Personal Branding di Kantor

Masih ingin naik jabatan? Tapi kenapa dengan OB saja kita masih malas memberi senyum tulus?

Nova - - Isu Spesial -

“Siapa menurut kalian yang pantas jadi manajer baru di divisi marketing kita?“tanya sang direktur kepada GM HR&D dan wakilnya.

“Menurut saya, Alicia, pak. Dia pintar, lulusan Amerika pula,” kata sang GM. “Kalau menurut saya sebaiknya mbak Ratih, pak,” kata sang wakil.

“Kenapa justru mbak Ratih?” sahut pak direktur.

“Mbak Ratih memang tak sepintar Alicia. Tapi dia selain paham betul dengan pekerjaannya, mbak Ratih bisa memimpin tim dengan baik. Orangnya juga jarang marah, selalu tesenyum ramah dan supel sama siapa saja pak,” tutur sang wakil.

“Tapi kan divisi ini butuh orang yang sangat pintar, yang smart gitu loh,” sahut pak GM.

Dari kisah atau illustrasi ini, tahukah Anda siapa yang akhirnya dipilih oleh pak direktur?

Jika percaya dengan khasiat personal branding, tentu kita akan memilih mbak Ratih.

“Menjadi biasa-biasa saja akan tidak mendapat perhatian. Setiap individu punya karakteristik berbeda. Jadi dengan membangun image tertentu atas diri kita, (berarti) kita membuat keunikan sendiri. To get public attention, to attract public,” ujar Yuliana F. Hartanto, pengajar dan pendiri Guru Grooming Indonesia.

Apakah Yuliana sama dengan kita

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.