Teh dan Kopi

Nova - - Cerpen - Oleh Yuyun Suci Megawati

TKeduanya ersaji di hadapanku secangkir teh dan kopi.

mengepulkan uap hangat yang terlihat kontras dengan dinginnya udara sore ini. Aku memutuskan untuk singgah sebentar, sembari menunggu hujan reda.

Kupandangi bayang wajah yang tergambar jelas di permukaan cangkir teh, dan secara bergiliran ke permukaan cangkir kopi. Keduanya memantulkan bayang yang sama, namun komponen penyusun minuman ini sangat berbeda. Keduanya bisa memberikan efek semangat yang sama persis, namun dalam hal eksekusi tak ada sedikitpun persamaan. Teh membuat orang yang meminumnya merasa tentram, membiarkan orang itu menyelami perenungan hidup akan kedamaian. Puncaknya, lewat aliran melatonin yang memicu otak agar bisa rileks, berpikir jernih, dan tentunya lebih produktif.

Sedangkan kopi, memunculkan gairah dan semangat dengan cara yang unik. Kopi membawa pada batas limit dan mengajak kita untuk menerjangnya. Antara kantuk menjadi bugar kembali. Kafein memacu tubuh agar lebih bisa produktif, meskipun dengan cara yang lebih keras dari yang dilakukan secangkir teh.

Selain itu, teh dapat menyatu, berbaur dengan air panas yang menjerangnya. Tidak pernah mengendap, membuat garis batas tersendiri antara teh, gula, dan air. Semuanya menyatu, tanpa pandang bulu.

Sedangkan kopi, dengan air sepanas apapun kita menyeduhnya, kopi tetaplah kopi. Ketika suhu air sudah mulai turun, serbuk kopi yang tadi larut, bertahap mulai membentuk batas yang jelas, membentuk sebuah gradasi partikel dari yang paling ringan hingga yang terberat. Partikel dengan masa paling berat lah yang akan menduduki posisi terendah. Dan partikel yang menjadi dasar adalah kopi itu sendiri.

Mungkin bila dianalogikan, diriku seperti kopi dan teh. Dua sifat, namun ada dalam satu raga.

Keluarga membentukku menjadi pribadi seperti kopi. Terlihat introvert dengan imajinasinya, penuh ambisi, hingga tak menghiraukan batas limit dari tubuhku sendiri. Dan yang jelas, aku sekeras biji kopi, tak mudah larut dalam keadaan, meski sepahit apapun keadaan itu membuatku tersungkur.

Namun pemahaman yang kudapatkan selama ini lah yang membuat pribadiku melunak. Seperti wanita pada mestinya. Ada hal yang membuatku tentram ketika hidup dengan penuh kesederhanaan, hingga kesederhanaan itu melahirkan teori, bahwa kebahagiaan itu tak perlu dicari, dia hadir dalam penerimaan yang kita lakukan.

Sore ini, aku sengaja kabur dari deadline kantorku. Kuarahkan kendaraan menuju sudut kota, menikmati rintik hujan sore di café usang yang meninggalkan banyak kenangan. Melankolisme menggiring jiwaku untuk menjadi seorang pribadi berkarakter teh sore ini. Aku merindukan seseorang, yang ada di masa lalu.

Samar samar sosok itu membayang dalam kalbu, seakan menemaniku bercengkrama. Seperti yang dulu sering kita lakukan. Kesederhanaan itu menguar, mengendalikan kalbu agar bisa merefleksikannya lebih jelas lagi.

Dan kali ini, aku benar-benar bisa melihatnya duduk berseberangan satu meja denganku. Dia menyeruput kopi yang sudah kupesan.

“Apa kabar, Nania?” Mata bening itu mencoba mencari sesuatu yang tercermin dari raut wajahku.

“Aku baik, Nata. Kamu harus tau, bahwa aku sangat merindukanmu.”

Mataku berkaca kaca. Kerinduan ini tak terbendung. Tidak ada salahnya bukan, kalau aku merindukan laki-laki yang sudah satu dasawarsa lebih mengisi hatiku?

“Aku juga merindukanmu, Nania, namun beginilah pilihan yang harus kita jalani.”

Dia menyeka air mata yang bergulir lembut di pipiku. Dia selalu melakukannya.

“Aku mencintaimu, Nania, apakah masih ada kesempatan bagi kita untuk bersatu?”

Tangisku makin deras. Seketika itu juga pribadi ini berubah, menjadi pribadi setangguh kopi. Kuseka air mataku sendiri, kugenggam erat tangannya dan mencoba tersenyum manis.

“Masih bisa, Nata. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.”

Matanya terbelalak, terlihat dia ragu akan jawabanku. Namun kugenggam tangannya semakin erat, bukti bahwa aku yakin akan hal ini.

“Tapi bagaimana dengan Sena? Kau tidak mungkin meninggalkannya.”

“Tapi aku tidak mencintainya, Nata, sama sekali.”

Kali ini dia benar-benar meletakkan tanganku dan berdiri, beranjak pergi.

“Sena adalah orang yang dipilihkan oleh orang tua mu, Nania, kau tidak bisa menolaknya.”

* Seperti biasa, pagi ini Sena menghidangkan segelas teh yang masih mengepul beserta roti coklat. Dia berkalikali bilang, lebih baik memulai hari dengan perasaan tentram yang hadir dari menyeruput segelas teh wasgitel*. Rutinitas selalu berjalan seperti ini. Ketika jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, aku masih saja bergelung manja di dalam selimutku, memaksa Sena menyiapkan sarapan pagi sendiri. Tapi entah mengapa hatiku melunak pagi ini, kuseka wajah lelah Sena yang menungguiku semalam suntuk karena terkena flu akibat hujanhujanan saat mengumpulkan variabel penelitian. “Sini, Mas, aku suapi roti.” Sena melongok kearahku, mata nya berbinar ketika tanganku menyentuh lembut tangannya.

”Tidak, dik, roti itu untukmu. Kamu harus makan yang banyak, biar cepat sehat, biar kita bisa jalan ke pantai lagi seperti dulu.”

Orang seperti Sena hanya mencoba menuruti kata hatinya. Dan hatinya memilihku sebagai pelabuhan terakhirnya. Meskipun sifat ku yang keras dan belum bisa menerima nya sepenuh hati, namun dia tetap berusaha.

Lantas mengapa aku tidak bisa memiliki pilihan untuk mengikuti kata hatiku sendiri?

Dengan kepala yang masih berat aku memilih untuk beranjak dari ranjangku. Mengambil jaket dan segera memasukkan laptop kedalam ransel.

Aku nekad pergi ke pantai, meskipun Sena sudah mewanti-wantiku agar tidak bepergian jauh sebelum flu ku benar-benar sembuh. Namun, tanpa disadari, pantai lah yang menjadi obat paling mujarab di saat aku sakit.

Kupejamkan mataku, meski sekarang bulir air mata sudah menetes membasahi wajahku. Kurasakan hembusan angin membelai rambutku. Aku bisa merasakan hakikat kemerdekaan diri ini secara utuh, ketika aku tidak perlu ragu mendefinisikan diriku sendiri sebagai teh atau pun kopi. * Dan semua penat yang kulalui minggu ini selalu berhasil menyeretku kemari, ke sebuah sudut gelap di sebuah café usang dengan etalase kaca yang menghadap persis ke jalan raya.

Arsitektur café ini cukup menarik. Namun, bukan tentang ornamen atau arsitektur nya yang menarik—yang membuatku selalu ingin kembali ke tempat ini, namun hanya kenangan, gelas-gelas kopi dan teh nya yang menjadi daya tarik utama tempat ini.

Dan tentunya, bonus yang kudapatkan setiap berkunjung adalah, kesunyian. Entah itu sunyi yang membawa diriku untuk mencapai kemerdekaan diri yang seutuhnya, atau malah membawaku kembali kepada Nata—laki-laki yang kucintai sepenuh hati, namun tak bisa kumiliki.

Dari gelas kopi dan teh yang selalu rutin kupesan, aku selalu bisa melihat refleksi diriku di situ. Tidak perlu menjadi dua kepribadian dalam satu individu, namun aku bisa merasa menjadi pribadi yang utuh. Pribadi seperti teh, atau kopi.

Terlebih, aku selalu bisa bertemu Nata kembali di sini, mendengar setiap wejangan bijak yang diberikan olehnya tempo dulu. Seperti memutar kembali romansa masa lalu yang pernah kami lalui bersama, di mana aku memilihnya sendiri, murni dari hati kecilku.

Pandanganku menerawang kosong ke arah jalan raya, yang tersuguh lewat etalase kaca dihadapan kami.

“Aku ingin menjalani hidupku sesuai dengan kata hatiku sendiri, Nata, tidak dikendalikan oleh orang lain. Bukannya aku berhak atas kemerdekaan diriku sendiri?”

Nata mengangguk takzim. Seperti biasa, dia akan menyimak dengan seksama ketika aku berkeluh kesah.

“Aku tidak bisa menjadi dua pribadi sekaligus. Hampir aku tidak pernah punya pilihan untuk jalan hidupku. Aku terlalu dipaksa menjadi secangkir kopi, padahal hakikat nya aku hanyalah individu seperti segelas teh. Sederhana, tidak banyak menuntut.”

Kali ini tangisku pecah, luapan emosi tergambar sudah lewat bulir air mata yang mengalir deras tak terbendung lagi. * Yang terlihat di sekelilingku saat ini hanyalah ruangan serba putih dengan ornamen dinding berlapis keramik biru laut. Selain itu, hanya aroma kamper dan bau minyak wangi Sena yang tertangkap oleh inderaku.

Laki-laki bermata teduh, yang mencintaiku sepenuh hati ini terlihat lelah menungguiku. Tangannya menggenggam tanganku erat, seolah takut jikalau aku pergi dari pengawasannya. “Kamu sudah bangun, dik?” “Aku ada dimana sekarang, Mas?”

“Kamu ada di rumah sakit, dik, sudah-sudah kamu harus istirahat lagi, biar kamu bisa segera menyelesaikan penelitianmu.”

Aku mengelus rambut Sena yang lebat. Dia tampak mematung melihatku melakukan hal itu padanya.

“Mas, apa kau mendukungku agar bisa menjadi seorang peneliti?” “Tentu saja, dik.” “Berarti mas juga memperbolehkanku pergi keliling dunia untuk mencari objek penelitian, sembari travelling, kan?

Dia kembali mengangguk, senyum simpul menghias wajahnya yang teduh.

“Tapi bapak dan ibu pasti tidak menginginkannya, Mas. Aku harus jadi istri yang baik untuk Mas Sena.”

“Jangan bilang begitu, kamu bisa tetap menjadi seorang peneliti dan juga istri yang baik sekaligus, dik, aku berjanji akan membimbingmu selalu.”

“Baiklah, mas, kalau kita punya pilihan untuk menjelajah, kira-kira bumi sebelah mana kah yang akan mas datangi untuk pertama kalinya? Eropa? Atau timur tengah”

Sena tertawa renyah, dan baru kusadari bahwa keteduhan yang selalu tertangkap oleh indera penglihatanku selama ini, terpancar oleh karena ketulusannya yang murni.

“Bagaimana kalau Perancis, dik? Kita susuri Sungai Seine sama-sama.”

Entah mengapa kali ini hatiku dipenuhi beribu kebahagiaan yang hadir dari sosok selain Nata, dan baru kali ini aku mulai merasa lewat Sena lah, aku bisa mulai menjadi diriku sendiri. *** Sepulang dari rumah sakit, Bapak dan Ibu kembali mengunjungiku. Kali ini Sena bersikeras melarang mereka untuk mengomeliku seperti biasanya.

Sore itu, setelah lama bercengkrama denganku di dalam kamar. Bapak, Ibu dan Sena terdengar sedang berdikusi di taman belakang rumah.

Tanpa sepengetahuan mereka, aku ikutan menguping pembicaraan mereka dari balik kaca jendela.

“Saya memutuskan untuk membawa Nania ke Perancis, Pak, Buk. Dia harus mewujudkan mimpinya agar bisa jadi peneliti.”

Pernyataan itu membuat bapak, ibu dan juga diriku terkejut. Seakan darahku berdesir cepat mendengar keputusan Sena.

“Kenapa harus menjadi peneliti, Nak Sena? Tidak, Bapak tidak setuju, itu tidak sesuai dengan idealisme kami sebagai orang tua Nania.” Tandas bapak tegas.

“Bapak dan Ibu terlalu mengekang Nania, tak pernah sedikitpun Bapak dan Ibu memberikan pilihan hidup kepada Nania.”

“Kami memilihkan yang terbaik untuknya, Nak Sena.”

“Tapi bukan begini caranya, Pak, Buk. Nania stress gara-gara semua ini.” Nafasnya terengah-engah. “Nania kemarin ditemukan pingsan di Café dekat pinggiran kota, setelah sebelumnya dia sempat menceracau sambil terisak disana.”

Suaranya yang lantang membuatku mematung di balik jendela kaca. “Nania divonis mengidap skizofrenia, Pak, Buk.” Dan kali ini aku pun tersungkur, terduduk di balik jendela kaca dengan tanpa mengalihkan sedikitpun perhatianku terhadap mereka.

“Bapak dan Ibu tidak pernah memberikan kesempatan kepada Nania untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Kalau dari awal saya menyadari bahwa bukan dengan saya lah Nania bahagia, mungkin saya akan mundur teratur untuk mempersunting dia.”

Dan dari balik jendela kaca ini, aku mulai tersadar, bahwa cepat atau lambat aku akan segera mendapatkan kemerdekaan atas kehidupanku sendiri. Tidak perlu ragu lagi untuk menjadi pribadi seperti teh ataupun kopi.

ILUSTRATOR: JOKO SETYO PURNOMO

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.