BERBURU SERAT BAMBU SAMPAI KE NEGERI CINA

Nova - - Kisah Sukses - SAFIRA DITA FOTO: AFRI PRASETYO

Pekerjaannya dulu sebagai seorang stylist di media remaja pria, Majalah Hai, mustinya cukup keren. Bahkan jadi asisten desainer hingga creative director satu perusahaan tenun sempat disandangnya. Tapi, buat Lusi semua itu tidak cukup. Bukan karena dirasanya kurang menjanjikan, dan juga bukan lantaran soal imbalan materi belaka.

“Aku ingin membuat sesuatu yang baru di kota kelahiranku, Malang,” ungkap Lusi Limono yang kemudian memutuskan berhenti dari pekerjaannya, dan mulai menenun. Menenun? Yup. Dunia benang, tenun, kain memang tidak baru digauli Lusi. Perempuan yang lulusan jurusan desain tekstil ini bukan kebetulan juga lahir dari ibu yang penjahit dan ayah yang seorang pedagang kain. “Karenanya, tidak sulit bagiku untuk menghafal jenis-jenis kain,” jelasnya.

Dan, Lusi yang manis dan berkulit putih ini mungkin masih menenun. Tapi lebih dari itu, kini ia adalah juragan kain dengan produk beragam dari pakaian anak-anak sampai dewasa. Labelnya, Kait Handmade, terpajang di mal bergengsi di Jakarta hingga mencuri perhatian di pasar busana di Bali. Sudah puaskah Lusi di usianya yang ke-40 itu?

Tidak Masalah Harga

Tepatnya tahun 2009, dengan bayi di kandungan, aku memutuskan pulang ke kampung. Mulailah di sana aku mendirikan studio tekstil dengan produk kecil-kecilan yang aku rintis sendiri. Malang, tentu jauh dibanding Jakarta. Walaupun sempat merasakan culture shock, namun dengan dukungan keluarga, akhirnya aku mulai merintis apa yang dicita-citakan.

Syukurlah, aku gemar jalan-jalan. Pertama kali aku tertarik dengan jenis kain berbahan dasar serat bambu, ya, saat aku melancong ke Tiongkok. Aku langsung ingin mengenal lebih dalam tentang kain ini. Sayangnya, di Indonesia belum kutemukan kain yang jenisnya sama.

Karena keingintahuan itu, mulailah aku mengimpor kain dari Tiongkok. Walaupun ongkos kain mahal, seorang pekerja seni tidak pernah mempermasalahkan harga demi apa yang mereka cintai.

Tapi yang lebih penting dari itu, aku mulai belajar membuat kain bambu. Hal yang pertama aku lakukan adalah mengeksplorasi benang katun dan spansil sutra di Malang. Kemudian membuat percobaan dengan benang yang lain. Aku memilih benang katun lokal, yaitu benang tuban yang sampai sekarang akan terus aku eksplor. Karena waktu itu aku sudah punya seorang anak, produk yang pertama kali kucetuskan adalah bahan rajutan yang khusus untuk bayi.

Menurutku, produk kain bambu memiliki banyak keuntungan. Mulai dari antibakteri, anti-statis, antibau, hipoalergenik, dan sangat cocok untuk anak pengidap alergi.

Tak lama kemudian, produk yang kubuat dapat berkembang sampai ke produk dewasa. Kali itu, partner pertamaku merupakan store

yang berada di Plaza Indonesia. Dengan mengusung nama Kait Handmade, kini produknya sudah mulai beragam. Mulai dari baju anak-anak hingga dewasa yang berasal dari kain bambu dan batik cap.

Menolak Nganggur

Aku tidak punya toko sendiri. Karena itu aku gencar bekerjasama dan membuat

website. Kini produk yang kami buat sudah sampai di Bali. Karena tidak ingin sukses sendiri, aku mencoba untuk memperkerjakan penghuni lapas wanita di Malang. Hal itu kulakukan karena faktanya 75 persen penghuni lapas bisa merajut.

Selain itu, aku membentuk Malang Patchwork and Quilts (MaPaQuilts) untuk mengajak ibu-ibu rumah tangga menolak

nganggur dengan berkarya memanfaatkan perca. Aku bersama teman-teman alumni Institut Kesenian Jakarta juga tergabung dalam Forum Kriya Kontemporer Indonesia (FKKI) yang saat ini lebih fokus untuk mengajak mahasiswa dan lulusan baru

menjadi start up di bidang kreatif. [Semua itu dirasa mudah buah Lusi? Oo, tidak. Karena, ia masih dan mungkin masih lama akan menghadapi tantangan yang tidak enteng. Dari masalah klasik SDM terampil yang semakin susah didapat, hambatan komunikasi dengan pengrajin beda kota, pemasaran produk

“handmade craft” yang tidak terlalu ramah, sampai akhirnya memberdayakan ibu-ibu purnabakti (lansia) yang masih ingin produktif, sehingga mereka mempunyai tambahan penghasilan dan dapat bekerja di rumah. Belum lagi, karena memilih target market menengah atas, proses pembuatan yang relatif lama, plus harga benang yang mahal, ia mengaku hanya meraih omset sekitar Rp10-15 juta per bulan. Lalu, apa yang sebetulnya dikejar Lusi?]

Passion dan tujuanku adalah membantu perekonomian orang-orang yang ada di sekitarku. Semua ini kulakukan dengan senang hati. Aku berharap dapat terus mengembangkan produk kain bambu ini tanpa mengimpor bahan dari Tiongkok lagi.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.