Rumah Makan Khusus Jengkol TEBAR NIKMAT TANPA BAU

Mencicipi lezatnya olahan semur, lada hitam, tongseng, yang tak lagi menggunakan daging sapi. Hingga ditutup dengan menyeruput kopi. Dan ternyata semua makanan dan minuman itu bahan dasarnya: jengkol.

Nova - - Ragam - BAGUS SEPTIAWAN FOTO: BAGUS, RICKY MARTIN

Hidangan jengkol sejatinya adalah makanan khas yang sangat menggugah selera. Tapi kadang, banyak juga yang kurang suka lantaran bau khas jengkol yang dianggap kurang sedap.

Berangkat dari situ, dua rumah makan ini hadir dengan pilihan menu serba olahan jengkol. Mereka ingin mengubah persepsi kebanyakan orang yang menyebut jengkol itu bau. Dengan menu yang disediakan, rumah makan ini menghadirkan nikmatnya ragam olahan jengkol tanpa bau.

Terletak di Jalan Banteng No.50, Lengkong, Kota Bandung, D’Jengkol Kapeh Restoh hadir dengan olahan serba jengkol yang siap menggoyang lidah penikmatnya.

Gunarsah, pengelola D’Jengkol Kapeh Resto bercerita, alasannya memilih jengkol sebagai menu utama di restorannya dilatarbelakangi karena keluarga yang mayoritas menyukai jengkol.

12 Varian Menu

“Sebetulnya jengkol adalah makanan yang sangat enak. Makanya kami sekeluarga suka. Lagipula makanan ini sehat. Dan kami ingin mengenalkan ke publik bahwa mereka juga bisa, kok, menikmati jengkol tanpa bau. Seperti tagline restoran kami, ‘Menebar Cintah Tanpa Bau Nagah’. Kalau enggak percaya, bisa mencicipinya langsung di restoran kami,” ucap Gunarsah saat ditemui pada Agustus lalu.

Rupanya Gunarsah tak mau hanya sekadar jualan. Makanya kualitas dan rasa jengkol di restoran ini sangat dijaga. Setiap menu jengkol di restorannya selalu menggunakan rempah-rempah khusus olahan keluarga. “Sehingga ketika jengkol sampai di mulut konsumen, baunya tak lagi ada. Yang tersisa hanya kenikmatan rasa. Begitupun pada urin, mudahmudahan tak bau,” tuturnya yang membuka restoran D’Jengkol sejak 2014 silam.

Untuk menarik pengunjung agar mau menikmati setiap olahan jengkolnya, Gunarsah memberikan nama unik pada 12 menu jengkol yang disajikan. “Konsep penamaan yang kekinian dibuat agar penikmat jengkol tak hanya datang dari kaum dewasa, melainkan kaum muda pun mau mencicipi makanan khas Indonesia ini.”

Selain itu, gaya penulisan pada setiap menunya juga unik. Di mana setiap kalimat dari nama menu jengkol yang berakhiran huruf vokal akan terdapat huruf ‘h’ di belakangnya.

“Itu ada artinya. Setiap orang Sunda jika mengucap kalimat berakhiran huruf vokal, kan, selalu ditambahkan huruf ‘h’. Nah, jika di D’Jengkol Kapeh Restoh setiap orang yang sering mengucap huruf ‘h’ di akhir kalimat tak perlu lagi takut mulutnya bau setelah mengonsumsi jengkol kami,” sautnya.

Tak lama kemudian, Gunarsah mempersilakan NOVA menikmati beberapa menu jengkol yang

paling laris dipesan pembeli. Yakni, rendang amajing dan mantab jiwah. “Sok atuh, dicicipi.” Dari luar, yang tercium hanyalah aroma bumbu rendang yang khas. Namun ketika dimakan, rasa khas gurih jengkol seakan melawan pekatnya bumbu. Empuknya jengkol pun ikut mempermudah konsumen saat memakan. Jadilah perpaduan sempurna yang kian menggugah selera makan.

Rendang amajing belum habis, jengkol mantap jiwah juga menanti untuk dicicipi. “Untuk yang doyan pedas, menu ini sangat cocok,” kata Gunarsah.

Memang terlihat, beberapa irisan cabai merah bertumpangtindih di atas tumpukan jengkol. Namun lagi-lagi, aroma khas jengkol tak muncul.

Biasanya, menurut Gunarsah, pelengkap makanan pengunjung saat menyantap menu jengkol adalah nasi bakar jengkol. Untuk menu ini, D’Jengkol Kapeh Restoh menyediakan empat varian. Yakni, nasi bakar semur, nasi bakar rendang, nasi bakar baladoh, dan nasi bakar mantap soul. Sebagai pelengkap nasi bakar, restoran ini juga menyiapkan sambal jengkol yang rasanya tak kalah lezat dengan lainnya.

“Karena buat kami, kepuasan pelanggan yang utama. Makanya untuk variasi menu, kami sering gonta-ganti setiap 3 bulan sekali. Daftar menu yang kurang laris, akan kami ganti dengan yang baru. Supaya pembeli mendapat penyegaran dan enggak bosan,’ ungkapnya.

Begitupun dengan kualitas jengkolnya. Gunarsah sampai harus mengimpor jengkol dari Jepara, Medan, dan Padang agar mendapat jengkol kualitas terbaik. “Kalau dasarnya sudah bagus, sampai ke olahan pun akan bagus,” jelas Gunarsah.

Untuk menikmati olahan jengkol di sini, pengunjung hanya cukup merogoh kocek Rp17-35 ribu. D’Jengkol Kapeh Restoh siap melayani pengunjung setiap hari dari jam sebelas pagi hingga delapan malam.

Selain di Bandung, rumah makan yang khusus menyediakan ragam olahan jengkol juga terdapat di Jakarta. Ya, Republik Jengkol namanya. Restoran khusus jengkol ini berlokasi di dua tempat. Pertama, terletak di Jalan Kerja Bakti No. 16B, Jakarta Timur. “Itu adalah restoran pertama kami,” ujar Fatoni, pemilik sekaligus salah seorang pengelola Republik Jengkol. Dan yang kedua, “Kami baru buka cabang baru di Jalan Raya Bogor, KM 24 No.27, Jakarta Timur.”

50 Kilogram Jengkol Sehari

Fatoni bercerita, awal mula dirinya terjun ke bisnis kuliner jengkol bukanlah suatu kesengajaan. Awalnya dari istrinya yang menyukai jengkol. Namun, karena tak kuat dengan baunya, Fatoni kerap melarang agar istrinya tak terlalu sering mengonsumsi. Bukannya mengurangi, sang istri malah secara sembunyi-sembunyi konsumsi jengkol.

“Meski sembunyi-sembunyi, tetap saja ketahuan lantaran bau urinnya di kamar mandi sangat tercium. Akhirnya aku tak tega lagi melarangnya. Karena kebetulan aku suka masak, kucarikan juga bagaimana caranya mengolah jengkol yang tepat agar tak lagi bau, baik saat dikonsumsi maupun setelahnya,” cerita Fatoni.

Eksperimen pun mulai dilakukan. Beberapa cara dicoba demi dapatkan hasil maksimal. “Begitu berhasil mendapatkan resepnya, istriku malah makin doyan. Begitupun orang di sekitar yang kusuruh mencicipi. Mereka suka karena selain enak, baunya pun tak ada. Sejak saat itu saya berpikir, kenapa enggak saya jual saja temuan cara mengolah jengkolku ini,” tambah Fatoni.

Dari situ, Fatoni mulai mendirikan Republik Jengkol. Dia mengakui, meski sudah lima tahun berdiri, menu andalan di restorannya tetap tak berubah. Yakni, jengkol lada hitam dan tongseng jengkol. Kini, dua menu andalan itu tersaji bersama tujuh menu lainnya.

Saat dihidangkan, sajian tongseng jengkol sangat menggugah. Bau jengkol seakan ‘tenggelam’ oleh aroma kuah tongseng. Saat dicicipi, barulah rasa gurih jengkol menyapa lidah. Daging jengkol pun terasa legit dan empuk. Rasa khas kuah tongseng bercampur irisan daging sapi, kol, tomat hijau dan merah, cabai, semakin menambah citarasa.

Tak ketinggalan juga dengan jengkol lada hitam. Ketika dicicipi, rasa pedas dan gurih seakan menempel di lidah. Namun terobati tatkala gigi mengunyah empuknya daging jengkol yang semakin menambah kenikmatan.

Kehebatan Fatoni dalam menyajikan variasi olahan jengkol belum selesai. Selain makanan, di Republik Jengkol juga tersedia minuman bernama kopi jengkol. Dari namanya, kita pasti bingung dan bertanya, seperti apa rasanya? Pertanyaan itu tak akan terjawab kalau tak menyicipinya langsung. Pekatnya hitam kopi bercampur rasa jengkol yang khas menanti siapa pun yang penasaran mencobanya.

Untuk menikmati ragam olahan jengkol di sini, pengunjung cukup merogoh kocek sebesar Rp10-27 ribu untuk setiap pilihan menunya. Seperti yang dirasakan Ani Rubianti. Wanita asal Bekasi ini mengaku sering berkunjung ke Republik Jengkol untuk menikmati sedapnya olahan jengkol milik Fatoni.

“Saya memang suka jengkol. Tapi tak suka dengan efek bau yang ditimbulkan setelah memakannya. Namun, begitu makan jengkol di sini, ketakutan akan baunya pun hilang. Saya sendiri membuktikan, ketika berbicara ataupun buang air, bau khas jengkol tak muncul,” ujar Ani yang sore itu datang bersama dua rekannya, menyantap menu nasi goreng jengkol dan tongsengnya.

Tak berbeda dengan restoran jengkol di Bandung, Republik Jengkol pun rutin mengganti menu yang kurang laris dengan menu baru setiap tiga bulan sekali. Dan untuk menjaga kualitas jengkolnya agar tetap legit, Fatoni pun memasok jengkol mentah dari Jepara dan Medan. Fatoni bercerita, dalam sehari dirinya membutuhkan 50 kilogram jengkol untuk pasokan di cabang baru Republik Jengkol. “Sedangkan di kios lama kita butuh 30 kilogram jengkol.”

Fatoni senang dengan larisnya ragam menu di Republik Jengkol. Karena selama ini, “Jengkol dinilai sebagai makanan yang bau. Tapi mudah-mudahan setelah mereka datang ke restoran kami, citra itu bisa hilang dan mulai mengenal jengkol sebagai makanan yang lezat,” pungkasnya.

Nah, berani coba?

Tongseng jengkol. Jengkol krispih ningrat. Nasi bakar jengkol. Menu andalan di D’Jengkol.

Suasana Pengunjung di Republik Jengkol.

Menu andalan di Republik Jengkol.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.