

Prosedur operasinya adalah dengan mengangkat lensa alami bayi, yang kemudian digantikan dengan lensa buatan, menggunakan lensa kontak, atau mengenakan kacamata setelah operasi. Bila melewatkan tindakan koreksi tersebut, penglihatan anak bisa berkurang dan perkembangan normal indera penglihatan bayi akan terhambat.

Prosedur operasi ini juga memiliki risiko, karena bisa menyebabkan glaukoma. Glaukoma ini terjadi bila tekanan pada mata terlalu tinggi. Akibatnya, akan ada kerusakan permanen struktur dalam mata ketika pengobatan tidak dilakukan dengan baik.

Meskipun tindakan operasi dinilai sebagai jalan keluar utama untuk menyembuhkan katarak, tetap sulit dilakukan prediksi apakah penglihatan anak akan menjadi lebih baik atau tidak. Namun yang jelas, akan selalu ada pengurangan kemampuan penglihatan pada anak yang mengalami katarak kongenital.

Seperti tertulis dalam NOVA.id, operasi katarak sebaiknya dilakukan sebelum anak berusia 3 bulan agar retina tetap berkembang bagus. “Sebelum 3 bulan, kan, kita sudah bisa tahu jantung dan perkembangan otaknya bagus. Kalau setelah itu, meski katarak dibuang, lensanya diganti baru, dan ukurannya jadi nol, tetap kurang karena retina tidak berkembang,” tutur Dr. Abdul Manan Ginting, Sp.M., spesialis mata dari Jakarta Eye Center.

Memasuki usia 3 bulan hingga 2 tahun, penglihatan bayi berkembang pesat. “Pada anak-anak dengan intelegensia cukup, usia 2 tahun kemampuan melihatnya sudah mendekati 100 persen. Itu sebabnya, operasi katarak sebaiknya tidak dilakukan lebih dari usia 3 bulan,” jelas Dr. Ginting.

Setelah melakukan prosedur operasi, anak perlu melakukan terapi amplyopia yang bertujuan untuk membiasakan pasien anak dengan kondisi mata yang baru. Jangan khawatir, tak semua katarak kongenital harus dioperasi. Konsultasikan pada dokter untuk menentukan penanganan yang tepat sesuai kondisi yang dialami anak kita.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.