Profesi Milenial Hanya Buat Hobi

Nova - - Isu Spesial - TENTRY YUDVI FOTO: DOK. PRIBADI

Tak selalu profesi milenial bisa menjanjikan. Menurut pakar karier Maya Arvini, justru profesi milenial lebih baik dijadikan sebagai hobi. Kenapa begitu? Menurut Maya, persaingan yang ketat membutuhkan daya juang sendiri bagi kita yang memilih profesi milenial. Dan ini sungguh tidak mudah.

Tak bisa dipungkiri, menjamurnya, selebgram, blogger, YouTuber, hingga penulis travel di dunia maya dipilih sebagian besar generasi milenial sebagai profesi.

Sementara itu, jenis pekerjaan kantoran bagi generasi milenial bukan lagi sesuatu yang menarik untuk dijadikan jenjang karir. Sebab, teknologi memberikan kemudahan yang menguntungkan bagi anak muda untuk tetap menghasilkan dan kreatif. Apakah benar seperti itu?

“Betul sekali, seiring dengan perkembangan teknologi. Sesuai dengan aspirasi generasi milenial untuk kerja tidak dibatasi banyak aturan yang menurut mereka kaku. Tentunya kaku atau tidak ini menjadi relatif,” tambah Maya.

Sementara, platform media sosial seperti Instagram dan YouTube dijadikan medium kreativitas generasi Y atau generasi milenial untuk mendapatkan pekerjaan. Hingga bermunculan beragam profesi milenial favorit yang banyak diimpikan oleh generasi tersebut

“Yang paling favorit adalah menjadi endorser, selebgram, YouTuber, freelancer, blogger, jadi pengusaha seperti membuat startup berbasis teknologi, membuat coffee shop, buka online shop. Atau kerja di start up Indonesia,” tambah Maya.

Sebut saja, profesi selebgram atau selebriti Instagram yang sedang gencar dilakukan pesohor tanah air dan blogger. Hanya dengan mengunggah video atau foto ulasan produk kecantikan, kuliner, fesyen, atau travel, mereka bisa mendapatkan endorser secara cuma-cuma dari sebuah perusahaan.

“Pendapatan menguntungkan memang didapatkan. Hanya dalam jangka pendek saja,” kata Maya.

Sasaran Empuk

Tapi, siapakah yang paling diuntungkan pada situasi dan kondisi seperti itu?

Para pemilik perusahaan, jawabannya.

Karena mereka bisa berhemat banyak biaya promosi ketika meluncurkan produk baru. Terlebih, jika sosok yang dipilih memiliki jutaan follower di akun media sosial mereka, sehingga satu kali ulasan produk bisa memberikan pengaruh besar bagi sebagian penikmat produk.

“Jebakan betmen” lainnya, pekerjaan seperti ini juga memiliki beragam kekurangan

yang berkaitan dengan isu sosial. Mereka semakin sedikit yang menggunakan komunikasi interaktif dengan bertatapan wajah.

Selain itu, pekerjaan tersebut tentu harus membutuhkan perjuangan lebih agar stabil dan tetap menghasilkan. “Kurangnya pengalaman sebagai profesional atau kerja di perusahaan besar, tentu tidak mudah bagi siapa pun untuk memulai sendiri,” ingat Maya.

Tentu saja, untuk membuat usaha dari pekerjaan ini tetap stabil, mereka setidaknya harus merasakan kerja profesional terlebih dahulu, sehingga memahami SOP perusahaan. Akibatnya, tak bisa dipungkiri banyak dari mereka gagal mempertahankan usahanya sendiri.

“Atau, mereka yang memilih untuk kerja di start up yang baru, akhirnya cepat bosan dengan gaji yang mungkin cukup tinggi atau overpaid dibandingkan dengan teman-teman seusianya. Akibatnya, ketika dia resign sulit mencari perusahaan lain,” tukas Maya.

Untuk itu, Maya menyarankan bagi generasi millenial untuk tetap bekerja di perusahaan agar pemasukan tetap stabil. Dan, profesi milenial dijadikan sebagai hobi. Pasalnya, untuk memenangkan persaingan tentu membutuhkan ide kreatif di mana tak hanya sekedar mencari nama menjadi keren, tetapi bisa menginspirasi banyak orang. Dan itu harus dilakukan nyaris tanpa jeda, dan selalu menghasilkan konten berkualitas nomor satu.

Anda sudah berpikir mau jadi “orang kantoran” lagi?

Maya Arvini, pakar karier

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.