SANG RATU SUNGAI DARI YOGYAKARTA

Ia pernah dihujat “gila” sampai sibuk mengurusi kakus. Jika kita ingin menjaga salah satu tempat awalnya peradaban, kita perlu lebih banyak orang sepertinya.

Nova - - Profil - RUBIYA ALKHALIDA A/ENGKONG FOTO: BAYU

Saat memandang Sungai Winongo, senyum dan murung selalu bergantian menghiasi wajah Endang Rohjiani. Ia tersenyum, karena sangat meyakini sungai adalah kehidupan – sejak jaman purba – bahkan banyak peradaban lahir di sepanjang tepiannya.

Namun Endang bisa jadi sangat murung begitu ia melihat Sungai Winongo yang membelah Yogya begitu kotor. Sampah mengapung, bertebaran, dan airnya sungguh tak layak dipakai untuk apa pun juga tercemar.

Namun Endang tak hanya tinggal senyum, apalagi murung. Perempuan yang Februari lalu genap 45 tahun itu terjun ke sungai. Melepas sandal, dan entah melepas apa lagi. Tak peduli seberapa pun kotor air, dan tak menghiraukan pandangan sampai ucapan nyinyir sebagian orang. Hingga ia pun dijuluki: Ratu Winongo, dengan wilayah “kekuasaannya” yang membentang dari hulu hingga hilir Sungai Winongo, dari Jombor Sleman sampai Samas Bantul.

Mungkin julukan yang diberikan oleh warga Yogya yang tinggal di bantaran Sungai Winongo itu terasa berlebihan. Karena, citacita Endang sederhana saja. “Aku pengin sungai ini bersih dari sampah dan mengalir seperti zaman dulu,” katanya.

Sederhana itu cita-citanya? Tentu tidak.

DIHUJAT GILA

Endang yang gelisah, sungai yang dikenalnya sejak lama, sejak usia kecil tak lagi ramah. Padahal, meskipun berada di sisi barat atau timur, warga di situ sama-sama tinggal di pinggir sungai. Tapi yang terjadi, “Warga mulai tidak saling kenal lagi,” keluhnya.

Tanpa banyak bicara, apalagi merenung, Endang mengajak warga bergerak. Dengan tujuan mengembalikan kondisi sungai Winongo bisa seperti seperti dulu lagi. Saat itu, tahun 2008.

Gerakan yang dilakukan Endang bersama warga setempat, diawali dengan mengelola sampah. “Masalah sungai sangat erat dengan sampah,” jelasnya.

Tapi mengajak, apalagi mengedukasi warga masyarakat tidak gampang. Cemoohan, bahkan dihujat “gila” sempat mampir ke dirinya.

Namun Endang tak peduli. Toh ia sudah

telanjur “nyebur”. Kadung ingin berbakti.

“Dasare seneng organisasi, lalu memulai pengelolaan sampah mandiri di kampung. Tidak mau terikat lembaga lagi. Hidupku untuk masyarakat. Ada sekolah aku bikin PKBM Griya Mandiri, memulai anak kampung yang turun ke jalan, tapi akhirnya terkalahkan karena mengurusi Winongo,” ungkap Endang saat ditemui Nova, akhir Juli lalu.

Langkah Endang terus berlanjut. Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA), yang sama-sama dibangunnya menjadi kendaraan untuk menyosialisakan hidup bersih dan sehat di kawasan Sungai Winongo.

Demi warga agar paham betul dan mau aktif berpartisipasi, bersama forum itu ia rutin menggelar pertemuan dengan warga setiap 3 bulan sekali.

“Eman eman ada 11 kelurahan 54 RW saat itu, komunikasi terus dibangun, kalau tidak sudah bubar FKWA kemarin-kemarin,” ujarnya.

Kegigihan Endang dan organisasinya tak sia-sia. Pemerintah yang semula kurang peduli, mulai tergugah. Pemkot Yogya melalu Bappeda Kota mulai memberi bantuan untuk penataan kawasan.

Dan, hasil kerja mereka mulai terlihat dari perilaku masyarakat yang ada di bantaran sungai. “Kalau masyarakat sudah tahu apa yang dilakukan, dibiarkan sudah tahu maka akan lebih cepat,” kata ketua FKWA kota Yogya, tahun 2011 ini.

Urusan mengelola sampah di sungai, tentu belum tuntas digarap Endang dan temantemannya. Namun, ia juga mulai melirik masalah Mandi Cuci Kakus (MCK) milik warga di pinggiran sungai yang perlu segera diperbaiki.

Menurut Endang, program pemerintah sempat keliru. “Buang hajat di sungai, awal pencemaran Sungai Winongo,” ungkapnya.

Lantas, karena warga menggunakan air sungai untuk mandi sampai mencuci, program dirubah.

Tapi yang terjadi, justru kotoran dibuang ke sungai. Sehingga menurut Endang, membuat sungai semakin kotor. Sehingga program kakus atau MCK yang ditawarkan ke beberapa pemerintah dan institusi harus memiliki septik tank khusus. Sehingga limbah manusia tidak menuju ke sungai.

Hasilnya, beberapa MCK sudah tersebar di beberapa titik sepanjang bantaran sungai Winongo yang sepanjang hampir 50 kilometer itu.

OGAH POLITIK

Selama masih berurusan dengan sungai, perempuan ini sepertinya tak mengenal capek.

Belum selesai – dan tak pernah selesai – mengelola sampah, menangani masalah MCK di sungai, Endang lantas membuat sekolah sungai. Apa pula itu? Sekolah sungai itu diinginkannya, menjadi wadah untuk mengedukasi anak-anak dan pelajar agar tahu kualitas air sungai. Mulai dari pengamatan dengan metode biotilik yaitu dengan melihat biota yang ada di Sungai Winongo.

“Jika melihat banyak ikan berarti kualitas air di sungai itu masih bagus. Jika anak melihat banyak cacing pita merah berarti kualitas air sungai sudah tidak layak dan jelek,” ungkap Endang.

Sekolah sungai juga mengajarkan anakanak untuk mengukur debit mata air yang ada di pinggir sungai. Selain itu juga mengukur lebar sungai dan mengetahui limbah cair sampai ke isu sampah. Lewat metode biotilik ini diharapkan agar anak-anak dan pelajar mau menjaga sungai.

“Karena enggak gampang mengubah budaya, makanya salah satunya dengan sekolah sungai ini. Kalo dimulai dari anak anak diberitahu maka ada harapan menuju perubahan,” ujarnya.

Perubahan masyarakat kita untuk peduli, bahkan untuk menyayangi sungai entah kapan terwujudnya. Namun, warga bantaran Sungai Winongo kini mulai memiliki pandangan lain dalam melihat sungainya. Mereka jika ditanya, maka akan menjawab ingin menjadikan Sungai Winongo sebagai tempat wisata.

Endang tentu saja senang mendengar jawaban seperti itu. Karena sungai untuk wisata itu haruslah sungai yang bersih, dan tidak bersampah.

Hal lainnya, ia percaya dengan menjadi sungai sebagai obyek wisata, bisa mengangkat perekonomian warga.

Namun toh Endang masih menyimpan sedikit resah. Menurutnya, sungai memuat bermacam kepentingan dari beragam pihak.

“Pengelolaan Sungai Code dan Winongo tentu sangat berbeda. Jika di Code itu menggunakan pendekatan mitigasi tapi di Winongo justru menggunakan pendekatan masyrakat. Karena itu di FKWA tidak ada kepentingan politik apa pun,” tegasnya.

Hari ini, Sungai Winongo terlihat bersih. Di pinggiran sungai, tak banyak sampah yang menumpuk. Dan jika satu saat Anda mendayung, berwisata menyusuri sungai yang pernah kotor ini, ingatlah sesekali: pernah ada Endang Rohjiani yang pernah senyum dan murung di sana.

Endang saat berkordinasi dengan petugas kebersihan Sungai Winongo.

Program bersih sungai barong Fakultas Geologi UGM.

Acara tumpengan sesaat sebelum acara merti kali dimulai.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.