JANGAN PAKSA BURUNG UNTUK BERENANG

Enggan mengarahkan, tapi justru memaksa. Jangan kecewa Jika nanti anak Anda justru tak bisa apa-apa.

Nova - - Anda & Anak - PINGKI AULIA / MELISSA TUANAKOTTA FOTO : ISTOCK

Semasa dalam kandungan, anak boleh sama-sama 9 bulan, tapi begitu dilahirkan semua anak berbeda. Bukan hanya secara fisik, tapi juga mental – dan tentu tingkat kecerdasannya.

Howard Gardner, seorang ahli psikologi perkembangan dan guru besar pendidikan pada Graduate School of Education, Harvard University mengatakan, setidaknya ada sembilan kecerdasan yang dimiliki anakanak. Ada kecerdasan linguistik, matematislogis, ruang-visual, kinestetik-badani, musikal, interpersonal, intrapersonal, lingkungan/ naturalis, dan kecerdasan.

Tapi ya itu tadi, tak semua anak memiliki semua kecerdasan yang sama. Seperti yang ditekankan oleh teori itu, bahwa setiap orang memiliki semua kapasitas kecerdasan yang bekerja dengan cara yang berbeda-beda.

Dari sembilan kecerdasan, akan ada satu kecerdasan yang menonjol sesuai dengan bakat yang dimiliki dan sudah mulai muncul sejak anak berusia dini.

Nah, mustinya dengan kecerdasan tertentu seorang anak akan serius mendalami suatu hal, lanatas menjadi pintar, hingga makin jelas langkah dan jalannya menuju yang dicita-citakannya. Tapi yang terjadi, bibit subur itu seringkali tak jadi berkembang, layu, bahkan mati.

Kenapa bisa begitu, seringkali justru orangtua yang harusnya memupuk, menyiram, dan memelihara bibit hingga si anak bisa jadi pohon subur justru “membunuhnya”. Bahkan dengan alasan yang masuk di akal, tapi sungguh menyebalkan, “Karena cita-citanya gak seperti yang kami harapkan.”

Padahal, “Biasanya kalau orang tua terlalu memaksakan apa yang diinginkan tidak sesuai dengan apa yang dimiliki oleh anak, anak bisa frustasi dan tertekan. Hal tersebut dikarenakan anak akan mengerjakan sesuatu dengan paksaan, bukan karena apa yang disenanginya,” jelas Irma Gustiana Andriani, M. Psi., seorang psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan UI.

Jika anak terus menerus mendapatkan paksaan dari orangtua, biasanya akan menyebabkan de-motivasi pada anak. Ia jadi tidak mau atau enggan melakukan hal-hal yang dipaksakan kepadanya. Seperti saat orangtua memaksa anak untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang tidak disukainya, anak menjadi tidak ingin pergi ke sekolah dan prestasinya pun menurun. “Hal tersebut juga sangat memungkinkan untuk memengaruhi pola kehidupan anak seharihari, seperti tidak mau makan,” tambah Irma.

Alih-alih memaksakan kehendak dan bersikap otoriter, akan lebih baik jika orangtua mendukung dan mengarahkan kecerdasan anak agar bisa berkembang menjadi lebih baik lagi.

Toh mendeteksi kecerdasan anak tidak sulit. Orangtua bisa melihat dari kebiasaan dan aktivitas yang sering dilakukan anak dengan tekun. “Misalnya anak senang aktivitas fisik, lari-lari, lompat-lompat, yang tidak terarah. Biasanya anak-anak seperti ini secara multiple intelligences memang memiliki kecerdasan yang ada kaitannya dengan kinestetik,” kata Irma,

Nah, jika sudah mengetahui kecerdasannya, maka orang tua bisa memberikan dukungan positif, fasilitas yang menunjang, bimbingan yang intensif, atau mengajak anak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai.

Jangan lupa, beri kesempatan kepada anak untuk memilih sendiri ekstrakurikulernya. Dengan demikian anak akan memiliki peluang untuk mengembangkan kecerdasannya, seperti bermain musik, bercerita, melukis atau menari.

Jangan Memaksa

Lantas, apakah salah jika orangtua mengarahkan masa depan anak?

Tentu tidak. Jika orang tua ingin anaknya berbakat di bidang seni, tapi sang anak tidak berminat akan seni, orang tua bisa membantu dengan menumbuhkan minat anak kepada seni. Caranya, dengan memberikan informasi yang jelas, seperti alasan mengapa seni itu penting, dan memberikan ruang kepada anak untuk bereksplorasi.

“Orang tua harus banyak memberikan informasi mengenai minat atau bakat pada anak, tapi yang terpenting orangtua hanya mengarahkan, memberikan informasi, memberikan gambaran, memberikan dukungan, dan support,” jelas Irma.

Kita, atau ayah ibu memang hidup di jaman berbeda. Tapi kini, anak-anak tengah berada di era milenial – yang menawarkan begitu banyak keragaman. Termasuk profesi – yang di jaman kita saja, tak pernah terbayangkan bakal ditekuni.

“Jadi sebaiknya orangtua membuka wawasan mengenai karir, bakat, dan minat di era sekarang ini,” tandas Irma.

Betul. Dan ingat, jangan memaksa tanpa sebab yang jelas. Karena setiap anak lahir berbeda, dan membawa kecerdasan masingmasing pula. Layaknya burung, moso disuruh untuk berenang, atau kera yang pintarnya bergelantungan di pohon malah dipaksa untuk terbang?

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.