WAKTUNYA TIDUR, NAK!

Bagaimana bila malam hari saat Anda ingin beristirahat, si kecil malah aktif? Padahal Anda harus bangun pagi keesokan harinya untuk bekerja.

Nova - - Anda & Anak -

“Ibu, aku masih belum ngantuk, aku masih ingin bermain. Temani aku, Bu!” ujar si kecil saat Anda menghantarkannya tidur malam. Walau hanya terdengar seperti rengekan, sebenarnya ini merupakan bentuk protes anak karena tidak mau tidur. Anakanak, khususnya pada usia prasekolah, memang sering mengalami permasalahan tidur seperti ini. Selain protes, masalah tidur yang paling sering terjadi adalah menangis di kasur, bangun tengah malam, menolak untuk tidur di kamarnya sendiri, dan bangun kembali setelah ditidurkan.

Banyak faktor yang bisa memengaruhi masalah tidur anak, seperti tidur siang yang terlampau lama dan rasa masih ingin bermain. Apalagi saat mereka baru bertemu dengan orang tua yang baru pulang kerja di waktu tidur mereka. Alih-alih tidur, main dengan orang tua dianggap lebih menarik. Padahal anak-anak harus memiliki waktu tidur yang pasti dan dapat diprediksi, karena rutinitas malam hari yang baik, akan membuat anak punya banyak energi untuk beraktivitas di esok harinya. Waktu tidur yang bermasalah akan menimbukan masalah yang tidak terduga kepada anak, seperti fisik yang melemah.

Menurut Astrid Wen, M Psi, Psikolog dari PION Clinician dan Theraplay Indonesia, mengenalkan anak dengan ritual tidur menjadi hal yang sangat penting. Ritual ini dilakukan untuk memberitahukan anak bahwa sudah waktunya untuk tidur. Ritual-ritual tersebut dapat berupa mematikan televisi, membacakan buku dongeng, mencuci kaki dan menggosok gigi, serta mengganti baju tidur.

Lalu, bagaimana jika anak menolak untuk tidur dan menangis?

“Anak nangis itu tidak apa-apa, yang penting kita sudah bawa dia ke situasi mau tidur, ritual tidur tersebut membantu anak untuk pindah dari situasi melek ke situasi tidur. Kalau diminta langsung ke tempat tidur, anak bisa menangis karena tidak nyaman. Tapi kalau ditemani, dibacakan buku dongeng, diselimuti, mencium pipinya, menemani sampai tertidur, anak akan merasa nyaman dan tidak akan nangis,” jelas Astrid.

Jadwal Konsisten

Agar anak bisa punya waktu tidur yang pasti, orang tua juga harus bantu anak supaya punya jadwal keseharian yang konsisten. Ketika anak sudah kenal dengan jadwal kesehariannya, anak akan terbiasa melakukan kegiatannya secara terstruktur. Misalnya pada pagi hari dia bangun untuk siap-siap pergi ke sekolah, siang hari pergi untuk tidur siang dan melakukan aktivitas bermain, lalu malam hari tidur tidak terlalu larut.

Jangan lupa, anak-anak prasekolah minimal memiliki waktu tidur selama 10 jam dalam sehari. “Anak-anak, kan, tidurnya 10 jam, jadi cek jadwal tidurnya agar waktu bangunnya bisa pas. Misalnya mau bangun jam 6 atau 5 pagi, berarti mereka harus tidur jam 7 atau 8 malam,” jelas Astrid.

Agar jadwal ini bisa konsisten, sebaiknya alarm,

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.