Tengkleng Yu Tentrem IDOLA PRESIDEN HINGGA RAJA

Tempatnya di gang perkampungan. Tapi diincar banyak orang, termasuk para raja dan Presiden Jokowi. Apa rahasianya?

Nova - - Ragam - FAJAR SODIQ FOTO: FAJAR SODIQ

Jika berkunjung ke Solo, jangan lupa mampir ke warung tengkleng Yu Tentrem. Tapi, jangan bayangkan tempatnya berukuran besar dan bisa menampung seratusan orang, karena warung ini hanya memanfaatkan ruang tamu ukuran 6 x 9 meter. Seandainya semua perabot difungsikan, ruangan itu bisa menampung sekitar 30 pembeli. Itu pun kadang masuk ke ruang keluarga atau menggelar tikar di teras rumah. Memang, pembeli seperti makan di rumah sendiri.

Di beberapa sudut ruangan terpampang foto Yu Tentrem dan suaminya. Yu Tentrem sendiri sudah meninggal sejak tiga bulan lalu. Kini yang meneruskan usahanya adalah anakanaknya, salah satunya adalah Winarno.

Tidak Prengus

Meskipun konsep warung terbilang sangat sederhana, cita rasa makanannya tak bisa dibilang sederhana. Tengkleng Yu Tentrem sangat khas. Tetelan dagingnya sangat empuk, kuahnya bening, tanpa megeluarkan bau prengus.

Winarno menjelaskan, proses memasak tengkleng resep olahan ibunya itu butuh waktu lama. Diawali dengan membersihkan tulang kambing muda, termasuk tengkoraknya. Gigi-gigi dari kepala kambing juga disikat. Setelah itu dibakar menggunakan tungku. Lantas tulang-tulang itu dikerik agar tidak ada bulunya. “Karena bulu-bulu ini yang membuat prengus hasil masakannya,” kata Winarno.

Tulang-tulang yang akan diolah menjadi tengkleng ini pun dipilah-pilah. Gajih atau lemak bakal dibuang. Lantaran, memasaknya lebih lama, daging-daging yang menempel di tulang pun terasa empuk. Jadi ketika memakannya, tidak harus menguras tenaga ekstra. “Untuk kuahnya, juga kita saring berkali-kali agar terlihat bening,” tambah Winarno.

Yu Tentrem menyajikan tengkleng biasa dan tengkleng tusuk. Begitu disantap, rasa kuahnya gurih, asam, pedas dan asin. Rasanya tidak enek dan cukup segar. Rasa nikmat itu berasal dari campuran belasan bumbu rempah seperti lengkuas, serai, kemiri, kunyit, bawang merah, bawang putih, daun salam, ketumbar, dan lengkuas.

“Bumbu-bumbu tersebut direbus bersama tulang kambing, termasuk bagian kepala kambing. Biar bumbunya meresap hingga ke tulang,” urai Winarno.

Kebersihan Sangat Dijaga

Sesuai dengan intisari memakan tengkleng yaitu menggerogoti sampai tulangnya, ini juga berlaku saat memakan tengkleng Yu Tentrem. “Cara memasak kami bisa diadu (bersih, red). Kami menerapkan prinsip di mana saya sendiri juga ikut makan tengkleng ini, jadi harus bersih masaknya,” jelas Winarno.

Tengkleng sendiri merupakan makanan rakyat. Sesuai dengan cerita orang tua zaman dulu, Winarno mengatakan jika makanan tengkleng ini menggunakan daging dan tulang sisa dari para bangsawan. “Kemudian oleh para rakyat biasa, daging sisa itu dimasak,” ucapnya.

Keluarga Presiden Jokowi juga kerap pesan tengkleng olahan Yu Tentrem. Tak hanya itu, setiap kali presiden pulang kampung, Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) yang bertugas juga selalu pesan tengkleng Yu Tentrem. “Keluarga Pak Jokowi juga pesan, tetapi kalau Pak Jokowi-nya setahu saya enggak suka tengkleng, sukanya sate kambing,” ungkap Winarno.

Selain presiden, tengkleng ini juga kerap dipesan Sri Sultan Hamengkubuwono X setiap kali Lebaran. “Kalau Sultan ada acara, pasti pesan di sini. Lalu pabrik gula Madukismo, jika ada prosesi giling tebu juga pasti pesan tengkleng sini,” tutur Winarno.

Awalnya Diundang Keluarga Cendana

Winarno menceritakan, usaha warung makan ini sudah dirintis sejak tahun 1980-an. Kala itu ibunya menjajakan tengkleng dengan jalan kaki, menjelajahi kampung terdekat. Dia ingat betul, saat dirinya masih SMP kerap ikut ibunya berjualan secara keliling.

“Kemudian pada tahun 1990-an, ibu berjualan manggrok (mangkal) di jalan dekat rumah. Jadi itu pembelinya makan tengkleng dengan menggunakan pincuk daun pisang. Dan laris sekali tengkleng buatan ibu saya,” kisah Winarno.

Beberapa tahun kemudian, ibunya memilih untuk berjualan di rumah. Dengan demikian, selain bisa menyediakan tempat untuk pembeli, juga bisa memasak untuk melayani pesanan dibawa pulang. “Pesananan tengkleng ibu saya termasuk laris,” ucap Winarno.

Nama tengkleng Yu Tentrem kian laris saat kuliner olahan ibunya itu dipesan Presiden Soeharto. Kala itu, Presiden Soeharto mantu putra bungsunya, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto yang menikah dengan keturunan darah biru Mangkunegaran, Tata Cahyani.

“Pesanan ke luar Solo menjadi yang pertama. Dan langsung dipesan Presiden Soeharto. Kami berempat, bersama dengan kakak dan ibu masak di Istana; di sana empat hari. Tengkleng ini sebagai makanan tamutamu pernikahan Mas Tommy,” ungkap Winarno.

Anak ketiga dari empat bersaudara ini masih ingat, bagaimana masakan ibunya bisa menggoyang lidah para tamu-tamu resepsi, termasuk orang-orang penting. Bahkan saking larisnya tengkleng, Presiden Soeharto telah menyediakan kambing satu truk untuk dimasak lagi. “Karena bumbu kami yang dibawa dari rumah sudah habis, jadi kami menolak tawaran itu,” kenang Winarno.

Presiden Soeharto bisa menjatuhkan pilihan tengkleng Yu Tentrem tak lepas dari seringnya olahan daging kambing ibunya dipesan keluarga Kalitan, Solo. Keluarga Kalitan merupakan keluarga dari almarhumah Tien Soeharto. “Saat ada acara-acara di sana (Kalitan, red), pesan tengklengnya di sini,” jelas Winarno.

Seiring dengan waktu, tengkleng Yu Tentrem tetap laris. Justru tengkleng ini lebih banyak dipesan ke luar kota. Dikemas menggunakan kuali, lalu ditutup daun pisang dan dibalut plastik, kemudian ditali. Tengkleng Yu Tentrem terlihat higienis.

“Setiap harinya kami menghabiskan 6-7 ekor kambing. Kami buka jam 10.00 WIB, paling jam 2 siang sudah habis,” kata Winarno.

Tengkleng Yu Tentrem menjadi favorit para pejabat. Sejak zaman Soeharto, banyak pejabat yang memesan hingga makan di tempat. Pejabat eselon di Kementrian kerap memesan tengkleng ini. Selain mereka, juga Pangdam dan pejabat di BUMN. “Ya ada yang pesan makan di sini dan dibawa pulang. Kalau mereka datang biasanya memang pesan dulu,” cerita Winarno.

Satu porsi tengkleng Yu Tentrem terbilang cukup terjangkau kantong, Rp35.000. Itu pun termasuk nasi, minuman es teh dan jeruk. “Itu masih ditambah kerupuk. Silakan makan kerupuk sepuasnya, kalau memang masih tersedia,” Winarno berpromosi.

Wah, penasaran mau coba!

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.